Tampilkan postingan dengan label KOMPLIKASI PERSALINAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOMPLIKASI PERSALINAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2011

Perasat Kristeller

Peranan pendorongan puncak rahim (fundal pressure) atau dikenal dengan perasat Kristeller saat kala II persalinan masih kontroversi. Tindakan ini dilakukan untuk mempercepat keluarnya bayi (mempersingkat kala II). Namun tindakan ini menyimpan potensi bahaya yang besar, yaitu bisa terjadinya robekan rahim dan cedera pada bayi yang bisa membahayakan keduanya.

Sulit sekali mengukur dengan akurat tingkat cedera ibu-janin dengan penggunaan tekanan pada puncak rahim untuk mempersingkat kala dua persalinan (Perasat Kristeller). Namun, jika terjadi cidera maka ada implikasi medis-hukum bagi penyedia layanan (bidan, dokter) yang terlibat.

Ketika kontraksi rahim tidak efektif meskipun sudah diberi obat perangsang kontraksi (oksitosin), maka penolong persalinan sering melakukan tindakan mendorong perut ibu bersalain (bulin) dengan manuver yang disebut "Kristeller", Tindakan mendorong ini dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan lengan, tangan, siku, dan bahkan lutut, dengan maksud membantu kekuatan kontraksi agar bayi bisa lahir.

Sayangnya disamping membantu, tindakan ini juga memiliki risiko karena dapat menyebabkan robeknya rahim, lepasnya plasenta, robekan jalan lahir (kerampang) dan gangguan pada janin berupa asfiksia (sesak nafas), cedera pada bahu janin dan kerusakan otak janin. Komplikasi2 diatas tentunya dapat menyebabkan kematian ibu dan atau janin.

Manuver Kristeller ini dipergunakan secara luas terutama di negara2 yg sedang berkembang. Kesimpulan terakhir tidak ditemukan manfaatnya melakukan tindakan ini (Merhi & Awonuga 2005). Sehingga sekarang tindakan ini tidak dianjurkan lagi.

Kamis, 12 November 2009

Sindroma Sheehan

Sindroma Sheehan adalah suatu kondisi yang menyerang wanita yang sebelumnya mengalami perdarahan yang berat/banyak (sampai mengancam nyawanya) saat melahirkan atau paska melahirkan. Perdarahan yang banyak mengakibatkan penurunan kadar oksigen pada organ dan jaringan.

Pada Sindrom Sheehan, terjadi kerusakan pada kelenjar hipofise yang terletak di dalam otak, sehingga menyebabkan kurangnya produksi hormon yang dihasilkannya (hipo-pituitarisme). Nama lainnya postpartum hipo-pituitarisme, sudah jarang ditemukan pada negara maju, tetapi masih banyak ditemukan kejadiannya pada negara berkembang.

Gambar Kelenjar hipofise (Pituitary gland) KLIK DISINI
Pada sebagian wanita, sindroma Sheehan tidak memperlihatkan gejala atau hanya menimbulkan sedikit gejala. Sementara sebagian lainnya dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Pengobatan kelainan ini adalah dengan mempergunakan terapi pengganti hormon / terapi sulih hormon.

Pada umumnya, tanda dan gejala sindroma ini muncul secara lambat dalam periode bulanan atau tahunan. Tetapi bisa juga gejalanya muncul segera seperti pada ibu yang sedang menyusui.

Gejala dan tanda kelainan ini berupa:
  • Fungsi mental terganggu, dan tubuh tidak bisa hangat, akibat rendahnya kadar hormon tiroid (gondok).
  • Gangguan pada proses menyusui
  • Haid tidak ada (amenorea) atau mens yang keluar hanya sedikit (oligomenorea)
  • Bulu pubis dan kemaluan rontok.
  • Tensi rendah.
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan.
Sindrom Sheehan selalu disebabkan perdarahan karena kehamilan (walaupun ada perdarahan karena sumber lain). Hal ini diduga karena, saat hamil kelenjar ini membesar, sehingga lebih mudah rusak karena pengaruh perdarahan.

Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofise berfungsi mengatur sistem endokrin tubuh, memberi sinyal ke organ lain untuk meningkatkan atau menurunkan hormon yang mengatur metabolisme, kesuburan, penyembuhan luka dan banyak proses2 vital lainnya. Kekurangan hormon hipofise ini dapat menimbulkan masalah di seluruh tubuh.

Hormon2 yang dihasilkan hipofise adalah:
  • Hormon pertumbuhan (GH). Sesuai dengan namanya, hormon ini mengontrol pertumbuhan tulang dan jaringan serta mempertahankan keseimbangan diantara jaringan lemak dan otot.
  • Hormon Anti-diuretik (ADH). Mengatur produksi pipis, hormon ini menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Kekurangan hormon ini akan mengakibatkan kelainan yang dinamakan diabetes insipidus.
  • Hormon Stimulasi Tiroid (TSH). Hormon ini menstimulasi kelenjar tiroid/gondok untuk menghasilkan hormon penting yang mengatur metabolisme (hormon tiroid). Kekurangan TSH akan menyebabkan kelenjar tiroid menjadi kurang aktif.
  • Luteinizing hormon (LH). Pada wanita. Hormon ini memupuk produksi estrogen.
  • Hormon Stumulasi Follikel (FSH). Bekerja bersama dengan LH, FSH membantu menstimulasi pembentukan sel telur pada wanita..
  • Hormon Adreno-kortiko-tropik (ACTH). Menstimulasi kelenjar anak ginjal memprodukasi hormon kortisol dan hormon lainnya. Kortisol membantu tubuh mengatasi stress dan mempengaruhi tensi, fungsi jantung dan sistem kekebalan tubuh.
  • Hormon Prolaktin. Hormon ini mengatur pertumbuhan payudara (saat hamil/menyusui) serta produksi ASI.
Pengobatan Sindrom Sheehan adalah terapi sulih hormon (hormone replacement therapy=HRT). Sedangkan obat-obatan bisa diberikan oleh dokter berupa:
  • Kortikosteroid. Obat ini antara lain hidrokortison atau prednison, menggantikan hormon anak ginjal (adrenal)yang tidak diproduksi akibat kekurangan ACTH.
  • Levo-tiroxin (Levoxyl, Synthroid, dan lain-lain). Obat ini membantu meningkatkan hormon tiroid karena rendahnya kadar TSH.
  • Estrogen. Estrogen tanpa kombinasi dengan progesteron dipakai jika rahim sudah diangkat. Jika rahim masih ada maka dipakai kombinasi dengan progesteron.
  • Hormon pertumbuhan (GH). Dalam penelitian pada kasus-kasus hipo-pituitarisme pemberian hormon pertumbuhan dapat membantu menormalkan berat badan, menurunkan kadar kolesterol serta memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhannya.
Pemberian hormon-hormon ini akan selalu dipantau supaya pemberiannya adekuat dan tidak berlebihan. Biasanya, kadar hormon diperiksa setiap beberapa minggu atau bulan pada awal pengobatan HRT, selanjutnya setahun sekali.

Sumber: Mayoclinic