Kamis, 12 November 2009

Sindroma Sheehan

Sindroma Sheehan adalah suatu kondisi yang menyerang wanita yang sebelumnya mengalami perdarahan yang berat/banyak (sampai mengancam nyawanya) saat melahirkan atau paska melahirkan. Perdarahan yang banyak mengakibatkan penurunan kadar oksigen pada organ dan jaringan.

Pada Sindrom Sheehan, terjadi kerusakan pada kelenjar hipofise yang terletak di dalam otak, sehingga menyebabkan kurangnya produksi hormon yang dihasilkannya (hipo-pituitarisme). Nama lainnya postpartum hipo-pituitarisme, sudah jarang ditemukan pada negara maju, tetapi masih banyak ditemukan kejadiannya pada negara berkembang.

Gambar Kelenjar hipofise (Pituitary gland) KLIK DISINI
Pada sebagian wanita, sindroma Sheehan tidak memperlihatkan gejala atau hanya menimbulkan sedikit gejala. Sementara sebagian lainnya dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Pengobatan kelainan ini adalah dengan mempergunakan terapi pengganti hormon / terapi sulih hormon.

Pada umumnya, tanda dan gejala sindroma ini muncul secara lambat dalam periode bulanan atau tahunan. Tetapi bisa juga gejalanya muncul segera seperti pada ibu yang sedang menyusui.

Gejala dan tanda kelainan ini berupa:
  • Fungsi mental terganggu, dan tubuh tidak bisa hangat, akibat rendahnya kadar hormon tiroid (gondok).
  • Gangguan pada proses menyusui
  • Haid tidak ada (amenorea) atau mens yang keluar hanya sedikit (oligomenorea)
  • Bulu pubis dan kemaluan rontok.
  • Tensi rendah.
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan.
Sindrom Sheehan selalu disebabkan perdarahan karena kehamilan (walaupun ada perdarahan karena sumber lain). Hal ini diduga karena, saat hamil kelenjar ini membesar, sehingga lebih mudah rusak karena pengaruh perdarahan.

Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofise berfungsi mengatur sistem endokrin tubuh, memberi sinyal ke organ lain untuk meningkatkan atau menurunkan hormon yang mengatur metabolisme, kesuburan, penyembuhan luka dan banyak proses2 vital lainnya. Kekurangan hormon hipofise ini dapat menimbulkan masalah di seluruh tubuh.

Hormon2 yang dihasilkan hipofise adalah:
  • Hormon pertumbuhan (GH). Sesuai dengan namanya, hormon ini mengontrol pertumbuhan tulang dan jaringan serta mempertahankan keseimbangan diantara jaringan lemak dan otot.
  • Hormon Anti-diuretik (ADH). Mengatur produksi pipis, hormon ini menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Kekurangan hormon ini akan mengakibatkan kelainan yang dinamakan diabetes insipidus.
  • Hormon Stimulasi Tiroid (TSH). Hormon ini menstimulasi kelenjar tiroid/gondok untuk menghasilkan hormon penting yang mengatur metabolisme (hormon tiroid). Kekurangan TSH akan menyebabkan kelenjar tiroid menjadi kurang aktif.
  • Luteinizing hormon (LH). Pada wanita. Hormon ini memupuk produksi estrogen.
  • Hormon Stumulasi Follikel (FSH). Bekerja bersama dengan LH, FSH membantu menstimulasi pembentukan sel telur pada wanita..
  • Hormon Adreno-kortiko-tropik (ACTH). Menstimulasi kelenjar anak ginjal memprodukasi hormon kortisol dan hormon lainnya. Kortisol membantu tubuh mengatasi stress dan mempengaruhi tensi, fungsi jantung dan sistem kekebalan tubuh.
  • Hormon Prolaktin. Hormon ini mengatur pertumbuhan payudara (saat hamil/menyusui) serta produksi ASI.
Pengobatan Sindrom Sheehan adalah terapi sulih hormon (hormone replacement therapy=HRT). Sedangkan obat-obatan bisa diberikan oleh dokter berupa:
  • Kortikosteroid. Obat ini antara lain hidrokortison atau prednison, menggantikan hormon anak ginjal (adrenal)yang tidak diproduksi akibat kekurangan ACTH.
  • Levo-tiroxin (Levoxyl, Synthroid, dan lain-lain). Obat ini membantu meningkatkan hormon tiroid karena rendahnya kadar TSH.
  • Estrogen. Estrogen tanpa kombinasi dengan progesteron dipakai jika rahim sudah diangkat. Jika rahim masih ada maka dipakai kombinasi dengan progesteron.
  • Hormon pertumbuhan (GH). Dalam penelitian pada kasus-kasus hipo-pituitarisme pemberian hormon pertumbuhan dapat membantu menormalkan berat badan, menurunkan kadar kolesterol serta memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhannya.
Pemberian hormon-hormon ini akan selalu dipantau supaya pemberiannya adekuat dan tidak berlebihan. Biasanya, kadar hormon diperiksa setiap beberapa minggu atau bulan pada awal pengobatan HRT, selanjutnya setahun sekali.

Sumber: Mayoclinic

Rabu, 11 November 2009

Tubektomi

Kata tubektomi berasal dari tuba dan ektomi, tuba = saluran telur wanita ektomi = membuang / mengangkat. Namun sekarang definisi ini sudah diperluas dengan pengertian sterilisasi tuba. Tubektomi adalah metode kontrasepsi permanen di mana saluran tuba di blokir sehingga sel telur tidak bisa masuk ke dalam rahim.

Cara memblokir saluran tuba dapat dilakukan dalam beberapa cara. Tuba bisa ditutup dengan mempergunakan implan, klip atau cincin serta dengan memotong atau mengikat. Metode yang paling dipakai sekarang adalah dengan mempergunakan laparoskopi kemudian menjepit kedua saluran tuba dengan klip atau dengan memasang ring.

Terdapat beberapa macam tindakan bedah / operasi sterilisasi tuba yaitu : laparoskopi, mikro-laparoskopi, laparotomi (bersamaan dengan Seksio Cesarea (SC), mini-laparotomi (operasi kecil), histereskopi (dengan memasang implan yang akan merangsang jaringan ikat, sehingga saluran tuba akan terblokir), dan pendekatan / teknik melalui vagina (sekarang tidak dipakai lagi karena tingginya angka infeksi).

Indikasi sterilisasi tuba adalah jika pasien meminta secara sukarela untuk dilakukannya metode KB permanen. Perlu dilakukan pertimbangan etis dan hukum pada kasus pasien yang mengalami gangguan fisik, psikis dan intelektual.

Tindakan ini tidak bisa dilakukan (Kontra indikasi)
  1. Pasien harus meminta sendiri, dalam keadaan pikiran yang tenang serta tidak ada paksaan dari siapa pun .
  2. Jika ada permintaan sterilisasi saat persalinan dan ternyata timbul komplikasi pada ibu atau janin maka permintaan tersebut bisa di tolak.
  3. Pembedahan tidak bisa dilakukan jika terdapat infeksi seperti Pelvic Inflammatory Disease (PID).
  4. Laparoskopi juga tidak boleh dilakukan pada pasien dengan penyakit jantung dan paru yang berat.
  5. Jika di curigai adanya kehamilan.
Sterilisasi dengan memakai laparoskopi dan klip


Tubektomi dengan laparoskopi


Prosedur Hisreroskopi

Selasa, 10 November 2009

Letak Muka

Letak kepala yang biasa (terbanyak) saat persalinan adalah letak ubun-ubun kecil. Jika letak kepalanya tidak normal maka disebut malposisi. Salah satunya adalah letak muka. Pada letak muka, kepala dan leher janin hiperekstensi (tengadah) sehingga menyebabkan ubun-ubun kecil bayi mendekati/menyentuh punggungnya.

Bagian terbawah janin adalah wajah antara dagu dan jidat bagian atas. Sebagai penunjuk letak muka adalah dagu. Sehingga saat dilakukan pemeriksaan dalam, pemeriksa akan mencari di mana posisi dagu (sesuai posisi angka jam).

Letak muka terjadi 1 dalam setiap 250-690 kelahiran hidup, rata-rata 0.2% atau 1 dalam 500 kelahiran hidup secara keseluruhan. Faktor-faktor penyebab letak muka sama dengan penyebab kelainan letak secara umum serta hal-hal yang menyebabkan fleksi kepala (menunduk).

Beberapa faktor yang bisa menyebabkan letak muka: panggul sempit dan disproporsi Kepala Panggul (DKP=CPD)berperan sekitar 10-40% kasus letak muka. Multiparitas (banyak anak) atau perut yang besar/longgar menurunkan tonus rahim, sehingga menyebabkan letak muka. Lilitan tali pusat yang banyak atau adanya pembesaran kelenjar gondok janin menyebabkan kepala janin ekstensi (tengadah). Anencefali (janin yang nggak punya batok kepala)ditemukan pada 30 kasus letak muka.

Penentuan letak kepala bisa dibuat secara klinis dengan pemeriksaan perut Leopold manuver dan atau pemeriksaan dalam (VT) atau pemeriksaa USG atau rontgen.

Saat dilakukan pemeriksaan dengan Leopold manuver, penonjolan kepala berada pada sisi yang sama dengan punggung janin serta adanya indentasi (cekung) diantara kedua bagian tersebut. Labih mudah lagi mendiagnosisnya saat persalinan dengan pemeriksaan dalam, teraba bagian2 muka seperti: mulut, hidung, tulang orbita.

Tetapi bagi pemeriksa yang belum berpengalaman kadang bisa keliru dengan letak bokong (sungsang), karena mulut bisa mirip dengan anus serta tulang sekitar mata (orbita) bisa keliru dengan perabaan sakrum (tulang ekor). Untuk itu kadang diperlukan pemeriksaan USG.

Gerakan persalinan pada letak muka tidak mirip sepenuhnya dengan persalinan letak belakang kepala. Janin letak muka memulai persalinan dengan posisi alis duluan. Saat turun ke rongga panggul, maka kepala bisa fleksi atau ekstensi. Gerakan selanjutnya mirip dengan persalinan normal.

Untungnya janin dengan letak muka posisi dagunya 60-80% di bagian depan (posisi jam 9 - jam 3), dagu melintang 10-12% dan dagu di belakang (jam 3 - jam 9)hanya 20-25%. Janin dengan dagu melintang biasanya akan berputar ke arah depan dan sekitar 25-33% dagu di belakang akan berputar ke depan.

Penanganan proses persalinan mengikuti pola seperti letak belakang kepala. lamanya proses persalinan biasanya juga mengikuti letak belakang kepala, tetapi terkadang ada juga persalinannya yang memanjang. Selagi tidak ditemukan bahaya pada janin dan atau ibu maka persalinan bisa diteruskan.

SC dilakukan jika persalinan macet/terhenti atau pola denyut jantung bayi yang tidak baik. Angka kesuksesan letak muka lahir secara normal pervaginam sekitar 60-70%, sisanya dilahirkan dengan SC. jika persalinan macet dengan pembukaan lengkap, maka dapat dilakukan bantuan persalinan dengan cunam/forsep.(Kalau pakai vakum ntar kayak Tukul wajahnya he he he gelakguling)

Trauma janin akibat persalinan normal letak muka berupa pembengkakan tenggorokan dan kerongkongan bayi akan segera hilang sesaat setelah lahir. Pada kasus dengan tumor di leher kadang diperlukan intubasi (memasukkan tube ke jalan nafas). Sehingga persalinan harus selalu di dampingi oleh dokter anak.

Gambar letak muka (KLIK DISINI) dan letak muka sesat akan keluar dari liang vagina (KLIK DISINI)

Sumber : Emedicine

Senin, 09 November 2009

Operasi Cesar

Operasi Cesar atau dalam bahasa medis lebih dikenal dengan seksio cesarea (SC) sudah menjadi bagian dari kebudayaan manusia sejak dari zaman dulu dalam bentuk mitos. Menurut mitologi Yunani, Apollo mengangkat Asclepius, dari perut ibunya yang bernama Coronis. Sejumlah referensi tentang SC juga ditemukan dalam kebudayaan Hindu, Mesir, dan Romawi.

Istilah ini diyakini berasal dari proses kelahiran Julius Cesar dengan cara membelah perut ibunya (Aurelia). Tetapi anehnya Sang ibu masih hidup saat Julius Cesar menyerang Inggris. Pada saat tersebut, prosedur ini hanya dilakukan pada ibu hamil yang sudah mati atau dalam keadaan hampir mati, yang gunanya disamping untuk menyelamatkan nyawa bayi, jika tidak berhasil (bayinya mati) maka ibu dan bayi bisa dikuburkan secara terpisah.

Asal kata lain yang mungkin adalah kata "caedare," yang bearti memotong dan istilah kata "caesones" yang dipakai untuk mengatakan bayi yang dilahirkan dari ibu yang sudah meninggal. Sampai abad ke 16 prosedur ini di kenal dengan istilah operasi cesarea, sampai tahun oleh Jacques Guillimeau memperkenalkan istilah "seksio" dalam buku karangannya, sehingga sejak itu istilah "operasi" di ganti dengan "seksio".

Sebelum ini ibu yang menjalani SC selalu meninggal, karena teknik yang belum sempurna serta risiko infeksi ibu akibat tindakan yang tidak steril serta antibiotika yang memadai. Mungkin laporan pertama tentang ibu dan bayi yang sama2 selamat setelah menjalani prosedur ini adalah yang dilakukan oleh Jacob Nufer, pada istrinya sekitar tahun 1500-an. Namun catatan ini akhirnya diragukan kebenarannya.

Sedangkan sekarang prosedur ini merupakan tindakan yang sangat aman, sehingga dokter dan pasien sama2 tidak takut untuk melakukan SC ...gelakgulinggelakgulinggelakguling. Banyak alasan (indikasi) dilakukannya SC, baik itu dalam keadaan emergensi, atau mencegah timbulnya kondisi emergensi atau dilakukan secara terencana (elektif). Indikasinya seperti di bawah ini.

Plasenta praevia (Ari-ari tidak pada tempatnya): Hal ini terjadi jika plasenta letaknya rendah di dalam rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruhnya liang dalam rahim. Sekitar satu dari 200 wanita hamil akan mengalami plasenta previa dalam trimester akhir klehamilan. Tindakan SC dibutuhkan pada plasenta previa total atau parsial, sedangkan plasenta yang letaknya rendah (marginal) masih bisa dilakukan persalinan pervaginam, tergantung sikonnya.

Plasenta abrupsi (Plasenta lepas sebelum waktunya): Ini terjadi jika plasenta lepas dari dasarnya (dinding rahim) sebelum waktu yang seharusnya (saat bayi telah lahir). Insidennya sekitar 1 % dari seluruh kelahiran. Gejalanya berupa perdarahan yang disertai rasa nyeri.

Robekan rahim: sekitar 1 dalam 1500 persalinan, rahim mengalami robekan. Yang aman hal ini akan menyebabkan perdarahan yang bisa mengancam nyawa ibu dan janinnya.

Tali pusat menumbung: Tali pusat keluar terlebih dahulu ke dalam liang vagina atau keluar liang vagina sebelum bayi lahir. Insidennya rendah, namun jika terjadi maka dibutuhkan tindakan operasi yang emergensi.

Gawat janin: Penyebab tersering gawat janin adalah kurangnya asupan oksigen pada bayi oelh berbagai sebab seperti misalnya plasenta yang sudah tua (insufisiensi plasenta). Jika monitor janin memperlihatkan kurangnya oksigen pada janin, maka harus dilakukan SC.

Persalinan yang tidak maju: Hal ini terjadi jika pembukaan tidak lengkap2 atau persalinan tidak melambat bahkan terhenti atau bayi tidak berada dalam posisi yang optimal (malposisi). Ini dapat didiagnosa di dalam kala satu fase aktif dari persalinan (pembukaan 4-5 keatas).

Cesar Ulangan: dilakukan pada bekas cesar yang sudah 2 kali.

Disproporsi Kepala Panngul (DKP): ini terjadi jika bayi ukuran normal dan panggul ibu sempit, atau ukuran panggul normal tetapi ukuran bayi besar.

Herpes genitalia yang aktif: dilakukan agar bayi nya tidak terular jika dilahirkan pervaginam.

Diabetes: Bisa diabetes gestasional ataupun memang sudah menderita diabetes sebelum hamil. sering bayinya besar atau mendrita komplikasi hamil lainnya.

Gagal induksi: Induksi persalinan dilakukan pada kondisi KPD atau preeklampsia. Jika induksi tidak meberi respon (gagal) maka dilakukan SC.

Cacat bawaan: Jika diketahui bayinya mengalami cacat bawaan, maka dilakukan SC dengan tujuan untuk meminimalisir komplikasi lanjutan saat persalinan pergaginam.

Kembar: kembar dua bisa dilahirkan normal tergantung posisi bayi serta beratnya. Sedangkan kembar 3 atau lebih, sering dilakukan SC untuk kelahirannya.




Sumber: berbagai macam...

Rektokel

Rektokel terjadi jika lapisan jaringan ikat (fascia) yang memisahkan rektum dan vagina menjadi lemah, sehingga dinding depan rektum menonjol ke dalam vagina. Sering diakibatkan oleh proses persalinan (berulang-ulang). Biasanya rektokel terjadi di usia menopause, ketika estrogen yang dalam hal ini berfungsi menjaga kekuatan jaringan panggul kuat, jumlahnya menurun drastis.

Gambar Rektokel (KLIK) atau KLIK INI

Rektokel yang kecil biasanya tidak memperlihatkan tanda-tanda dan gejala-gejala. Jika ukurannya besar, bisa menimbulkan tonjolan ke dinding vagina sehingga terlihat dari liang vagina . Sering menimbulkan ketidaknyamanan tetapi tidak nyeri.

Banyak kasus rektokel sering diikuti dengan kelainan lain seperti Sistoke (penonjolan kandung kemih ke vagina), Enterokel (Usus halus menonjol ke vagina) serta prolapsus uteri (turunnya peranakan ke rongga vagina).

Kehamilan dan persalinan merupakan penyebab tersering rektokel. Hal ini karena otot serta penyangga vagina lainnya menjadi teregang dan lemah saat kehamilan dan persalinan. Sehingga semakin banyak melahirkan, maka semakin besar risiko terjadinya rektokel.

Sebab lain selain dari persalinan adalah semua aktifitas yang bisa meningkatkan tekanan pada dasar panggul seperti: sembelit yang kronis, batuk kronis, sering mengangkat beban berat dan kegemukan (obesitas)

Pemeriksaan dilakukan di rektum dan vagina, saat pemeriksaan pasien disuruh mengedan seperti saat nge-pup. Hal ini akan membuat rektokel menonjol ke dinding vagina. Sedangkan untuk memeriksa kekuatan otot panggul, pasien disuruh melakukan gerakan mengeluarkan dan menahan pipis.

Selanjutnya jika ditemukan rektokel maka dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan X-ray atau MRI untuk menentukan ukuran rektokel dan seberapa efisiennya pengosongan rahim (defekografi).

Pengobatan tergantung pada berat-ringannya rektokel. Jika ringan dan tidak ada gejala, maka tidak diperlukan pengobatan, cuma perlu dilakukan latihan/senam Kegel untuk memperkuat otot-otot dasar panggul.

Jika hal tersebut tidak membantu, maka ada pilihan lainnya berupa pemakaian pesarium atau tindakan pembedahan. Tindakan pembedahan berupa memperbaiki kelemahan jaringan ikat antara rektum dan vagina . Pada kebanyakan kasus, pembedahan berupa penguatan dengan jahitan atau dengan "mesh". Salah satu jenis operasinya adalah KOLPORAPI.

Gambar prosedur operasi KOLPORAPI (KLIK)

Gambar Pesarium (KLIK)

Video Operasi Kolporapi posterior (KLIK)

Video Operasi Prolapsus uteri (peranakan turun)


Sumber: Mayoclinic

Kista Vagina ( Kista Gartner dan Kista Inklusi)

Kista vagina adalah suatu kantong tertutup pada dinding atau bagian bawah dinding vagina yang berisi cairan atau bahan semi padat. Kista terjadi akibat tersumbatnya kelenjar atau salurannya sehingga cairan terkumpul di dalamnya.

Kista di vagina biasanya tidak nyeri. Ukurannya bervariasi mulai dari seukuran kacang sampai seukuran buah plum. Sedangkan Kista inklusi terjadi akibat trauma seperti akibat tindakan operasi.

Gambar Kista inklusi vagina: KLIK DI SINI

Kista Gartner merupakan salah satu kista di vagina. Kista ini berasal dari sisa saluran saat janin dalam perkembangan yang awalnya membesar kemudian menghilang. Tetapi kadang-kadang kista ini lumayan membesar sehingga terlihat dari luar vagina.

Gambar lokasi Kista Gardner: KLIK DI SINI.

Kista vagina biasanya tidak bergejala. Jika bergejala, maka gejalanya hanya berupa pembengkakan kecil di dinding vagina, massa tumor keluar dari liang vagina atau nyeri saat melakukan hubungan seksual.

Kista vagina kadang hilang dengan sendirinya. Jika tidak hilang, maka perlu dilakukan tindakan operasi untuk membuangnya. Setelah operasi maka kista biasanya tidak akan kambuh.

Kista ini sering ditemukan secara tidak sengaja saat dilakukan pemeriksaan panggul, dimana terlihat atau teraba adanya tumor di dinding vagina. Biasanya dilakukan biopsi untuk menentukan apakah tumor jinak atau ganas. Malah jika lokasi kista dekat dengan kandung kemih atau salurannya, maka dilakukan pemeriksaan rontgen untuk memastikan kedua organ tersebut tidak terkena.

Sumber: http://www.mamashealth.com/

Minggu, 08 November 2009

Tali Pusat Menumbung (TPM)

Tali pusat menumbung (TPM) merupakan kondisi emergensi kehamilan yang lumayan jarang terjadi, di mana tali pusat keluar duluan atau bersamaan dengan bagian terbawah bayi di jalan lahir. Kondisi ini bersifat mengancam nyawa bayi, karena tali pusat yang membawa oksigen ke bayi tersebut akan terjepit diantara bagian bayi dan jalan lahir.

Terdapat 2 jenis TPM, pertama TPM yang jelas-jelas (nyata) menumbung, merupakan bentuk TPM yang paling sering, di mana tali pusat menonjol keluar lewat leher rahim atau sudah berada di dalam vagina, bahkan terlihat di bagian luar vagina. Selaput ketuban biasanya sudah pecah. Kedua, ancaman menumbung, di mana tali pusat mendahului bagian terbawah janin di jalan lahir, tetapi belum keluar dari leher rahim (apalagi ke vagina), karena selaput ketuban masih ada. Istilah yang di pakai adalah tali pusat terkemuka.

Penyebab terbanyak adalah kelainan letak bayi, terutama letak lintang. Berikut ini adalah faktor risiko untuk terjadinya TPM :
  • Multiparitas (Kehamilan yang banyak)
  • Prematuritas (bayi kurang bulan) atau berat badan lahir rendah (BBLR)
  • Kelainan letak (sungsang, serong, lintang)
  • Bayi dengan kelainan bawaaan
  • Disproprsi kepala dengan panggul (DKP
  • Tumor di rongga panggul
  • Plasenta letak rendah
  • Hydramnion (air ketuban banyak)
  • Makrosomia (bayi besar)
  • Persalinan kembar (bayi ke 2)
  • Tali pusat yang panjang
Penanganan kasus TPM jika bayi masih (bisa) hidup yang pertama : jika janin masih hidup ibu segera di letakkan dalam posisi nungging (knee-chest position) (KLIK UNTUK MELIHAT GAMBAR) atau telentang dengan bokong ditinggikan/kepala di rendahkan (KLIK UNTUK MELIHAT GAMBAR). Kedua posisi ini dimaksudkan agar tali pusat tidak terjepit menjelang dipersiapkannya operasi. Jangan mencoba untuk memasukkan kembali secara manual. Dilakukan operasi cesar segera. Persalinan pervaginam bisa dilakukan jika pembukaan sudah lengkap dan tidak ada kontra indikasi persalinan normal. Persalinan dipercepat dengan bantuan vakum atau forsep.

Angka kematian bayi akibat TPM berkisar 91 permil. Penyebabnya sering akibat terjadinya prematuritas dan kelainan bawaaan. Sedangkan jika bayinya normal maka kematian biasanya disebabkan oleh asfiksia (bayi lahir biru, sesak nafas).

Untuk mencegahnya dianjurkan untuk dirawat pada usia hamil 37-38 minggu pada pasien dengan kelainan letak (lintang, serong). TPM yang terjadi di RS biasanya lebih berhasil cepat ditolong. Demikian juga untuk kasus pecah ketuban dengan posisi non-kepala agar segera di rujuk ke RS. Sedangkan jika menghadapi persalinan, jangan melakukan pemecahan ketuban sebelum bagian terbawah janin sudah masuk.

Sumber: http://www.patient.co.uk/