Tampilkan postingan dengan label jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jiwa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2008

DEMENSIA PADA PENYAKIT ALZHEIMER

Demensia merupakan istilah umum untuk berbagai penyakit dan kondisi yang menyebabkan hilangnya memori yang progresif dan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas harian. Penyakit ini merupakan penyakit dengan penurunan kemampuan kerja dari otak. Istilah demensia meliputi gejala-gejala seperti : gangguan dalam berfikir, menilai, berbahasa dan kemampuan dalam melakukan aktivitas harian secara normal. Demensia juga dikaitkan dengan masalah-masalah emosional dan perilaku, seperti : depresi, kecemasan, halusinasi, paranoia dan tingkah laku sosial yang tidak patut seperti sumpah serapah, menimbun barang-barang, berkelana dan pola tidur yang berubah.

Demensia terdiri dari gejala-gejala gangguan kognitif global yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran, akan tetapi bergandengan dengan perubahan tabiat yang dapat berkembang secara mendadak atau sedikit demi sedikit pada tiap dari semua golongan usia, terutama dari golongan usia yang tua. Demensia sendiri harus dibedakan dari proses menua yang normal. Pada proses menua normal, pasien mungkin mengalami gangguan fungsi kognitif tetapi tidak progresif dan tidak menyebabkan gangguan fungsi pekerjaan dan sosial.

Pasien dengan demensia biasanya nanti dibawa ke rumah sakit oleh keluarga, pengasuh atau polisi bila mengeluh pasien telah berkeliaran, bingung, perilaku yang tak wajar, agresif, depresif, cemas dan perilaku yang didorong wahamnya.

Penyebab paling umum dari demensia adalah penyakit Alzheimer yang merupakan dua per tiga dari keseluruhan kausa demensia. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit dengan onset yang lambat dan gradual. Pertama kali menyerang bagian otak yang mengontrol memori dan selanjutnya bagian otak lain yang mengatur fungsi intelektual, emosional dan tingkah laku, sehingga seringkali disertai sindrom-sindrom perilaku seperti psikosis, agitasi dan depresi.

Penyakit Alzheimer ini biasanya timbul antara umur 50 dan 60 tahun. Terdapat degenerasi korteks yang difus pada otak di lapisan-lapisa luar terutama di daerah frontal dan temporal. Atropi ini dapat dilihat pada pneumo-ensefalogram dimana tampak sisterna ventrikel membesar serta banyak hawa di ruang subarakhnoid (giri mengecil dan sulkus-sulkus melebar).

EPIDEMIOLOGI
Penyakit Alzheimer mengenai sekitar 5 juta orang di Amerika Serikat dan lebih dari 30 juta orang di seluruh dunia. Peningkatan jumlah penderita penyakit Alzheimer di negara-negara industri adalah seiring dengan peningkatan angka harapan hidup usia tua yang kian pesat di negara-negara tersebut. Beberapa hal yang berkaitan dengan epidemiologi :

a. Faktor Demografi
Insiden demensia meningkat sesuai umur, dimana mengenai 15-20 % individu di atas usia 65 tahun, dan 45 % di atas usia 80 tahun. Berdasarkan gender, terdapat perbedaan frekuensi etiologi dimana untuk pria terdapat angka yang tinggi untuk demensia yang disebabkan oleh kelainan vaskular dibanding yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer. Secara keseluruhan frekuensi demensia adalah sama pada wanita dan pria, meski beberapa studi menunjukkan bahwa resiko untuk terkena Alzheimer adalah lebih tinggi pada wanita dibanding pria oleh karena hilangnya efek neurotropik dari estrogen pada wanita di usia menopause.

b. Tren
Secara dramatis, peningkatan angka harapan hidup juga meningkatkan angka penyakit demensia. Mereka yang memiliki keluarga dekat yang menderita demensia, memiliki kecendruangan lebih tinggi untuk terkena demensia dibandingkan populasi lainnya. Dan mereka yang menderita Down Syndrome cenderung untuk terkena Demensia Alzheimer suatu saat nanti.

GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang berkaitan dengan defisit kognitif multipel antara lain :
a. Gangguan memori, termasuk ketidakmampuan untuk mempelajari informasi yang baru atau me-recall informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
b. Gangguan berbahasa (aphasia).
c. Gangguan dalam kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik meskipun fungsi organ motorik masih utuh (apraxia).
d. Gangguan dalam mengenali objek, meskipun fungsi organ sensorik masih utuh. (agnosia).
e. Gangguan dalam kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan, berpikir sekuensial dan abstrak (gangguan fungsi eksekutif).

Dalam perjalanannya, penyakit Alzheimer dapat dibagi dalam 3 fase meliputi :

1. Fase awal (Ringan).
Pada tahap ini pasien mulai mengalami kehilangan memori maupun fungsi kognitif lainnya, tapi pasien masih dapat mengkompensasinya dan masih dapat berfungsi secara normal dan independen dengan sedikit pertolongan. Sikap apati dan kecenderungan menarik diri yang merupakan gambaran di semua fase, mulai timbul di fase ini. Ciri-cirinya :
a. Gangguan Kognitif dan memori :
• Bingung, lupa nama dan kata-kata dan menghindar berbicara untuk mencegah kesalahan.
• Mengulang pertanyaan dan kalimat.
• Lupa kisah hidup mereka sendiri dan peristiwa yang baru terjadi.
• Kurang mampu untuk mengorganisasikan dan merencanakan sesuatu serta untuk berpikir logik.
• Menarik diri dari lingkungan sosial dan tantangan-tantangan mental.
• Disorientasi waktu dan tempat ; dapat tersesat di tempat-tempat yang familiar.
b. Gangguan berkomunikasi mulai timbul :
• Mulai mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka sendiri.
• Kadang tidak mampu untuk berbicara dengan benar meski masih dapat berespon dan bereaksi terhadap apa yang dikatakan kepada mereka ataupun terhadap humor yang dilontarkan.
• Mengalami kesulitan untuk memahami bahan bacaan
c. Perubahan kepribadian mulai timbul :
• Apatis, menarik diri dan menghindari orang lain.
• Cemas, agitasi dan iritabel.
• Tidak sensitif terhadap perasaan orang lain
• Gampang marah terhadap hal-hal yang mendatangkan frustasi, rasa lelah, ataupun kejutan.
d. Perilaku yang aneh mulai timbul :
• Mencari dan menimbun benda-benda yang tidak berharga.
• Lupa makan secara teratur ataupun hanya makan satu jenis makanan saja.

2. Fase menengah (sedang).
Gambaran utama dari fase ini adalah penurunan fungsi dari berbagai sistem tubuh pada saat yang bersamaan dan membuat ketergantungan pada orang lain yang merawat menjadi meningkat. Gangguan kognitif dan memori makin memberat, kepribadian mulai berubah dan masalah-masalah fisik mulai meningkat. Muncul sikap agresif, halusinasi dan paranoid.

Ciri-cirinya :
a. Gangguan Kognitif dan memori yang signifikan:
• Lupa kisah hidupnya sendiri dan peristiwa yang baru terjadi..
• Mengalami kesulitan untuk mengingat nama dan wajah teman dan keluarga. Tapi masih dapat membedakan wajah yang familiar dengannya dari yang tidak dikenalnya.
• Masih mengingat nama sendiritapi kesulitan untuk mengingat alamat dan nomer telefon..
• Tidak dapat berpikir logik secara jernih. Tidak dapat mengatur pembicaraan mereka sendiri Tidak dapat lagi mengikuti instruksi oral maupun tulisan. Masalah keuangan dan aritmetika semakin meningkat..
• Terputus dari realitas. Tidak mengenal diri sendiri di depan cermin dan dapat menganggap suatu cerita di televisi sebagai suatu kenyataan..
• Disorientasi cuaca, hari dan waktu..
b. Gangguan berkomunikasi :
• Mengalami kesulitan dalam berbicara, memahami, membaca dan menulis.
• Mengulang-ulang cerita, kata-kata, pertanyaan dan bahasa tubuh.
• Masih dapat membaca tapi tidak berespon dengan tepat terhadap materi bacaannya.
• Kesulitan menyelesaikan kalimat
c. Perubahan kepribadian mulai signifikan :
• Apatis, menarik diri, curiga, paranoid (seperti menuduh pasangan berhianat atau anggota keluarga ada yang mencuri).
• Cemas, agitasi dan iritabel, agresif dan mengancam
• Halusinasi dan delusi muncul. Dapat melihat, mendengar, mencium dan mengecap sesuatu yang tidak nyata.
d. Perilaku aneh yang timbul :
• Perilaku seksual yang menyimpang (seperti : menganggap orang lain sebagai pasangannya dan bermasturbasi di depan umum)
• Berbicara sendiri. (hampir sepertiga hingga setengah penderita alzheimer berbicara sendiri)
• Perubahan siklus tidur yang normal ( terjaga sepnajang malam, tidur sepanjang siang)
e. Peningkatan dependensi :
• Dapat makan sendiri, tapi butuh bantuan untuk makan dan minum yang cukup
• Membutuhkan bantuan untuk berpakaian yang sesuai dengan cuaca atau situasi
• Membutuhkan bantuan untuk menyisir rambut, mandi, sikat gigi, dan menggunakan toilet.
• Tidak dapat lagi ditinggalkan sendiri dengan aman (dapat meracuni diri sendiri, membakar diri sendiri).
f. Penurunan kontrol sadar :
• Inkontinensia uri dan feses.
• Tidak merasa nyaman duduk di kursi atau di toilet.

3. Fase Lanjut (berat).
Pada fase ini dapat dijumpai kemunduran kepribadian, gejala kognittif dan fisik memberat. Tingkah laku yang liar di fase awal perkembangan penyakit berubah menjadi lebih tumpul. Beberap ciri khasnya :
a. Kognitif dan memori yang makin memburuk :
• Tidak mengenali lagi orang yang familiar, termasuk istri dan anggota keluarga yang lain.
b. Kemampuan komunikasi benar-benar lenyap :
• Tampak merasa tidak nyaman. Tapi dapat berteriak bila disentuh ataupun bergerak.
• Tidak mampu untuk tersenyum dan berkata-kata, atau berbicara cengan inkoheren.
• Tidak dapat menulis dan memahami material bacaan.
c. Kontrol sadar terhadap tubuh hilang :
• Tidak dapat mengontrol gerakan, otot-otot terasa kaku.
• Inkontinensia urin dan fecal komplit.
• Tidak dapat berjalan, berdiri, sit up, ataipunmengangkat kepala tanpa bantuan orang lain.
• Tidak dapat menelan makanan dengan mudah, sering tersedak .
d. Dependensi komplit terhadap orang lain :
• Membutuhkan bantuan di segala aktivitas hidupnya.
• Membuthkan perawatan sepanjang waktu.
e. Penurunan dearajat kesehatan yang bermakna :
• Sering terjadi infeksi, kejang-kejang, penurunan berat badan, kulit menjadi tipis dan gampang luka serta adanya refleks-refleks abnormal.
f. Tubuh melemah :
• Menolak makan atau minum, berhenti kencing, tidak dapat berespon terhadap lingkungan.
• Hanya dapat merasakan dingin dan rasa tidak nyaman, serta hanya berespon minimal terhadap sentuhan.
• Kelelahan dan tidur yang berlebihan.
• Organ-organ sensoris tidak berfungsi lagi ; bila organ sensoris masih berfungsi, otak tidak mampu menerima input.
g. Perubahan kepribadian :
• Apatis, menarik diri.
• Kepribadian yang tumpul.
h. Perilaku yang aneh :
• Menyentuh sesuatu benda berulang-ulang.

PATOFISIOLOGI
Patologi anatomi dari Penyakit Alzheimer meliputi dijumpainya Neurofibrillary Tangles (NFTs), plak senilis dan atropi serebrokorteks yang sebagian besar mengenai daerah asosiasi korteks khususnya pada aspek medial dari lobus temporal.

Meskipun adanya NFTs dan plak senilis merupakan karakteristik dari Alzheimer, mereka bukanlah suatu patognomonik. Sebab, dapat juga ditemukan pada berbagai penyakit neurodegeneratif lainnya yang berbeda dengan Alzheimer, seperti pada penyakit supranuklear palsy yang progresif dan demensia pugilistika dan pada proses penuaan normal. Distribusi NFTs dan plak senilis harus dalam jumlah yang signifikan dan menempati topograpfik yang khas untuk Alzheimer. NFTs dengan berat molekul yang rendah dan terdapat hanya di hippokampus, merupakan tanda dari proses penuaan yang normal. Tapi bila terdapat di daerah medial lobus temporal, meski hanya dalam jumlah yang kecil sudah merupakan suatu keadaaan yang abnormal.

Selain NFTs dan plak senilis, juga masih terdapat lesi lain yang dapat dijumpai pada Alzheimer yang diduga berperan dalam gangguan kognitif dan memori, meliputi : (1) Degenerasi granulovakuolar Shimkowich (2) Benang-benang neuropil Braak , serta (3) Degenerasi neuronal dan sinaptik.

Berdasarkan formulasi di atas, tampak bahwa mekanisme patofisiologis yang mendasari penyakit Alzheimer adalah terputusnya hubungan antar bagian-bagian korteks akibat hilangnya neuron pyramidal berukuran medium yang berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian tersebut, dan digantikan oleh lesi-lesi degeneratif yang bersifat toksik terhadap sel-sel neuron terutrama pada daerah hipokampus, korteks dan ganglia basalis. Hilangnya neuron-neuron yang bersifat kolinergik tersebut, meneyebabkan menurunnya kadar neurotransmitter asetilkolin di otak. Otak menjadi atropi dengan sulkus yang melebar dan terdapat peluasan ventrikel-ventrikel serebral.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Penyebab dari Alzheimer masih belum diketahui secara pasti, tapi perpaduan berbagai faktor resiko diduga sebagai penyebabnya. Faktor-faktor tersebut antara lain :

- Bertambahnya usia, riwayat keluarga yang positif, dan cedera kepala.
- Toksin dari lingkungan.
- Stres, kecemasan dan sikap pesimis yang berlebihan.
- Genetik :
- Lipoprotein E-epsilon 4 yang rapuh dan gampang mengalami mutasi.
- Protein prekursor amiloid (APP) pada kromosom 21.
- Trisomi kromosom 21 (down’s syndrom). Pasien dengan sindrom down cenderung terkena alzheimer onset dini pada usia di atas 30 tahun.
- Gen presenilin I yang terdapat di kromosom 14. Mutasi pada gen inilah yang berkaitan erat dengan Alzheimer familial.
- Gen presenilin II pada kromosom 1. Mutasi pada gen ini berkaitan erat dengan penyakit Alzheimer yang terjadi pada penduduk di daerah sungai Volga, Rusia.

PEDOMAN DIAGNOSIS
Pasien kemungkinan terkena demensia akibat Penyakit Alzheimer bila memenuhi kriteria untuk demensia dan memiliki perjalanan penyakit yang gradual dan bertahap. Meskipun untuk diagnosis yang pasti haruslah dengan konfirmasi secara histopatologi atau melalui pemeriksaan postmortem, kriteria berikut ini cukup memadai untuk menegakkan diagnosis.

Berdasarkan PPDGJ – III pedoman diagnostik untuk demensia :
• Adanya penurunan kemampuan daya ingat dan daya piker yang sampai mengganggu kegiatan harian seseorang (personal activities of daily living) seperti : mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri, buang air besar dan kecil.
• Tidak ada gangguan kesadaran (clear consciousness)
• Gejala dan disabilitas sudah nyata untuk paling sedikit 6 bulan.


Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer (F00.) :
• Terdapatnya gejala demensia
• Onset bertahap (insidious onset) dengan deteriorasi lambat. Onset biasanya sulit ditentukan waktunya yang persis, tiba-tiba orang lain sudah menyadari adanya kelainan tersebut. Dalam perjalanan penyakitnya dapat terjadi suatu taraf yang stabil (plateau) secara nyata.
• Tidak adanya bukti klinis, atau temuan dari pemeriksaan khusus yang menyatakan bahwa kondisi mental itu dapat disebabkan oleh penyakit otak atau sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia (misalnya hipotiroidisme, hiperkalsemia, defisiensi vitamin B12, defisiensi niasin, neurosifilis, hidrosefalus bertekanan normal, atau hematoma subdural).
• Tidak adanya serangan apoplektik mendadak, atau gejala neurologik kerusakan otak fokal seperti hemiparesis, hilangnya daya sensorik, defek lapangan pandang mata, dan inkoordinasi yang terjadi dalam masa dini dari gangguan itu (walaupun fenomena ini di kemudian hari dapat bertumpang tindih).

Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer Onset Dini (F00.0) :
• Demensia yang onsetnya di bawah 65 tahun
• Perkembangan gejala cepat dan progresif (deteriorasi)
• Adanya riwayat keluarga yang berpenyakit Alzheimer yang merupakan faktor yang menyokong diagnosis tetapi tidak harus dipenuhi.
Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer Onset Lambat (F00.1) :
• Sama tersebut di atas, hanya onset sesudah 65 tahundan perjalanan penyakit yang lamban dan biasanya dengan gangguan daya ingat sebagai gambaran utamanya.
Pedoman diagnostik untuk Demensia pada penyakit Alzheimer, tipe tak khas atau campuran (atypical atau mixed type) (F00.2) :
• Yang tidak cocok dengan untuk F00.0 atau F00.1 Tipe campuran adalah Demensia Alzheimer + Vaskuler.
Selain itu , untuk yang tidak terklasifikasikan digolongkan dalam penyakit Alzheimer YTT (F00.9).

DIAGNOSIS BANDING
Demensia harus dibedakan dari proses menua normal, delirium dan depresi. Pada proses menua biasa, pasien mungkin mengalami gangguan fungsi kognitif, tetapi tidak progresif dan tidak menyebabkan gangguan fungsi pekerjaan dan sosial. Pada delirium, onsetnya cepat, akut dan seringkali dengan kesadaran yang naik turun. Meskipun demikian, pasien dengan demensia seringkali gejalanya bertumpang tindih dengan delirium dan depresi. Berikut perbandingan demensia, delirium, dan depresi dengan gangguan kognitif (pseudodemensia) :

Gambaran

Demensia

Delirium

Pseudodemensia

Umur

Riwayat

Awal

Lamanya

Perjalanan

Taraf kesadaran

Orientasi

Afek

Alam pikiran

Daya Ingat

Persepsi

Psikomotor

Tidur

Atensi & kesadaran

Reversibilitas

Biasanya lansia

Kronik

Lambat laun

Berbulan-bulan/bertahun-tahun

Kronik progresif

Normal

Intak pd awalnya

Labil tapi tidak cemas

Turun jumlahnya

Jgk pendek dan jgk panjang terganggu

Halusinasi jarang (kecuali fase berat)

Normal (kecuali fase berat)

Sedikit terganggu

Sedikit terganggu

Umumnya ireversibel

Tak spesifik

Akut

Cepat

Berhari-hari/berminggu-minggu

Naik turun

Naik turun

Terganggu,periodik

Cemas dan iritabel

Sering terganggu

Jgk pendek terganggu secara nyata

Halusinasi (terutama visual)

Retardasi, agitasi ,atau campuran

Terganggu

Amat terganggu

Sering reversibel

Tak spesifik

Gangguan afek

Samar

Berhari-hari/berminggu-minggu

Cepat

Distress

Apatis

Depresi

Turun jumlahnya

Agak terganggu

Kadang-kadang

Apatis

Terganggu

Apatis

Reversibel



Demensia pada Alzheimer juga berbeda dengan demensia akibat kelainan vaskuler, dimana pada kelainan vaskuler akan disertai gejala fokal (seperti defisit fungsi sensoris dan motoris fokal) pada tahap yang dini.

TERAPI
Pendekatan terapi pada penyakit Alzheimer didasarkan pada teori yang berkembang sesuai patogenesis dan patofisiologis penyakit dan kebutuhan untuk memperbaiki gejala-gejala kognitif dan tingkah laku yang mengalami gangguan, meskipun hingga saat ini belum ada terapi yang benar-benar secara meyakinkan mencegah Alzheimer ataupun memperlambat perjalanannya.
Terapi medis untuk Alzheimer meliputi :
 Obat-obatan Psikotropik dan intervensi perilaku
 Berbagai intervensi farmakologis dan perilaku dapat memperbaiki gejala klinik penyakit Alzheimer, seperti : kecemasan, agitasi dan perilaku psikotik, yang memang pendekatan terbaiknya adalah secara simptomatis saja. Obat-obatan ini sangat berguna meski keefektifannya sedang dan bersifat sementara saja dan tidak mampu untuk mencegah perkembangan penyakit dalam jangka waktu yang lama.
 Intervensi perilaku meliputi pendekatan patient centered ataupun melalui pelatihan tenaga yang siap memberikan bantuan perawatan terhadap pasien. Intervensi-intervensi ini dikombinasikan dengan farmakoterapi seperti penggunaan anxiolytic untuk anxietas dan agitasi, neuroleptik untuk keadaan psikotiknya dan anti depressan untuk keadaan depresinya.
 Beberapa obat psikotik yang dianjurkan untuk digunakan oleh banyak praktisi adalah : haloperidol, risperidone, olanzapine dan quetiapine. Obat-obatan ini diberikan dalam dosis minimal yang masih efektif untuk meminimalisir efek samping, oleh karena sebagian besar pasien adalah mereka yang berusia lanjut.
 Cholinesterase Inhibitors (ChEIs).
 Strategi yang digunakan secara luas untuk mengatasi gejala-gejala alzheimer adalah mengganti kehilangan neurotransmitter asetilkolin di korteks serebri. Seperti diketahui, pada penyakit Alzheimer terdapat kehilangan yang substansial dari asetilkolin, penurunan jumlah enzim asetiltransferase (enzim untuk biosintetis asetilkolin) dan hilangnya neuron-neuron kolinergik di daerah subkortikal (nukleus basalis dan hippokampus).yang memiliki serabut projeksi ke korteks.
 Observasi ini menghasilkan teori bahwa manifestasi klinis dari alzheimer timbul sebagai akibat dari hilangnya persarafan kolinergik ke korteks serebri. Akibatnya, dikembangkanlah berbagai senyawa yang mampu menggantikan defek kolinergik ini dengan cara mengintervensi proses degradasi asetilkolin oleh asetilkolinesterase sinaptik (spesifik), ataupun oleh asetilkolinesterase non sinaptik (non spesifik) yang sering disebut sebagai butyrylkolinesterase (BuChE).
 Obat-obatan yang dianjurkan diantaranya adalah tacrine (cognex), donepezil (aricept), rivastigmine (exelon) dan galantamine (reminyl). Hanya tacrin dan rivastigminlah yang juga menghambat BuChE. Hal ini penting untuk kemanjuran terapi, sebab dalam perjalanan penyakit Alzheimer, BuChE akan meninggi dan di sintesis oleh berbagai lesi Alzheimer termasuk oleh plak senilis. Efek obat-oabtan ini antara lain : (1) Memperbaiki fungsi kognitif pada fase yang lanjut (2) Memperbaiki gangguan perilaku (3) Menolong pasien dengan demensia akibat gangguan vaskuler yang sering muncul bersamaan dengan Alzheimernya.
 Obat-obatan ini hanya berefek sementara sebab tidak memperbaiki penyebab dasar dari hilangnya asetilkolin di korteks, yakni degenerasi neuron yang tetap berlangsung secara progresif.
 Antagonis N-methyl-D-aspartate (NMDA). Merupakan obat generasi baru yang amat berguna pada Alzheimer fase lanjut. Kombinasi dengan asetilkolinesterase inhibitor terbukti lebih manjur. Mamantine adalah contoh obat golongan ini, yang juga dapat digunakan untuk keadaan neurodegeneratif lainnya seperti huntington disease, demensia terkait AIDS dan demensia vaskular.
 Anti radikal bebas. Dapat digunakan tocopherol (vitamin E) yang berfungsi memperbaiki kerusakan oksidatif akibat radikal bebas yang memberi kontribusi sebagai penyebab dari Alzheimer.
 Agen anti inflamasi (nonsteroid). Pemberian agen ini berdasarkan postulat bahwa berbagai lesi Alzheimer seperti plak senilis, membutuhkan suatu keadaan inflamasi agar dapat berkembang menjadi fase yang lebih berat. Berbagai studi menunjukkan adanya perbaikan dan perlambatan perkembangan Alzheimer setelah pemberian singkat obat anti inflamasi ini. Contoh obat adalah rofecoxib (vioxx) dan naproxen (aleve).
 Antibiotik. Obat ini berguna untuk mengurangi deposisi amiloid otak pada pasien Alzheimer.
 Estrogen. Amat berguna pada wanita menopause dimana produksi estrogennya mulai menurun. Seperti kita ketahui estrogen merupakan suatu neurotropik dan membantu melindungi otak dari proses-proses degeneratif.
 Aktivitas dan sikap hidup yang sehat. Aktivitas-aktivitas fisik dan mental sangat direkomendasikan pada pasien-pasien Alzheimer dengan memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah proses kemunduran lebih lanjut. Pada tahap perkembangan demensia Alzheimer yang dini, sikap hidup yang sehat, baik fisik maupun psikologis mampu memberikan perlindungan dan daya tahan dari otak terhadap lesi yang mulai muncul dengan cara membangkitkan kompensasi dari bagian otak yang masih sehat dan melindunginya dari perkembangan penyakit yang progresif.

PROGNOSIS
Angka survival rata-rata setelah munculnya onset awal dari gejala Alzheimer adalah sekitar 8-10 tahun. Faktor-faktor yang membantu progresivitas penyakit adalah adanya gejala ekstrapiramidal, adanya gejala-gejala psikotik, onset pada usia muda dan disfungsi kognitif yang dini.

Selasa, 01 April 2008

Dasar Penyakit Jiwa

a. Definisi Gangguan Jiwa

Menurut American Psychiatric Association (APA, 1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distres (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu.

Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon maladaptive terhadap stresor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.

Konsep Gangguan Jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III adalah sindrom atau pola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distres) atau hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia (Maslim, 2002).

b. Definisi kesehatan Jiwa

Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (www.dinkes-dki.go.id.htm).

Kesehatan jiwa meliputi:
  1. Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
  2. Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
  3. Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari


c. Gejala Gangguan Jiwa (Maramis, 1995) :

1)Gangguan kesadaran

a) Penurunan kesadaran


(1)Apati

Mengantuk dan acuh-tak-acuh terhadap rangsang yang masuk; diperlukannya rangsang yang sedikit lebih keras dai biasanya untuk menarik perhatiannya.

(2)Somnolensi

Jelas sudah lebih mengantuk dan rangsang yang lebih keras lagi diperlukan untuk menarik perhatiannya.

(3)Sopor

Hanya berespon dengan rangsang yang keras; ingatan, orientasi, dan pertimbangan sudah hilang.

(4)Subkoma dan koma

Tidak ada lagi respons terhadap rangsang yang keras; bila sudah dalam sekali, maka reflek pupil (yang sudah melebar) dan reflex muntah hilang lalu timbullah reflex patologik.

b) Kesadaran yang meninggi

Kesadaran yang meninggi adalah keadaan dengan respons yang meninggi terhadap rangsang: suara-suara terdengar lebih keras, warna-warni kelihatan lebih terang: disebabkan oleh berbagai zat yang merangsang otak.

c) Tidur

Gangguan tidur dapat berupa: insomnia, berjalan waktu tidur, mimpi buruk, narkolepsi, kelumpuhan tidur.

d) Hipnosa

Kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit, artinya menerima rangsang hanya dari sumber tertentu saja) melalui sugesti; mirip tidur dan ditandai oleh mudahnya disugesti; setelah itu timbul amnesia.

e) Disosiasi

Adalah sebagian tingkah laku atau kejadian memisahkan dirinya secara psikologik dari kesadaran. Kemudian terjadi amnesia sebagian atau total. Disosiasi dapat berupa: trans, senjakala histerik, fugue, serangan histerik, sindroma ganser, menulis otomatis.

f) Kesadaran yang berubah

Tidak normal, tidak menurun, tidak meninggi, bukan disosiasi, tetapi kemampuan mengadakan hubungan dengan dan pembatasan terhadap dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf “tidak sesuai dengan kenyataan” (secara kwalitatif), seperti pada psikosa fungsional.

g) Gangguan Perhatian

Tidak mampu memusatkan (memfokus) perhatian pada hanya satu hal/keadaan, atau lamanya memusatkan perhatian itu berkurang daya konsentrasi terganggu.

2)Gangguan ingatan

Ingatan berdasarkan tiga proses utama, yaitu pencatatan atau registrasi, penahanan atau resistensi, dan pemanggilan kembali atau recall. Gangguan ingatan terjadi bila terdapat gangguan pada salah satu atau lebih dari ketiga unsur tersebut.

a) Gangguan ingatan umum

Gangguan ingatan tidak terbatas pada suatu waktu tertentu saja dan dapat meliputi: kejadian yang baru saja terjadi dan kejadian yang sudah lama berselang terjadi.

b) Amnesia

Adalah ketidakmampuan mengingat kembali pengalaman, mungkin bersifat sebagian atau total, serta retrograd atau anterograd.

c) Paramnesia
Adalah ingatan yang keliru karena distorsi pemanggilan kembali (recall).

d) Hipermnesia
Adalah penahanan dalam ingatan dan pemanggilan kembali (arecall).


3)Gangguan orientasi

Orientasi adalah kemampuan seseorang untuk mengenal lingkungannya serta hubungannya dalam waktu dan ruang terhadap dirinya sendiri dan juga hubungan dirinya sendiri dengan orang lain.

Disorientasi atau gangguan orientasi timbul sebagai akibat gangguan kesadaran dan dapat menyangkut waktu, tempat, atau orang.

4)Gangguan afek dan emosi

Afek adalah nada perasaan, menyenangkan, atau tidak menyenangkan, yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik. Emosi adalah manifestasi afek ke luar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik, lagi pula biasanya berlangsung relatif tidak lama (misalnya: ketakutan, kecemasan, depresi dan kegembiraan). Bilamana afek dan emosi itu sudah begitu keras, sehingga fungsi individu itu terganggu, maka dikatakan telah terjadi gangguan afek atau emosi yang dapat berupa:

a) Depresi

Depresi dengan komponen psikologik, misalnya: rasa sedih, susah, rasa tak berguna, gagal, kehilangan, tak ada harapan, putus asa, penyesalan yang patologis; dan komponen somatik, misalnya: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan nadi menurun sedikit.

b) Kecemasan dan ketakutan

Kecemasan dapat dibedakan kecemasan (tidak jelas cemas terhadap apa) dari ketakutan atau fear (jelas atau tahu takut terhadap apa). Komponen psikologiknya dapat berupa: khawatir, gugup, tegang, cemas, rasa tak aman, takut, lekas terkejut, sedangkan komponen jenis somatiknya misalnya: palpitasi, keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, respons kulit terhadap aliran listrik galvanik berkurang, peristaltik bertambah, lekositosis.

Kecemasan dapat berupa:

(1)Kecemasan yang mengambang ( free-floating anxiety); kecemasan yang menyerap dan tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran;

(2)Agitasi: kecemasan yang disertai kegelisahan motorik yang hebat;

(3)Panik: serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan, kebingungan dan hiperaktivitas yang tidak terorganisasi.

c) Efori

Rasa riang, gembira, senang, bahagia yang berlebihan; bila tidak sesuai dengan keadaan maka ini menunjukkan adanya gangguan jiwa; jika lebih keras lagi dinamakan elasiâ dan jika keras sekali dinamakan exaltasiâ.

d) Anhedonia
Ketidakmampuan merasakan kesenangan, tidak timbul perasaan senang dengan aktivitas yang biasanya menyenangkan baginya.

e) Kesepian
Merasa dirinya ditinggalkan.

f) Kedangkalan
Kemiskinan afek dan emosi secara umum (berkurang, secara kwantitatif); dapat digambarkan juga sebagai datar, tumpul, atau dingin yang sama maksudnya; istilah-istilah ini tidak menunjukkan gradasi. Umpamanya kedangkalan emosi ialah tidak atau hanya sedikit merasa / kelihatan gembira atau sedih dalam keadaan atau mengenai sesuatu hal yang benar-benar menggembirakan atau menyedihkan.


g) Afek atau emosi tak wajar
Tak wajar atau tak patut dalam situasi tertentu (terganggu secara kwalitatif), umpamanya ketawa terkikih-kikih waktu wawancara. Bila extrim akan menjadi inadequate, yaitu afek dan emosi yang bertentangan dengan keadaan atau isi pikiran dan dengan isi bicara.

h) Afek atau emosi labil
Berubah-ubah secara cepat tanpa pengawasan yang baik, umpamanya tiba-tiba marah-marah atau menangis.

i) Variasi afek atau emosi sepanjang hari
Perubahan afek dan emosi mulai sejak pagi sampai malam hari. Umpanya, pada psikosa manik-depresi maka jenis depresinya lebih keras pada pagi hari dan menjadi lebih ringan pada sore hari.

j) Ambivalensi
Emosi dan afek yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap seorang, suatu obyek atau suatu hal.

k) Apati
Berkurangnya afek dan emosi terhadap sesuatu atau terhadap semua hal dengan disertai rasa terpencil dan tidak peduli.

l) Amarah, kemurkaan, dan permusuhan
Sering dinyatakan dalam sifat agresi. Bila ditujukkan kepada pemecahan masalah dan dipakai sebagai pembelaan terhadap suatu serangan yang yata, maka agresi itu konstruktif sifatnya. Agresi itu menjadi: patologik bila tidak realistik, menghancurkan dirinya sendiri, tidak ditujukan kepada pemecahan masalah dan jika merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan.

5)Gangguan psikomotor

Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa: jadi merupakan efek bersama yang mengenai badan dan jiwa. Gangguan psikomotorik dapat berupa:

a) kelambatan
Secara umum gerakan dan reaksi menjadi lambat.

b) Peningkatan
Aktivitas dan reaksi umum meningkat.

c) Tik (tic)
Gerakan involunter, sekejap serta berkali-kali mengenai sekelompok otot atau bagian badan yang relatif kecil.

d) Bersikap aneh
Dengan sengaja mengambil sikap atau posisi badan yang tidak wajar, yang aneh atau bizar.

e) Grimas
Mimik yang aneh dan berulang-ulang.

f) Stereotipi
Gerakan salah satu anggota badan yang berkali-kali dan tidak bertujuan.

g) Pelagakan (mannerism)
Pergerakan atau lagak yang stereotip dan teatral (seperti sedang bermain sandiwara).

h) Ekhopraxia
Langsung meniru pergerakan orang lain pada saat dilihatnya; ekholalia: langsung mengulangi atau meniru apa yang dikatakan orang lain.

i) Otomatisma perintah (command automatism)
Menuruti sebuah perintah secara otomatis tanpa memikir dulu.

j) Otomatisma
Berbuat sesuatu secara otomatis sebagai pernyataan (expresi) simbolik aktivitas tak sadar.

k) Negativisme
Menentang nasihat atau permintaan orang lain atau melakukan yang berlawanan dengan itu.

l) Kataplexia

Tonus otot menghilang dengan mendadak dan sejenak, juga timbul kelemahan umum dengan atau tanpa penurunan kesadaran, yang dapat disebabkan oleh berbagai keadaan emosi.

m) Gangguan somatomotorik pada reaksi konversi

Menggambarkan secara simbolik suatu konflik emosional dan dapat berupa:

(1) kelumpuhan

(2) pergerakan yang abnormal, umpamanya tremor, tik, kejang-kejang atau ataxia

(3) astasia-abasia: tidak dapat duduk, berdiri dan berjalan.

n) Verbigerasi
Berkali-kali mengucapkan sebuah kata yang sama.

o) Berjalan
Tidak tegap, kaku (rigid) atau lambat

p) Gangguan motorik
Yang sebenarnya bukan merupakan gangguan psikomotor, yang mungkin sekali disebabkan oleh: pemakaian obat (umpamanya: tremor, hipokinesa, diskinesa, akatisia, karena neroleptika), gangguan ortopedik atau gangguan nerologik.

q) Kompulsi
Suatu dorongan yang mendesak berkali-kali, biarpun tidak disukai, agar berbuat yang bertentangan dengan keinginannya sehari-hari atau dengan kebiasaan serta norma-norma.

r) Gagap
Berbicara dengan terhenti-henti karena spasme otot-otot untuk bicara, mulai dari berbicara sangat ragu-ragu sampai dengan berbicara explosif.

6)Gangguan proses berpikir

Proses berpikir meliputi proses pertimbangan (judgment, pemahaman (comprehension), ingatan, serta penalaran.

a) Gangguan bentuk pikiran:

Dalam kategori ini termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik dan terarah kepada tujuan.

(1) Dereisme
Titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika atau pengalaman.

(2) Pikiran otistik
Menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dai dalam pasien itu sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi.

(3) Bentuk pikir yang non-realistik
Bentuk piker yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan, umpamanya: menyelidiki sesuatu yang spektakuler/ revolusioner bila ditemui; mengambil kesimpulan yang aneh serta tidak masuk akal.


b)Gangguan arus pikir

Yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran, yang timbul dalam berbagai jenis:

(1) Perseverasi
Berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema secara berlebihan.

(2) Asosiasi longgar
Mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain.

(3) Inkoherensi
Gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimatpun sudah sukar ditangkap atau diikuti maksudnya.

(4) Kecepatan bicara
Untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.

(5) Benturan (blocking)
Jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti ditengah sebuah kalimat.

(6) Logorea
Banyak bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa kontrol, mungkin koheren ataupun incoherent.

(7) Pikiran melayang (flight of ideas)
Perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh idea yang lain.

(8) Asosiasi bunyi (lang association)
Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi, umpamanya pernah didengar.

(9) Neologisme
Membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum.

(10) Irelevansi
Isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.

(11) Pikiran berputar-putar
Menuju secara tidak langsung kepada idea pokok dengan menambahkan banyak hal yang remeh-remah yang menjemukan dan yang tidak relevan.

(12) Main-main dengan kata-kata
Membuat sajak secara tidak wajar.

(13) Afasi
Mungkin sensorik (tidak atau sukar mengerti bicara orang lain) atau motorik (tidak dapat atau sukar berbicara