Tampilkan postingan dengan label GANGGUAN HAID. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GANGGUAN HAID. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

Adenomiosis

Adenomiosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang merupakan lapisan bagian dalam rahim, ada dan tumbuh di dalam dinding (otot) rahim. Biasanya terjadi di akhir2 masa usai subur dan pada wanita yang telah melahirkan.

Adenomiosis tidak sama dengan endometriosis (suatu kondisi dimana endometrium tumbuh di luar rahim, namun wanita dengan adenomiosis sering juga ada endometriosis. Penyebab adenomiosis masih belum diketahui pasti, hormon estrogen mempengaruhi pertumbuhannya dan kelainan ini akan hilang setelah menopause. Pengobatan utamanya adalah histerektomi (operasi pengangkatan rahim).

Pada sebagian kecil wanita, adenomiosis tidak menimbulkan gejala atau hanya gejala nyeri ringan. Gejalanya berupa:

* Haid yang banyak dan lama.
* Nyeri haid(dismenorrhea)rasanya seperti di tusuk2.
* Kram rahim saat haid
* Nyeri saat ML
* Perdarahan diantara 2 siklus haid
* Haid dengan bekuan darah

Ukuran rahim membesar 2 atau 3 kali lipat ukuran normal.
Penyebab tidak diketahui pasti, ada beberapa teori diduga sebagai penyebabnya:

1.Jaringan endometrium yang menyusup ke dinding rahim.
Ini terjadi contohnya saat dilakukan operasi cesar, sel endometrium menyusup ke dinding rahim, lalu tumbuh dan berkembang disana.

2. Teori Pertumbuhan.
Diyakini sejak awal, jaringan endometrium ini memang sudah ada saat janin mulai tumbuh.

3. Peradangan rahim akibat proses persalinan.
Teori ini menyatakan ada hubungan antara adenomiosis dan proses persalinan. Proses deklamasi endometrium pada periode paska persalinan bisa menyebabkan pecahnya/putusya ikatan sel pada endometrium.

Dari teori diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa faktor risiko terkena adenomiosis adalah persalinan baik cesar maupun normal.
Walaupun tidak berbahaya, nyeri dan perdarahan berlebihan yang ditimbulkannya bisa menggangu aktifitas sehari-hari. Bahkan jika nyeri berulang@ dapat menyebabkan gangguan psikologi pada penderita seperti depresi, sensi, gelisah, marah dan rasa tidak berdaya. Dalam hal2 seperti ini perlu segera cari pertolongan dokter. Perdarahan yang banyak dalam waktu yang lama akan menyebabkan anemia

Diagnosis adenomiosis didasarkan pada gejala dan tanda yang timbul, pemeriksaan panggul, dan pemeriksaan penunjang seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Kadang juga dilakukan biopsi (pengambilan sampel) endometrium guna menyingkirkan hal-hal serius sebagai penyebab perdarahan seperti adanya keganasan (terutama jika usia sudah 40 tahun keatas). Memastikan diagnosis hanya bisa dilakukan dengan pemeriksaan di bawah mikroskop pada jaringan rahim yang sudah diangkat melalui operasi histerektomi.

Ada beberapa kondisi atau penyakit yang gejalanya mirip adenomiosis seperti mioma rahim, endometriosis dan polyp endometrium.
Adenomiosis biasanya sembuh sendiri saat menopause, sehingga pilihan pengobatan tergantung masih lama tidaknya menopasue.

Pilihan pengobatan:
1. Obat2 anti-peradangan (anti-inflamasi).
Jika usia mendekati menopause, maka bisa saja pengobatannya berupa obat2 anti-inflamasi yang disamping menghilangkan nyeri juga memiliki efek anti-perdarahan seperti sama mefenamat, ibuprofen dll. Obat dimakan 2-3 hari menjelang haid muncul dan dilanjutkan sampai haid selesai.

2.Pengobatan Hormon.
Bisa dengan memakai pil kombinasi estrogen-progestin daat mengurangi perdarahan dan nyeri yang timbul. Dengan Progestin saja seperti suntik 3 bulan atau IUS yang mengandung progestin akan sering akan menyebabkan tidak datang haid (amenorhea, sehingga otomatis tidak akan ada nyeri dan darah.

3.Pengangkatan rahim (Histerektomi).
Jika nyerinya luar biasa hebat dan perdarahannya banyak, serta usia menopause masih lama, maka bisa dipilih histerektomi.

Selasa, 08 Desember 2009

Siklus haid tidak bertelur (anovulatoir = anovulasi)

Siklus haid yang anovulatoir adalah siklus haid dimana ovulasi (=lepasnya sel telur) tidak terjadi. Ini artinya haid tetap timbul seperti biasa tetapi tidak melepaskan sel telur, disebut dengan istilah anovulasi. Hal ini biasa terjadi pada usia perimenopause. Jika terjadi haid tanpa ovulasi maka akan sulit untuk bisa hamil (infertilitas).

Anovulasi bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari pengaruh diet sampai dengan dan olah raga sampai ke gangguan kelenjar kecil yang ada di otak yang mengontrol fungsi2 dasar manusia. Beberapa penyebab mudah diidentifikasi sedangkan sebagian lainnya sulit.

Gangguan keseimbangan hormon merupakan penyebab terbanyak siklus anovulasi. Penyebab lainnya adalah olahraga yang berat seperti, lari bisa mempengaruhi siklus haid dengan cara menekan keluarnya hormon yang disebut gonadotropins dari hypothalamus di otak. Ansietas dan stres emosional juga berperanan sebagai penyebabnya.

Siklus anovulasi secar umum disebabkan: gangguan makan, gangguan hypothalamus, hiperprolaktin (hormon susu yang tinggi), PCO/SOPK, defek fase luteal, atau adanya tumor kelenjar hipofise, kelenjar anak ginjal (adrenal) atau ovarium (indung telur) dan penyebab lainnya. Penyebab lain yang mungkin adalah pemakaian obat2an tertentu dalam jangka panjang. Obat golongan steroid serta pil KB kadang2 dapat menyebabkannya.

Begitu penyebabnya sudah diketahui, maka segera dihindari, terutama bagi yang belum memiliki anak. Hindari olahraga yang berlebihan, dan hindari diet (mengurangi makan) yang berlemak. Belajar mengatasi stress dan bergaya hidup yang sehat.

Anovulasi bisa sulit di deteksi. Pada beberapa wanita bahkan haidnya sangat normal walaupun tidak ada ovulasinya. Paling sering wanita yang tidak berovulasi juga mengalami tidak haid (=amenorrhea), atau haidnya sedikit (=oligomenorrhea). Sehingga jika mengalami haid yang sedikit , singkat dan tanpa nyeri bisa menjadi alarm bagi wanita dan dokternya akan adanya siklus anovulasi.

Jika mengalami perdarahan antara siklus haid lebih dari 2-3 siklus haid, besar kemungkinan siklusnya anovulasi. Banyak siklus-siklus anovulasi ini berhubungan dengan perdarahan yang tidak teratur atau hiperplasia endometrium. Pemeriksaan yang dilakukan bisa seperti di bawah ini (tergantung anjuran dokter).

* LH (hari ke 13 dan 15 siklus mens)
* FSH
* Progesteron
* Prolaktin
* DHEA-SO4
* Testosteron and SHBG
* CT scan atau MRI scan hipofise dan hypothalamus
* Biopsi Endometrium
* Biopsi Ovarium

Pengobatan siklus anovulatoir bervariasi tergantung penyebabya dan faktor lainnya seperti usia dan riwayat medis. Pada banyak wanita infertil dengan anovulasi, pengobatan obat2 pemicu ovulasi sering membawa keberhasilan (hamil). Clomiphene citrate (Clomid) merupakan obat pilihan pertamabagia wanita yang anovulasi yang menghasilkan estrogen.

JIka pemberian clomiphene saja tidak berhasil, ditambah dengan Pergonal untuk memacu matangnay sel telur (folikel). Obat ini langsung nerangsang indung telur, dan jika folikel tumbuh dengan ukuran yang cukup, maka diberikan injeksi hormon HCG agar ovulasi bisa segera terjadi.

Beberapa pengobatan lainnya yang dapat dipergunakan secara bersamaan adalah:

* Pengobatan untuk penyakit yang ada (penyebab)
* Modifiaksi nutrisi
* Mengurangi stress
* Pembedahan tumor

Sumber: http://www.babyhopes.com

Rabu, 04 Maret 2009

Hiperplasia Endometrium

Hiperplasia Endometrium adalah suatu kondisi di mana lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh secara berlebihan. Kondisi ini merupakan proses yang jinak (benign), tetapi pada beberapa kasus (hiperplasia tipe atipik) dapat menjadi kanker rahim.

Endometrium merupakan lapisan paling dalam dari rahim. Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan, agar hasil konsepsi bisa tertanam. Jika tidak terjadi kehamilan, maka lapisan ini akan keluar saat menstruasi.

Hormon yang ada di tubuh wanita: estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang pertumbuhannya dan progesteron mempertahankannya. Sekitar pertengahan siklus haid, terjadi ovulasi (lepasnya sel telur dari indung telur). Jika sel telur ini tidak dibuahi (oleh sperma), maka kadar hormon (progesteron) akan menurun, sehingga timbullah haid/menstruasi.

Pada saat mendekati menopause, kadar hormon2 ini berkurang. Setelah menopause wanita tidak lagi haid, karena produksi hormon ini sangat sedikit sekali. Untuk mengurangi keluhan/gejala menopause sebagian wanita memakai hormon pengganti dari luar tubuh (terapi sulih hormon), bisa dalam bentuk kombinasi estrogen + progesteron ataupun estrogen saja.

Estrogen tanpa pendamping progesteron (unoppesd estrogen) akan menyebabkan penebalan endometrium. Pada beberapa kasus sel2 yang menebal ini menjadi tidak normal yang dinamakan Hiperplasis atipik yang merupakan cikal bakal kanker rahim.

Risiko terjadinya hiperplasia endometrium bisa tinggi pada: usia sekitar menopause, menstruasi yang tidak beraturan atau tidak ada haid sama sekali, over-weight, diabetes, SOPK (PCOS), mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron dalam mengatasi gejala menopause. Gejalanya yang biasa/sering adalah perdarahan pervagina yang tidak normal (bisa haid yang banyak dan memanjang).

Berikut ini beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan pada hiperplasia endometrium:
USG: Terutama yang transvaginal.
Biopsi : pengambilan sampel endometrium, selanjutnya di periksa dengan mikroskop (PA)
Dilatasi dan Kuretase (D&C): leher rahim dilebarkan dengan dilatator kemudian hiperplasianya dikuret. Hasil kuret lalau di PA-kan.
Hysteroscopy: memasukkan kamera (endoskopi) kedalam rahim lewat vagina. Dilakukan juga pengambilan sampel untuk di PA-kan

Pada kebanyakan kasus hiperplasisa dapat diobati dengan obat2an yaitu dengan memakai progesteron. Progesteron menipiskan/menghilangkan penebalan serta mencegahnya tidak menebal lagi. Namun pemakain progesteron ini menimbulkan bercak (spotting).

Setelah mengkonsumsi progeteron dalam waktu tertentu, dilakukan evaluasi kembali endometriumnya dengan cara di biopsi atau metode sampling lainnya. Jika tidak ada perbaikan, dilakukan dapat diberikan obat lagi. Histerektomi atau pengangkatan rahim dilakukan jika anak sudah cukup atau hiperplasia nya jenis atipik. Namun jika masih ingin punya anak maka masih ada pilihan dilakukan terapi hormonal.

Hal2 dibawah ini dapat mengurangi risiko terjadinya hiperplasia endometrium:
* Terapi sulih hormon yang seimbang (estrogen plus progesteron).
* Jika haid tidak teratur (tidak tiap bulan ada), dapat diberikan progesteron agar tidak terjadi penebalan endometrium. Pil KB yang mengandung kombinasi estrogen-progesteron dapat memncegah hiperplasia pada wanita dengan haid yang tidak teratur.
* Jika overweight, kurangi BB.

sumber: macam2

Selasa, 13 Januari 2009

Nyeri haid = Dysmenorrhea

Dysmenorrhea adalah nyeri pada daearah panggul akibat menstruasi dan produksi zat prostaglandin. Seringkali dimulai segera setelah mengalami haid pertama (menarche). Nyeri berkurang setelah menstruasi, namun pada beberapa wanita nyeri bisa terus dialami selama periode menstruasi.

Penyebab nyeri berasal dari otot rahim. Seperti semua otot lainnya, otot rahim dapat berkontraksi dan relaksasi. Saat haid kontraksi lebih kuat. Kontraksi yang terjadi adalah akibat suatu zat yang namanya prostaglandins . Prostaglandins dibuat oleh lapisan dalam dari rahim. Sebelum menstruasi terjadi zat ini meningkat danbegitu haid terjadi, tingkat prostaglandin menurun. Hal ini dapat menjelaskan mengapa sakit cenderung berkurang setelah beberapa hari pertama haid.

Dysmenorrhea terbagi jadi dua yaitu primer atau sekunder, primer murni karena proses kontraksi rahim tanpa penyakit dasar sebagai penyebab. Sedangkan dysmenorrhea sekunder disebabkan selain proses haid dan produksi prostaglandin secara alami. Ciri khasnya nyeri haid tidak berkurang pada hari-hari haid selanjutnya. Penyebab dysmenorrhea sekunder antara lain: endometriosis dan fibroids (myoma)

Diagnosis dan penataan yang sekunder sesuia dengan penyebabnya. Obat tertentu, yang disebut NSAIDs (non-steroidal anti-inflamation drug), dapat memblokade tubuh untuk membuat prostaglandin. Sebagian besar NSAIDs, seperti ibuprofen dan naproxen, dapat dibeli tanpa resep.

NSAIDs bekerja terbaik jika dimakan pada awal sakit mulai terasa. cukup dimakan pda hari 1 dan 2 haid. Obat ini tidak boleh dimakan jika ada gangguan perdarahan, kerusakan hati, gangguan lambung,

Kontrasepsi hormonal, seperti pil KB,juga bisa mengurangi rasa sakit haid.Hormon yan terdapat pada kontrasepsi membantu mengontrol pertumbuhan lapisan dalam rahim sehingga bisa mengurangi produksi prostaglandin. Yang berarti lebih sedikit kram rahim, kurang aliran darah, dan berkurangnya rasa sakit. Jika diperlukan, kontrasepsi dapat digunakan dengan obat lain yang menurunkan tingkat estrogen atau menghentikan siklus haid.

Jika ada fibroids yang menyebabkan sakit, dilakukan operasi. Laparoskopi dapat digunakan untuk mengobati endometriosis. Jaringan tumbuh di luar rahim dapat dibuang dengan laparoskop. Untuk kasus yang berat, histerektomi (pengangkatan rahim) dapat dilakukan. Hal ini biasanya pilihan terakhir.

Tips2 berikut bisa membantu:
  • Latihan aerobik, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang, membantu memproduksi bahan alami yang dapat mem-blok rasa sakit.
  • Pakai kompress panas atau dingin pada daerah perut jika nyeri terasa.
  • Pastikan tidur yang cukup sebelum dan selama periode haid.
  • Orgasme dapat meringankan kram haid pada beberapa perempuan.
  • Latihan relaksasi atau Yoga, dapat membantu menanggulangi sakit.
  • Senin, 08 September 2008

    SOPK = Sindroma Ovarium Polikistik

    PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) = Sindroma Ovarium Polikistik adalah kumpulan gejala (sindroma) yang timbul akibat gangguan endokrin (hormonal) dan pada USG ditemukannya gambaran kista2 kecil yang banyak (polikistik).

    Normalnya ovarium (indung telur) hanya membuat sedikit androgen, pada SOPK androgen sedikit meningkat sehingga menimbulkan gangguan ovulasi (terhenti), gejala jerawat dan gejala2 pertumbuhan bulu yang berlebihan.

    Gejala2 yang sering timbul akibat kelainan ini adalah: jerawat, peningkatan berat badan, pertumbuhan bulu2 di daearah laki2(kumis, janggut dll), penipisan rambut kepala, gangguan haid (oligomenorea atau amenorea), infertilitas dan depresi.

    Berdasarkan kriteria tahun 2003 kelainan ini didiagnosa jika ditemukan 2 dari 3 gejala : 1. Gangguan haid, 2. Gejala2 hiperandrogen 3. Gambaran Ovatium polikistik (USG)

    Langkah pertama pengobatan adalah diet dan Oalah raga untuk mengurangi berat badan. Perbanyak sayuran, buah2an dan serat. Hindari lemak seperti daging, keju dan makanan yang digoreng. Stop merokok.

    Obat2 yang diberikan berupa : Pil Kb untuk mengatur haid, Metformin untuk menurunkan gula darah dan Obat penyubur jika ingin hamil.

    Gejala hiperandrogen seperti juga diobati seperti jerawat dan pertumbuhan bulu (hirsutisme). Jika ditemukan gejala depresi dilakukan konseling oleh psikiater.

    Jumat, 05 September 2008

    Hipermenorea = Haid Banyak

    Hipermenorea adalah perdarahan haid yang banyak dan lebih lama dari normal, yaitu 6-7 hari dan ganti pembalut 5-6 kali perhari. Haid normal (Eumenorea) biasanya 3-5 hari (2-7 hari masih normal), jumlah darah rata2 35 cc (10-80 cc masih dianggap normal), kira2 2-3 kali ganti pembalut perhari.

    Penyebab hipermenorea bisa berasal dari rahim berupa mioma uteri (tumor jinak dari otot rahim, infeksi pada rahim atau hiperplasia endometrium (penebalan lapisan dalam rahim). Dapat juga disebabkan oleh kelainan diluar rahim seperti kelainan darah: anemia, gangguan pembekuan darah dll, juga bisa disebabkan kelainan hormon (gangguan endokrin).

    Khusus pada wanita yang berusia 40 tahun keatas, wajib dilakukan kuret bertingkat (fractional curretage) untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan adanya gangguan pada darah serta pemeriksaan hormon FSH, LH dan Prolactin jika memungkinkan.

    Pengobatan diberikan berdasarkan kausa. Jika ditemukan kelainan organ seperti mioma maka penyebabnya harus dihilangkan (diangkat). Untuk kelainan hormon dapat diberikan progesteron seperti MPA 10 mg/hari (merk: provera atau prothyra) pada hari ke 16-25 siklus haid. Atau diberikan kombinasi estrogen-progesteron (pil KB)hari 16-25 siklus haid. Pada wanita yang ingin dapat anak dapat diobati dengan obat pemicu ovulasi (profertil. ofertil, provula dll).

    Amenorea

    Amenorea : keadaan dimana tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut.

    Dibagi atas amenorea primer (usia 18 tahun ke atas tidak dapat haid) dan skunder penderita pernah mendapat haid dan kemudian tidak haid lagi). Istilah kriptomenorea merupakan keadaan dimana tidak tampak adanya haid karena darah tidak keluar berhubung ada yang menghalangi, seperti pada himen yang nggak berlubang, penutupan saluran servikis, dan lain-lain.

    Sebab-sebab pada amenorea primer dan sekunder :
    1. Gangguan organik pusat
    2. Gangguan kejiwaan : syok emosional, psikosis, pseudosiesis (hamil palsu)
    3. Gangguan poros hipotalamus-hipofisis: sindrom amenorea-galaktorea, sindrom Stein-Leventhal, amenorea hipotalamik
    4. Gangguan hipofisis: sindrom Sheehan, penyakit Simmonds, tumor
    5. Gangguan gonad : Kelainan kongenital, Menopause prematur, penghentian fungsi ovarium karena operasi,radiasi, radang dan sebagainya.
    6. Gangguan glandula suprarenalis : Sindrom adrenogenital, Sindrom crushing, penyakit Addison
    7. Gangguan glandula tiroidea : Hipotiroidea, hipertiroidea, kretinisme
    8. Gangguan pankreas
    9. Gangguan uterus dan vagina
    10.Penyakit-penyakit umum

    Rencana Pemeriksaan
    Anamnesis yang baik dan lengkap sangat penting. Harus diketahui, apakah amenorea primer atau skunder. Dihubungkan antara amenorea dan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan emosional; apakah ada kemungkinan kehamilan; apakah penderita menderita penyakit akut atau menahun; apakah ada gejala-gejala metabolik, dan lainnya

    Sesudah itu dilakukan pemeriksaan fisik, seperti tinggi badan, berat badan, ciri-ciri kelamin skunder, hirsutisme. Lalu dilakukan pemeriksaan ginekologik untuk mengetahui adanya jenis ginatresi, adanya aplasia vagina, keadaan klitoris, aplasia uteri, adanya tumor, ovarium dan sebagainya.

    Apabila pemeriksaan klinis tidak memberikan gambaran yang jelas, dilakukan pemeriksaan berikut :
    1. Pemeriksaan foto rontgen thorak untuk TB pulmonem, dari sella tursika untuk mengetahui adanya perubahan dari sella tursika tersebut.
    2. Pemeriksaan sitologi vagina
    3. Tes toleransi glukosa
    4. Pemeriksaan mata
    5. Kerokan uterus
    6. Pemeriksaan metabolisme basal (T3 dan T4)
    Pemeriksaan yang memerlukan fasilitas khusus :
    1. Laparaskopi, untuk mengetahui hipoplasia uteri, aplasia uteri, disgenesis ovarium, tumor ovarium, ovarium polikistik
    2. Pemeriksaan kromatin seks untuk mengetahui apakah penderita secara genetik seorang wanita
    3. Pembuatan kariogram dengan pembiakan sel-sel guna mempelajari kromosom
    4. Pemeriksaan kadar hormon (T3, T4, FSH, LH, estrogen, prolaktin, 17-ketosteroid)

    Tinjauan umum tentang Penanggulangan Amenorea
    • Tidak selalu memerlukan terapi, misalnya pada wanita berumur > 40 th dengan amenorea tanpa sebab yang mengkhawatirkan tidak memerlukan pengobatan
    • Dalam kategori ini, yang memerlukan terapi adalah wanita-wanita muda yang mengeluh tentang infertilitas, atau sangat terganggu dengan tidak datangnya haid.
    • Tindakan memperbaiki keadaan kesehatan, perbaikan gizi, kehidupan dalam lingkungan yang sehat dan tenang.
    • Pengurangan berat badan pada wanita obesitas
    • Pemberian tiroid pada wanita dengan hipotiroid
    • Pemberian kortikosteroid pada gangguan glandula suprarenalis (Penyakit Addison laten)
    • Pemberian estrogen dan progesteron dapat menimbulkan perdarahan siklik, dan perdarahan ini bersifat withdrawal bleeding, bukan merupakan suatu haid yang didahului oleh ovulasi.
    Penyakit yang dapat disertai amenorea
    Kelainan Kejiwaan
    1. Psikosis: sering dijumpai bersama amenorea ialah penyakit yang disertai depresi.
    2. Anoreksia nervosa:Terutama ditemukan pada wanita muda yang menderita gangguan emosional yang cukup berat. Penanganan anoreksia nervosa harus dilakukan oleh ahli psikiatri. Jika berat badan bertambah, biasanya haid dapat kembali dalam 3 bulan.
    3. Pseudosiesis:adalah suatu keadaan dimana terdapat kumpulan tanda-tanda kehamilan pada seorang wanita yang tidak hamil. Diagnosis dibuat dengan menemukan uterus yang sebesar biasa pada pemeriksaan ginekologik dan tes hamil yang negatif.

    Gangguan Poros Hipotalamus-Hipofisis
    • Sindrom amenorea galaktorea: ditemukan amenorea, dan pada mamma dapat dikeluarkan air susu. Dasarnya ialah gangguan endokrin berupa gangguan produksi releasing factor dengan akibat menurunnya kafar FSH dan LH dan gangguan produksi Prolacting Inhibiting Factor dengan akibat peningkatan pengeluaran prolaktin. Dapat ditemukan setelah kehamilan, disini masa laktasi menjadi jauh lebih panjang dari biasanya (sindrom Chiari Frommel).Dapat juga ditemukan pada tumor hipofisis yang memproduksi prolaktin (sindrom Forbes-Albright).
    • Sindrom Stein-Leventhal : terdiri dari amenorea, hirsutisme dan pembesaran polikistik ovarium.
    • Amenorea hipotalamik

    Gangguan Hipofisis
    1. Insufisiensi hipofisis (Sindrom Sheehan dan Penyakit Simmonds).Gejalanya adalah amenorea, hilangnya laktasi, hipotiroidea, atrofi alat-alat genital dan sebagainya. Terapi terdiri atas pemberian hormon sebagai subsitusi, antara lain kortison, bubuk tiroid, dan sebagainya.
    2. Tumor Hipofisis
    3. Kelainan kongenital pada Hipofisis

    Gangguan Gonad
    • Disgenesis/ Agenesis ovarii (Sindrom Turner): Trias klsiknya : infantilisme, webbed neck dan kubitus vagus. Penderita ini memiliki genitalia eksterna wanita dengan klitoris agaj membesar pada beberapa kasus, sehingga mereka dibesarkan sebagai wanita. Pola kromosom kebanyakan 45XO, pada sebagian dalam bentuk 45-XO/46-XX; pada sebagian dalam kelahiran bayi wanita. Selain trias, biasanya dijumpai tubuh yang pendek tidak lebih dari 150cm, dada berbentuk perisai dengan puting susu jauh ke lateral, payudara tidak berkembang, rambut ketiak dan pubis sedikit atau tidak ada, amenorea, koarktasi atau stenosis aorta, batas rambut belakang yang rendah, ruas tulang tangan dan kaki pendek, osteoporosis, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, anomali ginjal dan sebagainya.
    • Sindrom feminisasi Testikuler
    • Menopause prematur
    • Sindrom ovarium yang Tidak Peka (The insensitive ovary syndrome)
    • Tumor-tumor ovarium

    Gangguan Glandula suprarenalis
    1. Sindrom Adrenogenital: bersifat kongenital, akan tetapi dapat tumbuh kemudian. Penyebabnya ialah hiperplasia adrenal. Biasanya bayi dengan sindrom ini adalah bayi wanita, dengan pembesaran klitoris dengan kadang-kadang hipospadia. Pada wanita yang lebih dewasa terdapat amenorea, klitoris membesar, atrofi mamma dan membesarnya suara.
    2. Sindrom Crushing: pembuatan hormon glandula suprarenalis yang berlebihan, terutama komponen kortikosteroid yang ada sangkut pautnya dengan metabolisme karbohidrat, protein dan elektrolit. Gejalanya ialah obesitas, moon face, amenorea, hirsutisme, osteoporosis, hipertensi, striae terutama pada dinding perut.
    3. Penyakit Addison
    Gangguan Uterus dan vagina
    1. Sindrom Asherman: terjadi karena destruksi endometrium serta tumbuhnya sinekia pada dinding kavum uteri sebagai akibat kerokan yang berlebihan, biasanya pada abortus atau postpartum.
    2. Endometritis tuberkulosa: umumnya skunder pada penderita salpingitis tuberkulosa. Terapi yang kausal terhadap tuberkulosis biasanya dapat menyebabkan timbulnya haid lagi.

    Selasa, 29 Juli 2008

    Mengatasi 'Telat Haid'

    Telat haid yang dimaksud disini adalah gangguan haid, bukan kehamilan. Jadi bukan ngajarin gimana caranya aborsi. Karena nggak bakalan ditemukan pada tulisan ini...biggrinTidak datang bulan merupakan hal yang normal pada: pre-pubertas, hamil, menyusui dan menopause. Selain keadaan diatas tidak datangnya haid merupakan hal yang tudak normal, termasuk akibat efek samping kontrasepsi.

    Saat ditemukan keterlambatan haid, langkah pertma adalah memastikan bukan suatu kehamilan. Secara sederhana dapat dilakukan dengan test kehamilan dengan pemeriksaan pipis (semua sudah tahu.. redface). Jika memang tidak hamil maka dicari penyebabnya. Kalau jelas penyebabnya seperti kontrasepsi tinggal diberikan terapi yang sesuai dengan kontrasepsinya. Seperti karena suntikan Kb 3 bulan maka akan diberikan hormon estrogen seperti lynoral.

    Secara sederhana, tanpa pemeriksaan kadar hormon yang tentunya sangat mahal, dapat dilakukan pendeteksian dimana kira2 masalahnya. Dasar deteksi adalah untuk terjadinya haid ibutuhkan kadar hormon estrogen dan progesteron harus ada dan cukup jumlahnya.

    Langkah awal adalah dengan pemberian hormon progesteron, disebut Uji P. Salah satu caranya adalah diberikan MPA (merk dagangnya: provera atau prothyra) diberikan 10 mg selama 5 hari. Uji ini dikatakan positif jika haid timbul setelah 3-5 hari obat terakhir yang dimakan. Artinya didalam tubuh wanita terdapat kadar hormon estrogen yang normal. Cuma terjadi kekurangan progesteron. Tindakan selanjutnya untuk mengatur haid adalah dengan pemberian obat yang sama pada hari ke 16 - 25 haid 10 mg perhari selama 2 siklus berikutnya.



    Hasil negatif (haid tidak timbul) berarti hormon estrogen rendah atau tidak ada. Untuk hasil negatif dilanjutkan ke langkah selanjutnya yaitu Uji E + P. Artinya disamping diberikan progesteron juga diberikan estrogen. Obat yang tersedia di apotik yang sudah dalam bentuk kombinasi adalah Cyclo-Progynova. Pada obat ini tinggal makan sesuai tulisan "START". Jumlah pil 21 tablet dimakan satu kali perhari. Uji E+P ini dikatakan positif jika haid timbul 3-5 hari setelah obat terakhir dimakan. Untuk pengaturan haid selanjutnya tinggal makan obat ini lagi selama 2 siklus haid dengan interval 7 hari untuk setiap kemasan obatnya.

    Ini yang agak berat masalahnya: hasil uji E+P nya negatif. Arti uji negatif adalah ada yang tidak beres pada rahim, indung telur atau kelenjar hypothalamus-hypofise (ada didalam otak), butuh pemeriksaan lanjutan ke dokter SpOG atau bisa langsung ke konsultan (Baca:Panduan Memilih Dokter SpOG).

    Sabtu, 26 Juli 2008

    Bercak Haid (Spotting)

    Bercak yang timbul pada masa haid jika tidak diikuti timbulnya haid 3-4 hari kemudian bisa berarti memang itulah haid. Tetapi jika setelahnya timbul haid normal hal ini disebut bercak pra-haid.

    Dalam istilah kedokteran haid yang cuma bercak ini disebut hipomenorea yaitu perdarahan haid yang lebih pendek dan/ atau lebih kurang dari biasa. Ganti pembalut hanya 1-2 kali/hari serta lamanya 1-2 hari saja.

    Penyebabnya adalah kelainan/gangguan hormon, kekurangan hormon estrogen dan progesteron. Pada keadaan seperti ini sebetulnya tidak membutuhkan pengobatan. Jika ingin diobati juga maka dapat diberikan pil KB kombinasi estrogen-progesteron pada hari 16-25 dihitung sejak bercak timbul. Bulan berikutnya haid sudah akan muncul seperti biasanya.

    Pada bercak yang timbul kemudian diikuti oleh haid (bercak pra-haid) disebabkan oleh menurunnya hormon estrogen diawal haid. Disamping disebabkan oleh hormon perlu juga dipikirkan kemungkinan adanya sebab non=hormon seperti polip leher rahim atau erosi (lecet) pada leher rahim.

    Pengobatan bercak pra-haid secara sederhana dapat diberikan pil KB (kombinasi estrogen-progesteron) pada hari ke18-25 haid dihitung mulai haid yang sesungguhnya (bercak tidak dihitung).

    Bercak Paska Haid
    Adalah Perdarahan yang timbul setelah haid. Lamanya bisa mencapai 7 hari. Penyebabnya adalah terlambat lepasnya endometrium (lapisan dalam rahim yamg menebal lalu lepas menjadi darah haid).

    Perlu dilakukan pemeriksaan sitologi vagina dan hormonal. Untuk wanita diatas 35 tahun perlu dilakukan pengambilan sample endometrium guna menyingkirkan keganasan.

    Pengobatannya: memakai pil KB dari hari ke 16-25 haid atau cara lainnya : hari ke 6-16 siklus haid diberikan hormon estrogen, dan hari 16-25 dibeikan kombinasi estrogen & progesteron.