Tampilkan postingan dengan label ENDOKRINOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ENDOKRINOLOGI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2008

Endometriosis

Endometriosis berarti tumbuhnya jaringan endometrium (lapisan dalam rahim yang biasanya menebal dan keluar saat haid), tumbuh diluar rahim dan mengikuti pola haid seperti endometrium dalam rahim. Artinya saat haid, enometrium yang ektopik ini juga ikut mengeluarkan darah. Karena tidak memiliki akses keluar, maka darah yang muncul di jaringan ini akan menimbulkan rasa sakit serta menjadi kista jika loaksinya di indung telur.

Endometriosis bisa memiliki derajat ringan, sedang dan berat. Yang ringan dan sedang cendrung memberat jika tidak diobati. Bisa tidak bergejala bisa juga memiliki gejala2 yang khas dari penyakit ini yaitu : dismenorea (nyeri saat haid), nyeri panggul lainnya saat pipis dan BAB, darah haid yang berlebihan dan infertiliti (lihat espeogepedia: fertlitas)

Penyebabnya sampai sekarang masih belum jelas/pasti. Diduga faktor hormon dan sistem kekebalan (imunitas) berperan sebagai penyebabnya. Salah satu teorinya : darah haid yang mengandung endometrium keluar lewat saluran telur. masuk ke rongga perut dan tumbuh disana, sedangkan teori lain bilang sel endometrium terbawa lewat aliran darah ubh lalu tumbuh pada tempat lain pada tubuh.

Beberapa pemeriksaan perlu dilakukan untuk menetapkan diagnosis endometriosis. Pemeriksaan panggul dilakukan dengan palpasi dengan dua tangan (bimanual) satu tangan di dinding perut dan satunya lagi didalam rongga vagina, untuk memeriksa kista serta jaringan endometriosis yg ada di belakang rahim. Hasil ini selanjutnya dikonfirmasi dengan USG (terutama transvaginal).

Satu-satunya cara mengetahui dengan pasti adanya endometriosis adalah dengan melihat /visualisasi langsung) jaringan endometrial dengan laparoskopi. Dengan prosedur ini bisa dilihat lokasi serta ukuran lesi endometriosis dan selanjutnya akan ditentukan grade atau derajat endometriosisnya ringan, sedang atau berat.

Cancer antigen 125 (CA 125) adalah tes darah sering digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda Tumor tertentu untuk kanker, tetapi juga dapat digunakan untuk mendeteksi suatu protein yang ditemukan dalam darah perempuan dengan endometriosis. CA 125 paling sensitif ketika endometriosis dalam tahap awal.

Pengobatan untuk endometriosis biasanya dengan obat atau operasi. Pada umumnya, dokter menyarankan mencoba pendekatan konservatif sebagai pilihan pertama apalagi jika ingin hamil, pilihan untuk operasi merupakan pilihan terakhir.

Obat -obatan yang dibserikan berupa obat anti nyeri seperti ibuprofen (Advil, Motrin IB, dan lainnya), untuk membantu mengatasi nyeri haid. Tetapi jika dengan dosis optimal nyeri masih belum teratasi maka harus dilakukan dengan cara lain.

Tambahan terapi hormon efektif dalam mengurangi atau menghilangkan rasa sakit endometriosis. Hormonal terapi digunakan untuk mengobati endometriosis termasuk: kontrasepsi hormonal. Penggunakan kontrasepsi hormonal dapat mengurangi atau menghilangkan rasa sakit yang ringan hingga sedang dari endometriosis.

Gonadotropin-Releasing Hormone (Gn-RH) agonists dan antagonists dipakai untuk memblokir hormon ovarium yang merangsang endometriosis. Pemberian obat ini akan menghentikan menstruasi sehingga akan mengecilkan lesi endometriosisnya. Efek samping berupa hot flashes dan vagina kering dpt diatasi dengan pemberian estrogen dosis rendah.

Danazol adalah obat lainny yang bisa dipakai, tetapi bukan pilihan utama karena dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti jerawat dan pertumbuhan rambut. Obat lainnya seperti injeksi Medroxyprogesterone (Depo-Provera) juga dapat dipakai untuk mengurangi gejala endometriosis Efek samping dapat berupa penambhan berat badan, tulang keropos dan depresi.

Jika ibu memiliki endometriosis dan mencoba untuk menjadi hamil, operasi untuk menghilangkan lesi mungkin akan meningkatkan peluang tersebut. Pembedahan ini berujuan membuang lesi endometriosis, jaringan parut dan perlengketan tanpa harus mengangkat organ reproduksi. Bisa dilakukan dengan laparoskpi ataupun dengan pembedahan biasa jika lesinya sangat luas banyak. Jika ternyata hasil operasi konservatif tidak efektif maka sebaiknya dilakukan assisted reproduksi.

Pada beberapa kasus endometriosis tertentu terutama bagi yang sudh tidak menginginkan anak dapt dilakukan operasi pengangkatan rahim serta kedua indung telurnya sekaligus. Dan tentunya ini merupakan tindakan terakhir.

Jumat, 24 Oktober 2008

Peri-menopause

Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause. Lamanya antara 2-8 tahun ditambah satu tahun terakhir haid. Masa ini merupakan tanda berakhirnya masa reproduksi. Pada masa ini silus haid menjadi tidak teratutur, bisa panjang atau pendek. Perimenopause bisa mulai sangat dini yaitu usia 35 tahunan.

Gejala yang dialami : mens tidak teratur, hot flashes , gangguan tidur, perubahan mood, gangguan berkemih, penurunan kesuburan, perubahan fungsi seksual, tulang keropos, kadal kolesterol (LDL) meningkat,

Faktor2 dibawah ini dapat mempercepat datangnya masa perimenopause: merokok, adanya riwayat keluarga, nggak pernah melahirkan, pernah dapat kemoterapi waktu masih kanak2 dan histerektomi

Peri-menopause tidak memerlukan pengobatan apa2 kecuali timbul gejala hot flashes, gangguan haid : haid banyak, lama, dan osteoporosis. Pengobatan yang mungkin : pil kontrasepsi untuk mengurangi hot flashes dan gangguan haid, progestin juga untuk mengatur haid dan ablasi endometrium untk mengurangi gejala perdarahan.

Gaya hidup yang sehat diperlukan seperti : nutrisi yang baik (rendah lemak, tinggi serat, tinggi calcium, hindari alkohol dan caffein), olah raga yang terartur dan hindari stress.

Senin, 08 September 2008

SOPK = Sindroma Ovarium Polikistik

PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) = Sindroma Ovarium Polikistik adalah kumpulan gejala (sindroma) yang timbul akibat gangguan endokrin (hormonal) dan pada USG ditemukannya gambaran kista2 kecil yang banyak (polikistik).

Normalnya ovarium (indung telur) hanya membuat sedikit androgen, pada SOPK androgen sedikit meningkat sehingga menimbulkan gangguan ovulasi (terhenti), gejala jerawat dan gejala2 pertumbuhan bulu yang berlebihan.

Gejala2 yang sering timbul akibat kelainan ini adalah: jerawat, peningkatan berat badan, pertumbuhan bulu2 di daearah laki2(kumis, janggut dll), penipisan rambut kepala, gangguan haid (oligomenorea atau amenorea), infertilitas dan depresi.

Berdasarkan kriteria tahun 2003 kelainan ini didiagnosa jika ditemukan 2 dari 3 gejala : 1. Gangguan haid, 2. Gejala2 hiperandrogen 3. Gambaran Ovatium polikistik (USG)

Langkah pertama pengobatan adalah diet dan Oalah raga untuk mengurangi berat badan. Perbanyak sayuran, buah2an dan serat. Hindari lemak seperti daging, keju dan makanan yang digoreng. Stop merokok.

Obat2 yang diberikan berupa : Pil Kb untuk mengatur haid, Metformin untuk menurunkan gula darah dan Obat penyubur jika ingin hamil.

Gejala hiperandrogen seperti juga diobati seperti jerawat dan pertumbuhan bulu (hirsutisme). Jika ditemukan gejala depresi dilakukan konseling oleh psikiater.