Tampilkan postingan dengan label Satuan Acara Penyuluhan (SAP). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satuan Acara Penyuluhan (SAP). Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Pendidikan Kesehatan Dalam Pengelolaan Diabetes Secara Mandiri (Diabetes Self-Management Education) Bagi Diabetisi Dewasa

A. Latar Belakang

Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol kadar gula darah. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh sekresi hormon insulin tidak adekuat atau fungsi insulin terganggu (resistensi insulin) atau justru gabungan dari keduanya. Secara garis besar DM dikelompokkan menjadi 2 tipe, yaitu : DM tergantung pada insulin (DM tipe-1) dan non-DM tergantung pada insulin (DM tipe-2) (Stevens, 2002). Perbedaan karakteristik paling mencolok dari penderita DM tipe-1 atau tipe-2 adalah umur saat terjadinya penyakit DM (Soewondo, 2006). Pada umumnya, DM tipe-1 terjadi pada seseorang dengan usia di bawah 40 tahun bahkan separuhnya didiagnosis pada usia kurang dari 20 tahun. Sebaliknya, DM tipe-2 sebagian besar didiagnosis pada usia di atas 30 tahun, separuh dari kasus baru DM tipe-2 terjadi pada kelompok umur 55 tahun atau lebih. Oleh karenanya, DM tipe-2 lebih dikenal sebagai penyakit DM yang menyerang kaum dewasa (Parmet, 2004).

Risiko DM meningkat sejalan dengan bertambahnya usia dan memiliki kontribusi yang besar terhadap morbiditas dan mortalitas seseorang (ADA, 1998). DM tipe-2 memiliki hubungan dengan mortalitas pada berbagai kelompok umur bahkan dua kali lipat dibandingkan populasi non-diabetes; umur harapan hidup akan menurun 5 sampai 10 tahun pada kelompok umur pertengahan (Poulsen, 1998). Bahkan menurut penelitian di Inggris, lebih dari 80% pasien berumur ≥ 45 tahun yang baru didiagnosis mengidap DM setelah 10 tahun diobservasi ternyata memiliki risiko komplikasi penyakit jantung koroner >5%, 73% (45% sampai 92%) memiliki penyakit hipertensi, dan 73% (45% sampai 92%) memiliki konsentrasi kholesterol >5 mmol/l (Lawrence et al., 2001).


DM disebut sebagai penyakit kronis sebab DM dapat menimbulkan perubahan yang permanen bagi kehidupan seseorang. Penyakit kronis tersebut memiliki implikasi yang luas bagi lansia maupun keluarganya, terutama munculnya keluhan yang menyertai, penurunan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas keseharian, dan menurunnya partisipasi sosial lansia. Perawat komunitas sejak awal dapat berperan dalam meminimalisasi perubahan potensial pada sistem tubuh pasien. Beberapa penelitian eksperimental memperlihatkan bahwa perawat mempunyai peran yang cukup berpengaruh terhadap perilaku pasien (Tagliacozzo D.M., et.al., 1974). Salah satu peran yang penting guna mendorong masyarakat terutama lansia adalah agar lansia dan keluarga mampu memahami kondisi lansia diabetisi sehingga dapat melakukan perawatan diri secara mandiri (self-care). Tulisan ini mencoba untuk membahas sebuah model pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri (Diabetes self-management education/DSME).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Meningkatkan pengertian dan kemampuan pengelolaan penyakit secara mandiri dalam kontrol metabolisme, mencegah komplikasi akut maupun kronis, serta mengoptimalkan kualitas hidup para lansia diabetisi dan keluarganya (Weerdt, Visser, & Veen, 1989; Clement, 1995).

2. Tujuan Khusus

  • Meningkatkan pengetahuan lansia diabetisi dan keluarganya tentang diabetes mellitus dan pengelolaannya (Padgett et al., 1988; Fernando, 1993).
  • Meningkatkan status psikososial lansia diabetisi dan keluarganya: kepercayaan dan sikap terhadap program pengobatan dan mekanisme koping (Padgett et al., 1988; Brown, 1990).
  • Meningkatkan perilaku sehat lansia diabetisi dan keluarganya: monitoring kadar gula darah secara mandiri, perencanaan makan (diet), latihan jasmani dan istirahat yang cukup, konsumsi obat hipoglikemik, dan menghindari rokok (Norris et al., 2002; Toobert, et al., 2003).

C. Diabetes Self-Management Education (DSME)

Beberapa penelitian mencatat bahwa 50–80% diabetisi memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang kurang dalam mengelola penyakitnya (Norris, Engelgau, & Narayan, 2001; Palestin, Ermawan, & Donsu, 2005), dan kontrol terhadap kadar gula darah ideal (HbA1c<7.0%)>

DSME merupakan proses pendidikan kesehatan bagi individu atau keluarga dalam mengelola penyakit diabetes (Task Force to Revise the National Standards,1995) yang telah dikembangkan sejak tahun 1930-an oleh Joslin Diabetes Center (Bartlett,1986). DSME menggunakan metode pedoman, konseling, dan intervensi perilaku untuk meningkatkan pengetahuan mengenai diabetes dan meningkatkan ketrampilan individu dan keluarga dalam mengelola penyakit DM (Jack et al., 2004). Pendekatan pendidikan kesehatan dengan metode DSME tidak hanya sekedar menggunakan metode penyuluhan baik langsung maupun tidak langsung namun telah berkembang dengan mendorong partisipasi dan kerjasama diabetisi dan keluarganya (Funnell et al.,1991; Glasgow & Anderson,1999).

Intervensi DSME diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan lansia diabetisi dan keluarganya tentang diabetes mellitus dan pengelolaannya (Padgett et al., 1988; Fernando, 1993) serta meningkatkan status psikososial lansia diabetisi dan keluarganya berkaitan dengan kepercayaan dan sikap terhadap program pengobatan dan mekanisme koping (Padgett et al., 1988; Brown, 1990). Menurut Badruddin et al. (2002), diabetisi yang diberikan pendidikan dan pedoman dalam perawatan diri akan meningkatkan pola hidupnya yang dapat mengontrol gula darah dengan baik. Badruddin et al. sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan kesehatan akan lebih efektif bila petugas kesehatan mengenal tingkat pengetahuan, sikap dan kebiasaan sehari-hari klien tersebut.

Selanjutnya, intervensi DSME yang dapat meningkatkan aspek kognisi dan afeksi diabetisi dan keluarganya secara simultan akan mempengaruhi peningkatan perilaku sehat diabetisi. Perilaku sehat tersebut terdiri dari monitoring kadar gula darah secara mandiri, perencanaan makan (diet), latihan jasmani dan istirahat yang cukup, konsumsi obat hipoglikemik, dan menghindari rokok. Hasil jangka pendek yang diharapkan adalah terkontrolnya tekanan darah (<140/90>

Skema 1. Kerangka pikir Model Diabetes Self-Management Education

Bentuk oval adalah intervensi, kotak dengan sudut lengkung mengindikasikan sebagai hasil antara, dan kotak dengan sudut lancip adalah hasil jangka pendek dan jangka panjang. Sumber : Norris SL, Nichols PJ,
Caspersen CJ, Glasgow RE, Engelgau MM, Jack L, et al. (2002)

Jack, et al. (1999) berdasarkan studi review sistematis selanjutnya menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan intervensi DSME dalam konteks komunitas, adalah : faktor komunitas, organisasi, lingkungan fisik, lingkungan sosial, dukungan sosial (keluarga dan jejaring sosial), dan faktor individu (psikologis, biomedis, dan perilaku) (lihat skema 2). Faktor-faktor komunitas, terdiri dari: sosial budaya, sumber daya masyarakat, dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Faktor organisasi yang berpengaruh yaitu pemerintah, sekolah, lembaga swadaya masyarakat, pelayanan kesehatan, dan swasta. Faktor lingkungan fisik terdiri dari lingkungan di dalam dan luar rumah, fasilitas publik, dan sarana transportasi. Faktor lingkungan sosial terdiri dari norma sosial, ekosistem, kondisi ekonomi, budaya setempat, dan kebijakan publik. Faktor dukungan sosial dari keluarga dan sosial. Faktor individu terdiri dari tiga aspek, yaitu kondisi psikologis, biomedis, dan perilaku.

Skema 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Diabetes Self-Management Education

C. Implikasi DSME dalam keperawatan komunitas

  1. Peran perawat komunitas adalah mendorong kemandirian lansia diabetisi dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pengelolaan DM sehingga keluhan dan gejala penyakit DM berkurang serta mencegah komplikasi akut dan kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit, kaki, dan sebagainya sehingga kualitas hidup lansia diabetisi lebih optimal.
  2. Intervensi keperawatan DSME pada kelompok khusus dapat diimplementasikan pada posbindu atau kelompok lansia diabetisi.
  3. Pendekatan komunikasi terapeutik dapat berperan sebagai pembangun struktur komunikasi yang terapeutik, sehingga klien akan mudah memahami dan melaksanakan program pengobatan yang telah direncanakan untuknya.
  4. Intervensi keperawatan DSME diberikan untuk menjaga stabilitas klien, ketersediaan sumber energi sistem, dan dukungan terhadap klien untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
  • Prevensi primer, antara lain deteksi dini DM maupun adanya risiko komplikasi DM, pemeriksaan teratur kadar gula darah secara mandiri, perawatan kaki, latihan kaki dan perencanaan makan (diet). Prevensi primer termasuk melakukan strategi promosi kesehatan bilamana faktor risiko telah terdekteksi namun reaksi klien belum muncul.
  • Prevensi sekunder, yaitu konsumsi obat hipoglikemik sesuai dosis pengobatan.
  • Prevensi tersier, yaitu latihan jasmani secara teratur, istirahat yang cukup, menghindari stress, dan menghindari rokok.

D. Penutup

1. Simpulan

Perawat komunitas memiliki peran yang penting guna mendorong masyarakat terutama lansia untuk mampu memahami kondisinya sehingga dapat melakukan perawatan diri secara mandiri (self-care) melalui intervensi DSME. Intervensi DSME berupaya untuk meningkatkan aspek kognisi, afektif dan ketrampilan pengelolaan DM lansia diabetisi dan keluarganya sehingga keluhan dan gejala penyakit DM berkurang serta mencegah komplikasi akut dan kronis sehingga diharapkan kualitas hidup lansia diabetisi dapat lebih optimal.

Pada tahapan ini, perawat komunitas perlu meningkatkan perannya dengan mengambil titik awal pada pemberdayaan kesehatan keluarga. Perawatan komunitas yang berfokus pada keluarga memiliki makna strategis dan berbagai manfaat, yaitu : meningkatnya tanggungjawab sektor publik terhadap peningkatan kesehatan komunitas (Weiner, 2000), pembiayaan perawatan di rumah lebih mudah dikendalikan (Cuellar & Weiner, 2000), serta perawatan berfokus pada keluarga lebih efektif dan bermanfaat bagi kesehatan komunitas (Weissert &amp;amp;amp;amp; Hedrick, 1994; Weissert et al., 1997; Breakwell, 2004).

2. Saran

  • Perawat komunitas perlu meningkatkan ketrampilan DSME dan komunikasi terapeutik untuk meningkatkan ketaatan lansia diabetisi dan keluarganya dalam pengelolaan diabetes.
  • Perawat komunitas perlu menentukan indikator keberhasilan intervensi DSME dalam lingkup keluarga maupun komunitas melalui performa aktivitas sehari-hari, pencapaian tujuan intervensi keperawatan, perawatan mandiri, adaptasi, dan partisipasi klien dalam kehidupan sosialnya.
  • Perawat komunitas harus mampu mengenal dan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan DSME di tingkat keluarga maupun komunitas.
  • Perawat komunitas harus mampu menggali dan mengelola kekuatan keluarga, sumber daya keluarga serta supra sistem keluarga dalam pelaksanaan DSME.

Referensi :

  1. Almatsier, S. (Ed). (2006). Penuntun Diet Edisi Baru Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  2. American Diabetes Association. (1998). Economic consequences of diabetes mellitus in the U.S. in 1997. Diabetes Care, 21:296–309.
  3. American Diabetes Association. (2001a). Standards of medical care for patients with diabetes mellitus (Position Statement). Diabetes Care, 24 (Suppl. 1):S33–S43.
  4. American Diabetes Association. (2001b). Tests of glycemia in diabetes (Position Statement). Diabetes Care 24 (Suppl. 1):S80–S82.
  5. Badruddin, N., Basit, A., Hydrie, M.Z.I., & Hakeem, R., (2002). Knowledge, Attitude and Practices of Patients Visiting a Diabetes Care Unit, Pakistan Jou of Nut, 1(2): 99-102.
  6. Bartlett, E. (1986). Historical glimpses of patient education in the United States. Patient Educ Counsel, 8:135–149.
  7. Breakwell, S. (2004). Connecting New Nurses and Home Care. Home Health Care Management & Practice, 16(2): 117-21.
  8. Brown, S. (1990). Studies of educational interventions and outcomes in diabetic adults: a meta-analysis revisited. Patient Educ Counsel, 16:189 –215.
  9. Clement, S., (1995). Diabetes self-management education. Diabetes Care, 18:1204–1214.
  10. Cuellar, AE & J. Weiner. 2000. Can Social Insurance for Long-Term Care Work? The Experience of Germany. Health Affairs 19(3): 8-25.
  11. Elshaw, EB, Young, EA, Saunders, MJ, McGurn, WC, Lopez, LC. (1994). Utilizing a 24-hour dietary recall and culturally specific diabetes education in Mexican Americans with diabetes. Diabetes Educ., 20:228-35. [PMID: 7851238]
  12. Feeley, N. & Gottlieb, L.N. (2000). Nursing Approaches for Working With Family Strengths and Resources. Journal Of Family Nursing, 6(1), 9-24.
  13. Fernando, D. (1993). Knowledge about diabetes and metabolic control in diabetic patients. Ceylon Med J 38:18 –21.
  14. Funnell, M., Anderson, R., Arnold, M., Barr, P., Donnelly. M., Johnson, P. (1991). Empowerment: an idea whose time has come in diabetes education. Diabetes Educ, 17:37–41.
  15. Glasgow, R., & Anderson R,. (1999). In diabetes care, moving from compliance to adherence is not enough: something entirely different is needed. Diabetes Care, 22:2090–2091.
  16. Harris, MI., Eastman, RC., Cowie, CC., Flegal, KM., & Eberhardt, MS. (1999). Racial and ethnic differences in glycemic control of adults with type 2 diabetes. Diabetes Care, 22:403–408.
  17. Jack Jr., L., Liburd, L., Spencer, T., & Airhihenbuwa, C.O. (2004).Understanding the Environmental Issues in Diabetes Self-Management Education Research: A Reexamination of 8 Studies in Community-Based Settings. Ann Intern Med., 140:964-971.
  18. Jack, L. Jr, Liburd, L., Vinicor, F., Brody, G., & Murry, VM. (1999). Influence of the environmental context on diabetes self-management: a rationale for developing a new research paradigm in diabetes education. Diabetes Educ., 25:775-7, 779-80, 782 passim. [PMID: 10646474]
  19. Lawrence, JM., Bennett, P., Young, A., & Robinson, AM . (2001). Screening for diabetes in general practice: cross sectional population study. BMJ, 323: 548-551.
  20. Mapanga, K.G. & Mapanga, M.B. (2004).A Community Health Nursing Perspective of Home Health Care Management and Practice. Home Health Care Management & Practice, 16(4): 271-279.
  21. Norris, S.L., Engelgau, M.M., & Narayan, K.M.V., (2001). Effectiveness of Self-Management Training in Type 2 Diabetes A systematic review of randomized controlled trials. Diabetes Care, 24(3): 561-587.
  22. Norris, S.L., Lau, J., Smith, S.J., Schmid, C.H., & Engelgau, M.M. (2002). Self-Management Education for Adults With Type 2 Diabetes A meta-analysis of the effect on glycemic control. Diabetes Care, 25:1159–1171.
  23. Norris SL, Nichols PJ, Caspersen CJ, Glasgow RE, Engelgau MM, Jack L, et al. (2002). Increasing diabetes self-management education in community settings. A systematic review. Am J Prev Med., 222(4 Suppl):39-66. [PMID: 11985934]
  24. Padgett, D., Mumford, E., Hynes, M., & Carter, R. (1988), Meta-analysis of the effects of educational and psycholosocial interventions on management of diabetes mellitus. J Clin Epidemiol, 41:1007–1030.
  25. Palestin, B., Ermawan, B., & Donsu, JDT. (2005). Penerapan Komunikasi Terapeutik Untuk Mengoreksi Perilaku Klien Rawat Jalan Dengan Diabetes Mellitus, Jurnal Teknologi Kesehatan 1(1): 1-10.
  26. Parmet, S., (2004). Weight Gain and Diabetes. JAMA, 292(8): 998.
  27. Stevens, LM. (2002). The ABCs of Diabetes. JAMA, 287(19): 2608.
  28. Soewondo, P. (2006). Hidup Sehat dengan Diabetes. Panduan bagi penyandang diabetes, keluarganya dan petugas kesehatan. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  29. Tagliacozzo D.M., Luskin D.B., Lashof J.C. & Ima K., Nurse Intervention and Patient Behavior, Am. Jou. Public Health 1974, Vol. 64 No. 6.
  30. Task Force to Revise the National Standards. (1995). National standards for diabetes self-management education programs. Diabetes Educ, 21:189–193.
  31. Thomas Mandrup­Poulsen. (1998).Recent advances Diabetes. BMJ, 316: 1221-1225.
  32. Toobert, D.J., Glasgow, R.E., Strycker, L.A., Barrera Jr., M., Radcliffe, J.L., Wander, R.C., & Bagdade, J.D.(2003). Biologic and Quality-of-Life Outcomes From the Mediterranean Lifestyle Program A randomized clinical trial. Diabetes Care,26:2288–2293.
  33. Weerdt, I., Visser, A., & Veen, E. (1989). Attitude behavior theories and diabetes education programmes. Patient Educ Counsel, 14:3–19.
  34. Weiner, J. (2000). Prediction: Long-Term Care in the Next Decade. Caring Magazine (June): 16-8.
  35. Weissert, W & SC Hedrick. (1994). Lessons Learned from Research on Effects of Community-Based Long-Term Care. Journal of the American Geriatrics Society 42: 348-53.
  36. Weissert, W, T Lesnick, M Musliner, & K Foley. (1997). Cost Savings from Home and Community-Based Services: Arizona’s Capitated Medicaid Long-Term Care Program. Journal of Health Politics, Policy and Law 22(6): 1329-57.
"

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)P) Pokok Bahasan : Abortus Insipien

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)P) Pokok Bahasan : Abortus Insipien

Sub Pokok bahasan : Pencegahan Abortus Insipien
Sasaran : Pasien RSUP xxx
Waktu : 30 Menit
Tempat : Ruang Obstetry Gynekologi.
Hari/tgl Pelaksanaan : Jumat, 06 November 2006
Jam Pelaksanaan : 13.00 WIB – 13.30 WIB

I. PENDAHULUAN
Perdarahan selama kehamilan dapat dianggap sebagai suatu keadaan akut yang dapat membahayakan ibu dan anak, sampai dapat menimbulkan kematian. sebanyak 20% wanita hamil pernah mengalami perdarahan pada awal kehamilan dan sebagian mengalami abortus. Hal ini tentu akan menimbulkan ketidakberdayaan dari wanita sehingga ditinjau dari suatu kesehatan akan sangat ditanggulangi untuk meningkatkan keberdayaan seorang wanita.
Ada beberapa keadaan yang dapat menimbulkan perdarahan pada awal kehamilan seperti imlantasi ovum, karsinoma servik, abortus, mola hidatidosa, kehamilan ektopik, menstruasi, kehamilan normal, kelainan lokal pada vagina/ servik seperti varises, perlukaan, erosi dan polip. Semua keaaaan ini akan menurunkan keberdayaan seorang wanita dan karenanya akan dijelaskan bagaimana cara-cara penanggulangannya seperti pencegahan, pengobatannya, maupun kalau perlu rehabilitasinya.
Maka semua wanita dengan peradarahan pervagina selama kehamilan seharusnya perlu penanganan dokter spesialis. Peranan USG vaginal smear, pemeriksaan hemoglobin, fibrinogen pada pada missed abortion, pemeriksaan incomptabiliti ABO dan lain-lain, sangat diperlukan.


II. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan diharapkan peserta didik dapat mengetahui tentang Abortus Insipien
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 kali pertemuan peserta didik dapat:
 Menjelaskan tentang pengertian Abortus Insipien
 Menjelaskan penyebab-penyebab dari Abortus Insipien
 Menjelaskan tanda dan gejala Abortus Insipien
 Menjelaskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan saat terjadi Abortus Insipien
 Menjelaskan komplikasi yang terjadi pada Abortus Insipien
III. SASARAN
Pasien RSUP Dr.Karyadi Semarang Ruang Obstetry Gynekologi
IV. TARGET
Peserta didik dapat mengetahui tentang pengertian, tanda dan gejala, pertolongan dan komplikasi pada abortus insipien
V. MATERI
1. Pengertian abortus insipien
2. Tanda dan gejala abortus insipien
3. penyebab terjadinya abortus insipien.
4. Pertolongan yang dapat dilakukan terhadap pasien abortus insipien
5. Pengetahuan tentang bahaya dan komplikasi abortus insipien
VI. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi
VII.MEDIA
1. Materi pangajaran
2. Leaflet
VIII. STRATEGI PELAKSANAAN
1. Waktu : Jumat, tanggal 06 November 2006
2. Tempat : Ruang Obstetri Gynekologi RSUP Dr. Karyadi Semarang
IX. SUSUNAN ACARA
No Tahap / Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1. Pra interaksi
5 Menit  Mengucapkan salam pembuka
 Memperkenalkan diri
 Menjelaskan maksud dan tujuan  Menjawab salam
 Mendengarkan
 Perkenalan
2. Interaksi
15 menit  Menjelaskan pengertian abortus insipien
 Menjelaskan penyebab dari abortus insipien
 Menjelaskan tentang tanda-tanda dan gejala abortus insipien
 Menjelaskan pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada abortus insipien
 Menjelaskan bahaya atau komplikasi abortus insipien
 Diskusi  Mendengarkan
 Memperhatikan
 Berdiskusi dengan mahasiswa (penyuluh )
3. Post interaksi
5 menit  Memberikan masukan
 Menyimpulkan hasil penyuluhan
 Mengevaluasi peserta didik
 Salam Penutup  Memperhatikan
 Memberi tanggapan
 Menjawab pertanyaan yang diajukan
 Menjawab salam penutup

X MATERI
( Terlampir)

XI. KRITERIA EVALUASI
Evaluasi Hasil
- Tes lisan : Diakhir ceramah
- Penilaian
System penilaian sesuai dengan masing-masing pertanyaan tiap nomor :1. Bila benar semua, nilai : 1
2. Bila benar semua, nilai : 5
3. Bila benar semua, nilai : 5
4. Bila benar semua, nilai : 5
5. Bila benar semua, nilai : 4
Jumlah nilai benar pada semua soal : 20 point
Klasifikasi penilaian
- Bila nilai benar : 0 – 5 : D : berarti tidak memahami
- Bila nilai benar : 6 – 10 : C : berarti kurang memahami
- Bila nilai benar : 11 – 15 : B : berarti cukup memahami
- Bila nilai benar : 16 -20 : A : berarti memahami / mengerti

XII. DAFTAR PERTANYAAN
1. Apakah yang disebut dengan Abortus insipien?
2. Apa penyebab dari abortus insipien?
3. Bagaimana tanda dan gejala terjadinya abortus insipien?
4. Apa tindakan–tindakan yang dapat diberikan pada pasien yang mengalami abortus insipien?
5. Komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami abortus insipien?
Materi
( Abortus Insipien )

A. Pengertian
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, yaitu sebelum usia kehamilan 28 minggu dan sebelum janin mencapai berat 1000 gram
Abortus insipien adalah abortus yang sedang mengancam di mana telah terjadi pendataran serviks dan osteum uteri telah membuka akan tetapi hasil dari konsepsi masih berada di dalam kavum uteri.

B. Penyebab
1. Kelainan ovum
Menurut Hertig dan kawan-kawan pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan, menurut penyelidikan mereka dari 1000 abortus spontan maka 48,9% disebabkan karena ovum yang patologis, 3,2% disebabkan oleh kelainan letak embrio dan 9,6% disebabkan karena plasenta yang abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili. Abortus spontan yang dikarenakan kelainan dari ovum berkurang kemungkinannya kalau kehamilan lebih dari 1 bulan, artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar kemuangkinan disebabkan oleh kelainan ovum
2. Kelainan genetalia ibu
Misalnya pada ibu yang menderita
 Anomaly kongital ( hipoplasia uteri, uterus bikornis, dll )
 Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata.
 Tidak sempurnanya persiapan fetus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesterone dan estrogen, endometriosis, mioma submukosa.
 Uterus terlalu cepat teregang ( kehamilan ganda, mola )
 Distorsia uteri misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis
3. Gangguan sirkulasi plasenta
Kita jumpai pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomaly plasenta, endarteritis oleh karena lucs
4. Penyakit-penyakit ibu
Misalnya :
Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tipoid, piellitis, rubella dan demam malta dsb.
Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alcohol dll.
Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemia gravis.
Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotyroid, kekuarangan vitamin A, C dan E, diabetes melitus
5. Antagonis resus
Pada antagonis rhesus darah ibu yang melalui pladsenta merussak darah fetus sehingga terjadi anemi pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus
6. Atropi korpus lutium lebih cepat atau factor serviks yaitu inkompetensi serviks, servisitas.
7. Rangsangan pada ibu-ibu yang menyebabkan uterus kontraksi umpamanya : sangat terkejut, obat-obatan uterotonika, ketakutan, laparotomi dll.
8. Penyakit bapak : umur lanjut, penyakit kronis seperti : TBC, anemi, dekompensasi kordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan, ( alkohol, nikotin, Pb dll ), sinar roentgen, avitaminosis.

C. Patologi
Pada permulaan terjadi pendarahan dalam desidua basalis diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruhnya hasil konsepsi terlepas karena dianggap benda asing maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya karena vili korealis belum menembus desidua basalis terlalu dalam, sedangkan pada kehamilan 8 – 14 minggu telah masuk agak dalam sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal karena itu akan banyak terjadi pendarahan.

D. Tanda dan gejala
Gejala utama-
1. Pendarahan pervagina, keluar gumpalan darah
2. Rasa mules atau keram perut, nyeri karena kontraksi rahim kuat
3. Pembukaan osteum uteri, Servile terbuka den teraba ketuban
Gambaran klinik
Apabila setelah abortus pendarahan makin banyak dan disertai rasa mules yang semakin sering semakin kuat dan semakin dirasakan sakit disertai dilatasi servik . Hasil konsepsi seluruhnya masih berada di dalam kavum uteri. Dengan semakin kuatnya kontraksi uterus serviks terbuka dan semakin banyak pendarahan dan pada suatu ketika hasil konsepsi terdorong keluar dari kavum uteri

E. Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam Pengeluaran hasil konsepsi pada abortus insipien )
1. Beri suntikan ergometrin 0,5 mg IM dan simpanlah apapun yang keluar dari vagina untuk ditunjukkan kepada dokter
2. Bila pendarahan sedikit, tunggu terjadinya abortus spontan yang berlangsung 36 jam.kasih morfin bila perlu untuk menghilangkan rasa sakit dan relaktan servik
3. Segera lakukan pengosongan uterus apabila kehamilan kurang dari 12 minggu Pengosongan uterus dapat dilakukan dengan kuret vakum atau cunam abortus disusul kerokan ( Pengeluaran hasil konsepsi dapat diinduksi terlebih dahulu dengan pitosin drip atau dilatasi dengan laminaria ).
4. Beri oksitosin 10 unit dan dekstrose 5% 8 tets/menit
5. Rujuk ke rumah sakit untuk pengosongan kavum uteri
6. Beri suntikan ergometrin 0,5 mg IM untuk mempertahankan kontraksi uterus

F. Komplikasi
 Anemi oleh karena perdarahan
 Perforasi karena tindakan kuret
 Infeksi
 Syok pendarahan atau syok endoseptik
Resusitasi cairan hendaknya dilakukan terlebih dahulu dengan NaCl atau RL disusul transfusi darah.

G. Hal – hal yang harus diperhatikan ibu hamil saat terjadi pendarahan pada trimester I
1. Jika pendarahan sedikit seperti bercak-bercak darah pada saat menstruasi maka dianjurkan untuk ibu hamil untuk istirahat tirah baring
2. Jika perdarahan semakin lama semakin banyak maka lebih baik periksakan ibu ke rumah sakit karena kemungkinan terjadinya abortus sangat tinggi


"

SAP : PIJAT BAYI

SAP : PIJAT BAYI
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
POKOK BAHASAN :
PIJAT BAYI

A. Latar Belakang
Tanpa disadari ketika memandikan bayi, mengeringkan tubuhnya dengan menggosok punggungnya, atau bermain-main dengan cara memijat kakinya, sebenarnya banyak rangsangan yang dilakukan padanya.
Memberikan rangsangan pada bayi memang banyak caranya. Salah satu diantaranya melalui pijatan (stroking). Pijat merupakan bentuk ideal untuk merealisasikannya, sebab saat memijat bayi, ibu ”melatih” dirinya untuk lebih engenal bayinya. Dengan memijat bagian demi bagian tubuh bayi secara lembut, ibu belajar mengenali tubuh dan bahasa tubuh bayinya secara individual. Dari sini akan diketahui pijatan mana yang menyenangkan bagi bayi dan mana yang tidak disukainya. Lama-lama kita akan menjadi lebih terampil dan percaya diri dalam mengurus bayi.

Dikalangan masyarakat Indonesia, ilmu pijat bayi tradisional sudah lama dikenal, dam sampai saat ini di daerah-daerah masih sering dilakukan oleh dukun pijat bayi. Ilmu pijat bayi umumnya mudah dipelajari dengan beberapa kali latihan, orang tua akan mahir melakukannya. Selain itu pijat bati juga mudah karena hanya menggunakan minyak (baby oil).

B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Umum:
Setelah akhir proses pembelajaran para peserta mampu memahami tentang pijat bayi.
Tujuan Khusus:
Setelah mengikuti proses pembelajaran selama 30 menit, peserta mampu :
1. Menyebutkan tentang pengertian pijat bayi.
2. Menyebutkan kontra indikasi pijat bayi.
3. Menyebutkan manfaat pijat bayi..
4. Menjelaskan persiapan melakukan pijat bayi.
5. Menjelaskan cara melakukan pijat bayi.

C. Sasaran
Seluruh ibu-ibu nifas yang datang ke Puskesmas Srondol.

D. Target
Ibu-ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan-7 bulan.

E. Pengorganisasian
Moderator : Wiwik Widiastutik
Penyaji : Dwi Asliwanti
Fasilitator : Indrwati
Observer : Asrin Nikmah


F. Strategi Pelaksanaan
Waktu : 1 Maret 2006
jam 09.00 – 09.30 WIB.
Tempat : Ruang tunggu Puskesmas Srondol
Kegiatan belajar mengajar :
1. Perkenalan
2. Menjelaskan tujuan
3. Menjelaskan materi
4. Diskusi dan tanya jawab
5. Evaluasi





G. Susunan Acara
1. Pembukaan oleh moderator selama 5 menit
2. Acara inti :
a. Penyuluhan kesehatan & demonstrasi pijat bayi oleh mahasiswa 15 menit.
b. Diskusi dan tanya jawab 5 menit.
3. Penutup dan doa 5 menit

H. Metode
1. Ceramah tentang konsep preeklampsia.
2. Diskusi dan Tanya jawab

I. Media
1. Leaflet
2. Pantom/boneka bayi
3. Baby oil & handuk

J. Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara lisan :
1. Menyebutkan tentang pengertian pijat bayi.
2. Menyebutkan kontra indikasi pijat bayi.
3. Menyebutkan manfaat pijat bayi..
4. Menjelaskan persiapan melakukan pijat bayi.
5. Menjelaskan cara melakukan pijat bayi.

PIJAT BAYI

A. PENGERTIAN
Pijat bayi adalah terapi sentuhan kulit dengan menggunakan tangan. Ini memang bukan hal baru lagi, walaupun pengaruh positif pijat bayi ini belum diyakini benar. Sentuhan pada kulit bayi melalui seni pijat ternyata dapat meningkatkan produksi ASI. Penelitian ”Cynthia Mersmann” membuktikan bila bayi dipijat, produksi ASI perah ibunya akan lebih banyak. Jadi pijat dapat meningkatkan lamanya pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja. Pijat bati dipercaya dapat meningkatkan stimulus otaknya, membantu pertumbuhannya, memperlancar system pencernaannya, bahkan membantu system kekebalan tubuhnya. Juga dapat membina hubungan antara ibu dengan bayinya.

B. KONTRA INDIKASI
a. Jangan dilakukan pada bayi yang suhu tubuhnya tinggi
b. Jangan dilakukan pada bayi yang sedang sakit

C. MANFAAT PIJAT BAYI
1. Mampu meningkatan daya taha tubuh bayi.
2. Membuat bayi tidur lebih nyenyak dan lelap.
3. Meningkatkan kesiagaan untuk mudah balajar sesuatu.
4. Memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan.
5. Merangsang fungsi pencernaan dan pembuangan sisa-sisa makanan.
6. Meningkatkan kenaikan berat badan.
7. Membuat bayi lebih tenang.
8. Mengurangi kembung dan sakit perut.
9. Meningkatkan hubungan batin antara orang tua dan bayi.



D. HAL-HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN
1. Atur temperetur ruang memijat bayi, jangan sampai bayi kedinginan saat dibuka bajunya.
2. Letakkan bayi di tempat yang aman.
3. Ketikan akan memijat perhatikan tangan dan jari pemijat, jangan sampai jari-jari tangan pemijat yang kasar menggores kulit bayi yang lembut dan peka.
4. Buka cincin dan gelang ketikan akan memijat bayi, selain lebih nyaman juga tidak membahayakan.
5. Pada saat akan mengoleskan minyak, teteskan minyak di telapak tangan pemijat dulu baru kemudian dioleskan ke bayi.

E. PEMIJATAN BAYI
1. KAKI & TANGAN
a. Perahan India
Lakukan dari pangkal paha/pundak ke pergelangan kaki/tangan.
b. Perahan Swedia
Lakukan dari pergelangan kaki/tangan ke paha/pundak
c. Telapak kaki/tangan
Buat urutan di telapak secara bergantian mulai dari tumit ke arah jari
d. Jari-jari
Gerakan dilakukan dengan memijat jari-jari dan diakhiri dengan tarikan lembut pada setiap jari
e. Punggung Kaki/tangan
Dengan ibu jari secara bergantian, urutlah punggung kaki/tangan dari pergelangan keki/tangan ke jari kaki/tangan.
f. Gerakan menggulung
Menggulung dari pangkal paha/pundak sampai kepergelangan kaki/tangan dengan kedua telapak tangan.
g. Gerakan akhir
Rapatkan kedua kaki dan usapkan bersamaan
2. PERUT
a. Mengayuh pedal sepeda
Gerakkan kedua tanga bergantian dari perut atas ke bawah
b. Menekuk lutut dan tekan menuju perut, bisa juga dengan cara bergantian tekuk ke perut
c. Bulan Matahari
Tangan kanan membentuk lingkaran dari arah perut kanan bawah (sesuai arah jam); kemudian tangan kiri mengikuti dengan lingkaran bulan.
Bentuk lingkaran searah jarum jam dari tangan kiri mulai dari perut kanan bawah, kemudian diikuti dengan tangan kanan membuat gerakan setengan lingkaran mulai dari perut kanan bawah sampai perut kiri bawah.
d. i love you
”i” Buat gerakan membentuk huruf ”i” dari perut kiri atas ke bagian kiri bawah.
”love” Pijat dimulai dari kanan atas lalu ke kiri bawah membentuk huruf ”L” terbalik
”you” Pijat dimulai dari kanan atas, lalu ke kiri sampai ke perut kiri bawah membentuk huruf ”U” terbalik
e. Gelembung Udara
Tekan searah jarum jam dari kanan bawah ke kiri bawah

3. DADA
Pijatan ”kupu-kupu” memperkuat paru paru dan jantung
Letakkan kedua tanag pamijat di tengan dada bayi dan gerakkan ke atas kemudian ke sisi luar tubuh dan kembali ke ulu hati tanpa mengangkat tangan seperti membentuk hati, lalu dari tengan dada bayi pijat menyilang ke arah bahu seperti membentuk kupu-kupu.


4. PUNGGUNG
Pijatan ”maju mundur” memperkuat otot untuk menyakgga tulang belakang.
Pijat dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan ke sepanjang punggungnya, luncurkan salah satu telapak tangan dari leher sampai pantat bayi dengan sedikit tekanan. Dengan jari-jari pemijat buat gerakan-gerakan melingkar terutama pada otot di sebelah tulang punggung. Buat gerakan memanjang dengan telapak tangan dari leher ke kakinya untuk mengakhiri pijatan.
5. WAJAH
Pijatan ”senyum” melemaskan otot wajah
a. Tekan jari-jari pemijat pada kening bayi, pelipis dan pipi.
b. Gunakan kedua jari untuk memijat daerah di atas alis.
c. Dengan tekanan lembut, tarik garis dengan ibu jari dari hidung ke arah pipinya.
d. Gunakan kedua ibu jari untuk memijat sekitar mulutnya hingga tersenyum.
e. Pijat lembut rahang bawah bayi dari tengah ke samping seolah membuat bayi tersenyum.
f. Pijat secara lembut daerah di belakang telinga ke arah dagu.

PENUTUP

Bayi adalah sosok tubuh kecil, mungil dan imut, oleh sebab itu kita selalu ingin menyentuhnya, dan ingin mencintai dan menyayanginya. Untuk mewujudkan rasa cinta dan sayang ini salah satunya dengan memberikan perhatian. Perwujudan perhatian kita salah satunya dengan memberikan pijatan. Karena dengan pemijatan ini dapat membantu bayi dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Pijatan pada bayi akan lebih memberikan kesempatan kepada ibu untuk mengenali bayinya, mengerti bahasa tubuh bayinya secara individual, pijatan bayi inipun dapat membantu bayi untuk mengenal dan beradaptasi dengan dunia luar yang serba baru dan asing baginya, dan juga lebih meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayinya.
Pijatan pada bayi memberikan banyak manfaat, seperti hal di atas, untuk itu para orang tua harus banyak mengetahui cara pemijatan bayi dengan cara yang baik dan benar agar tidak memberikan suatu kesalahan. Begitu pula dengan perawat, harus mengetahui teknik pemijatan bayiyang berguna untuk penyuluhan bagi masyarakat awam yang balum paham akan pemijatan bayi selain itu juga bermanfaat saat kita mempunyai seorang anak.

DAFTAR PUSTAKA
Ayah bunda no.23, tanggal 7-20 September 1996. memijat bayi sentuhan kasih.

Ayah bunda no.3, tanggal 13-26 Pebruari 1996. cara tepat pijat bayi.

Roesti, Utami. 2004. Bayi segat berkat Asi Ekskisif. PT. Elex Media Komputindo, Keluarga Gramedia, Jakarta
"

SAP : PERAWATAN PAYUDARA

SAP : PERAWATAN PAYUDARA
Pokok Bahasan : Perawatan Payudara
Sub Pokok Bahasan : Perawatan Payudara pada ibu masa nifas
Hari / Tgl : 1 April 2009
Waktu : 30 Menit
Sasaran : Ibu-ibu nifas di ruang obstetri
Tempat : Ruang B3 Obstetri

A. Tujuan Instruksional Umum
Ibu mengetahui tentang perawatan payudara pada masa menyusui

B. Tujuan Instruksional Khusus
Ibu mengetahui tentang :
1. Pengertian perawatan payudara
2. Manfaat perawatan payudara
3. Cara melakukan perawatan payudara
4. Keuntungan menyusui
5. Tanda – tanda menyusui yang benar
Ibu dapat mendemonstrasikan cara perawatan payudara
Ibu mempunyai kemauan untuk melakukan perawatan payudara


Kegiatan Pengajaran
NO TAHAP KEGIATAN MEDIA
1. Pembukaan
5 menit Perkenalan
Menjelaskan tujuan
Apersepsi dengan cara menggali pengetahuan yang dimiliki ibu menyusui tentang perawatan payudara saat menyusui
2. Pelaksanaan
20 menit Menjelaskan materi dan demonstrasi tentang perawatan payudara ibu menyusui.
 Ibu memperhatikan penjelasan tentang perawatan payudara ibu menyusui
 Ibu menanyakan tentang hal-hal yang belum jelas Alat peraga
Leaflet





3. Penutup
5 menit Menyimpulkan materi
Mengevalusi ibu menyusui tentang materi yang telah diberikan
Mengakhiri pertemuan

C. Media
Alat Peraga : handuk besar, handuk kecil, waslap, baskom berisi air hangat dan air dingin, bengkok dan minyak kelapa.
Leaflet
D. Metode
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

E. Evaluasi
1. Standart Persiapan
a. Menyiapkan materi penyuluhan
b. Menyiapkan tempat
c. Menyiapkan alat peraga
d. Menyiapkan leaflet
2. Standart Proses
a. Membaca buku referensi tentang perawatan payudara ibu menyusui
b. Memberi penyuluhan dan mendemonstrasikan perawatan payudara ibu menyusui
3. Standart hasil
a. Ibu mampu mengetahui tentang pengertian perawatan payudara ibu menyusui
b. Ibu mampu mengetahui tentang manfaat perawatan payudara ibu menyusui
c. Ibu mampu mengetahui tentang cara melakukan perawatan payudara
d. Ibu mampu mengetahui tentang keuntungan menyusui
e. Ibu mampu mengetahui tanda – tanda menyusui yang benar

F. Pustaka
1. P. Hadi, dkk, pelatihan paramedis tingkat nasional dalam peningkatan pemanfaatan ASI dan rawat gabung di rumah sakit, jakarta, perinasia, 1988.
2. S. Ruli, dkk, Menyusui dan rawat gabung, jakarta, perinasia, 1992.
3. S. Ruli, dkk, Melindungi meningkatan dan mendukung menyusui, jakarta, perinasia, 1994.

G. Lampiran
1. Materi
2. Leaflet

PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU MASA NIFAS

PENDAHULUAN
Bidan sebagai petugas kesehatan dituntut kemampuannya untuk ikut bertanggungjawab dalam melaksanakan upaya peningkatan dan penggunaan air susu Ibu (ASI). Sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak melalui program pemasyarakatan ASI, maka perawat juga dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen laktasi. Hal ini berarti perawat harus mampu berperan sebagai pendukung dan inovator yang akan membentuk perilaku masyarakat dalam mengembangkan kesehatan pada umumnya dan penggunaan ASI pada khususnya.
Mengingat banyak terjadi perubahan perilaku dalam masyarakat khususnya ibu – ibu yang cenderung menolak menyusui bayinya sendiri terutama pada ibu – ibu yang bekerja dengan alasan air susunya hanya sedikit atau tidak keluar sama sekali, keadaan ini memberikan dampak negatif terhadap status kesehatan, gizi, serta tingkat kecerdasan anak. Oleh karena itu untuk menanggulangi permasalahan diatas perlu dilakukan upaya preventif dan promotif dalam meningkatkan penggunaan ASI dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan payudara ibu menyusui, sehingga membantu pengeluaran ASI secara lancar.
A. Pengertian
Perawatan payudara adalah suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar.
B. Manfaat Perawatan Payudara
Menjaga kebersihan payudara, terutama kebesihan putting susu agar terhindar dari infeksi Melunakkan serta memperbaiki bentuk putting susu sehingga bayi dapat menyusu dengan baik Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi asi lancer Mengetahui secara dini kelainan putting susu dan melakukan usaha-usaha untuk mengatasinya
Persiapan psikis ibu menyusui
C. Cara melakukan perawatan payudara ibu menyusui
1. Persiapan alat
Alat yang dibutuhkan :
 Handuk
 Kapas
 Minyak kelapa / baby oil
 Waslap
 2 Baskom (masing-masing berisi air hangat dan dingin )
2. Prosedur pelaksanaan;
 Buka pakaian ibu
 Letakkan handuk diatas pangkuan ibu dan tutuplah payudara dengan handuk.
 Buka handuk pada daerah payudara.
 Kompres putting susu dengan menggunakan kapas minyak selama 3-5 menit.
 Bersihkan dan tariklah putting susu keluar terutama untuk putting susu yang datar.
 Ketuk-ketuk sekeliling putting susu dengan ujung-ujung jari.
 Kedua telapak tangan dibasahi dengan minyak kelapa
 Kedua telapak tangan diletakkankan diantara kedua payudara
 Pengurutan dimulai kearah atas, samping, telapak tangan kiri kearah sisi kiri, telapak tangan kanan kearah sisi kanan
 Pengurutan diteruskan kebawah, samping, selanjutnya melintang, telapak tangan mengurut kedepan kemudian dilepas dari kedua payudara.
 Telapak tangan kanan kiri menopang payudara kiri, kemudian jari-jari tangan kanan sisi kelingking mengurut payudara kearah putting susu.
 Telapak tangan kanan menopang payudara dan tangan lainnya menggengam dan mengurut payudara dari arah pangkal ke arah putting susu.
 Payudara disiram dengan air hangat dan dingan secara bergantian kira-kira 5 menit ( air hangat dahulu)
 Keringkan dengan handuk
 Pakailah BH khusus untuk ibu menyusui (BH yang menyangga payudara).
3. Keuntungan menyusui
Bayi akan memperoleh makanan yang terbaik yaitu ASI Praktis, tidak merepotkan karena ibu tidak harus menyediakan minum untuk bayi, seperti mengencerkan susu, menghangatkan susu, mencuci alat-alat minuman dan lain-lain
Tidak memerlukan biaya karena ibu tidak perlu membeli susu untuk bayi serta alat-alat yang diperlukan seperti : botol alat pengencer dan lain-lain
Menyusu dapat mempererat hubungan kasih sayang antara ibu dan anak
4. Tanda-tanda menyusui yang benar
Bayi cukup tenang
Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara ibu
 Seluruh areola tertutup mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Putting susu ibu tidak terasa nyeri
 Posisi ibu menyusui duduk, berbaring, berdiri dan digendong
5. Cara menyusui yang benar
Sanggalah payudara dengan keempat jari pada tangan yang tidak menyangga bayi dan ibu jari dibagian atas bantulah bayi menemukan putting.
D. Soal
1. Jelaskan pengertian perawatan payudara ?
2. Jelaskan manfaat perawatan payudara ?
3. Sebutkan salah satu keuntungan menyusui ?
4. Sebutkan bahan-bahan yang diperlukan untuk merawat payudara?

"