Tampilkan postingan dengan label KELAINAN KEHAMILAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELAINAN KEHAMILAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

Non Stres Tes = NST (Tes Tanpa Beban)

Tes ini bersifat non-invasif dan dilakukan untuk menilai keadaan bayi. Bisa dilakukan sebagai rutinitas pada setiap pasien hamil yang hendak bersalin (admission test).Denyut jantung bayi di monitor dan direkam. Tes ini terutama dilakukan jika usia kehamilan melewati tanggal perkiraan taksiran persalinan (due date)atau ibu hamil dengan hamil berisiko tinggi.
Berikut ini kondisi dimana tes ini dilakukan:
  • Ibu yang diabetes.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Gangguan pertumbuhan bayi.
  • Bayi kurang aktif bergerak.
  • Air ketuban terlalu banyak atau terlalu sedikit.
  • Hamil lewat waktu.
  • Ada riwayat kematian janin dalam rahim di trimester 2 pada kehamilan sebelumnya.

Sebelum dilakukan pemeriksaan, makan terlebih dahulu supaya bayinya ter-stimulasi untuk bergerak. Saat dilakukan tes, ibu berbaring miring kiri. Dua buah (bisa juga tiga) alat dipasang pada perut ibu. Fungsi masing2 alat adalah untuk memonitor denyut jantung bayi, gerak bayi dan kontraksi rahim. Ketiga aktifitas ini direkam.

Jika bayi tidak bergerak, ada kemungkinan bayinya sedang tidur. untuk itu perut bumil akan ditempelkan bel/buzzer agar bayinya terbangun. Tes biasanya memakan waktu 20-60 menit.



Gambar hasil pemeriksaan CTG

Hasil pemeriksaan ini dikatakan reaktif (normal)jika : Jika denyut jantung dalam batas normal, ada akselerasi (reaksi peningkatan denyut), tidak ada deselerasi (penurunan denyut jantung yang tajam) dan ada gerak bayi. Tes biasanya diulangi seminggu kemudian.

Berlawanan dengan hasil diatas, hasil tesnya tidak normal (non-reaktif), denyut jantung melewati batas normal (tinggi atau rendah), tidak ada akselerasi, ada deselerasi dan atau gerak bayi tidak ada.

Hasil yang non-reaktif bisa merupakan petunjuk bahwa bayi tidak mendapatkan cukup oksigen (asfiksia)atau ada gangguan pada plasenta. Jika ditemukan kondisi ini maka bayi harus segera dilahirkan.

Selasa, 25 Januari 2011

Sindroma Hughes

Sindroma Hughes, juga dikenal dengan istilah "Darah Kental" atau "Sindroma Antifosfolipid", merupakan penyakit auto-imun (penyakit akibat reaksi kekebalan tubuh kita sendiri) yang dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah di pembuluh arteri dan vena yang selanjutnya dapat menimbulkan berbagai gejala, termasuk didalamnya keguguran, trombosis (penyumbatan pembuluh darah) pada kaki, stroke dan serangan jantung.

Satu dari lima kasus stroke pada usia muda (<45tahun)>
  • Trombosis vena pada kaki (DVT), Lengan dan organ2 dalam seperti ginjal, hati, paru, otak dan mata.
  • Trombosis pembuluh arteri, yang dapat menyebabkan stroke berulang dan stroke ringan (TIA), gangguan pada saraf dan serangan jantung.
  • Jumlah sel darah trombosit (sel pembeku) sedikit menurun
  • Sakit kepala (sering salah diagnosa sebagai migrain).
  • Gejala2 seperti Multiple sclerosis
  • Gerakan2 abnormal pada tubuh (Chorea)
  • Hilang ingatan.
  • Kejang-kejang.
  • Kelainan jantung (katup)
  • Kemerahan pada kulit (livedo reticularis)
  • Keguguran yang berulang.
  • Pada sindroma Hughes tubuh memproduksi antibodi terhadap fosfolipid, yang banyak terdapat membran sel tubuh. Laki dan wanita di usia berapa saja bisa terkena sindroma ini, tetapi lebih sering menyerang wanita.

    AFAPemeriksaan darah merupakan petunjuk diagnosis yang penting ditambah dengan riwayat penyakit pasien. Pemeriksaan darah sederhana untuk mendeteksi antibodi antifosfolipid juga dikenal dengan antibodi antikardiolipin.

    Pemeriksaan ini akan positif pada 80% kasus. Pemeriksaan lainnya darah lainnya adalah lupus anti-koagulan, yang akan positif pada 30-40% kasus. Pemeriksaan ini harus diulang-ulang karena tes ini juga bisa positif pada keadaan tertentu seperti pada kasus infeksi serta pada pengobatan tertentu. Kriteria Sapporo dipakai untuk mendiagnosis dengan mengkombinasikan temuan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium.

    Pengobatannya sederhana dan bertujuan mencegah terbentuknya sumbatan atau trombus menggunakan aspirin atau heparin atau kedua2nya. Aspirin diberikan dalam dosis rendah. sekitar 75mg/hari kira2 seperempat dosis aspirin untuk orang dewasa.

    Kemungkinan seorang wanita bisa hamil sampai cukup bulan akan meningkat dari 19 sampai diatas 75-80% jika aspirin diminum secara reguler serta diberikan heparin. Heparin tidak melewati plasenta sehingga aman untuk kehamilan. Tetapi penggunanan jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis pada ibu.

    Jika terjadi penyumbatan (thrombosis), maka dipergunakan warfarin tetapi, harus dimonitor secara ketat serta tidak boleh diberikan pada wanita hamil.

    Sumber : CNN

    Senin, 24 Januari 2011

    Tangan kesemutan pada wanita hamil

    Pada sebagian kecil ibu hamil, ada yang mengeluh tangannya kesemutan atau bahkan kurang berasa (tidak sensitif) kalau disentuh. Hal ini terutama terjadi saat bangun pagi. Menjelang siang gejalanya berkurang. Apa yang terjadi sesungguhnya ? Pernah dengar tentang Sindroma Carpal Tunel ? Simak selanjutnya tulisan ini.

    Pada saat bayi semakin tumbuh, tubuh ibu hamil akan semakin banyak menahan (menyimpan) air dan hampir semua jaringan tubuh "membengkak". Demikian juga dengan halnya dengan jaringan disekitar pergelangan tangan ikut membengkak. Ada yang namanya saraf median, yang lewat pada pergelangan tangan, terjepit akibat adanya pembengkakan ini. Kondisi ini disebut Sindroma Carpal Tunnel, nama dari serabut cincin , yang mengelilingi pergelangan tangan dimana saraf lewat.

    Sindroma Carpal tunnel memberikan rasa kesemutan dan kurang sensitif di terutama pada jari tengah, manis dan kelingking pada tiap tangan serta rasa nyeri di jari telunjuk dan jempol. Jika blok sarafnya total maka seluruh jari2 seperti tidak terasa.

    Kondisi ini terutama terjadi di pagi hari, akibat akumulasi penumpukan cairan di malam hari saat tidur. Gejala sindroma ini semakin terasa saat kehamilan semakin besar.

    untuk mengatasinya sementara, angkat kedua tangan diatas kepala selama beberapa menit. Tekuk tangan dan pergelanagn, kembangkan jari tangan dan coba menggeliat serta memutar bahu untuk mengurangi tekanan pada saraf median. Jika tidak membantu maka bisa dipasang belat (splint) pada tangan (oleh dokter). Untuk mencegah saat tidur malam tangan ditinggikan dengan bantal.

    Dokter bisa meresepkan obat diuretik (pembuang air) serta dianjurkan diet rendah garam. Secara konservatif dokter juga memberikan vitamin B6 untuk mengobati kondisi ini, tapi sayangnya bukti yang menunjukkan vitamin ini bisa membantu penyembuhan. Sindroma ini biasanya hilang sendiri setelah bayi lahir. Jika masih terasa juga setelah bayi lahir dan dengan obat2an juga gak mau hilang, maka harus di operasi ringan .

    Pengobatan alternatif untuk sindroma ini diantaranya : Akupunktur, olah raga (meregangkan tangan), Massase didaerah pergelangan tangan, Osteopati, dan pijat Shiatsu.

    Rabu, 12 Januari 2011

    Kehamilan Postterm = Hamil Lewat Waktu = Hamil Lewat Bulan

    Lamanya kehamilan normal adalah sekitar 37-42 minggu, dan tanggal perkiraan persalinan adalah saat mencapai 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama periode menstruasi terakhir. Hamil cukup bulan (atterm)= 40 minggu jika penghitungan dilakukan dari hari pertama haid terakhir = HPHT (Last Menstrual Periode =LMP) atau 38 minggu jika didasarkan ovulasi ((EDC). Waktu ovulasi tidak selalu sama pada setiap wanita, maka secara praktikal dipakai cara yang pertama (Cukup bulan = 40 minggu = 280 hari). Hamil dikatakan lewat waktu jika sudah mencapai 42 minggu atau 294 hari. Baca posting : CARA BENAR MENGHITUNG USIA KEHAMILAN.

    Kehamilan postterm, juga disebut kehamilan lewat waktu, adalah kehamilan yang telah melampaui 42 minggu dari hari pertama periode menstruasi terakhir. Jumlah kejadiannya sekitar 10 persen dari kehamilan.

    Sangat penting untuk memastikan bahwa kehamilan sebenarnya postterm atau tidak. Idealnya, usia kehamilan yang akurat ditentukan di awal kehamilan. Pada wanita yang memiliki periode menstruasi yang teratur, HPHT dapat diandalkan dengan catatan haidnya terartur minimal 3 bulan terakhir sebelum kehamilan.

    Jika ada ketidakpastian HPHT, atau jika ukuran rahim lebih besar atau lebih kecil dari berdasarkan HPHT, usia gestasi janin dan tanggal persalinan dapat diperkirakan dengan pemeriksaan USG. Hasil pemeriksaan USG paling akurat bila dilakukan pada awal kehamilan, jika dilakukan pada paruh terakhir kehamilan kurang dapat diandalkan untuk memperkirakan taksiran persalinan.

    Pada umumnya, penyebab kehamilan postterm tidak diketahui. Ada beberapa faktor yang risiko. Kejadiannya lebih tinggi pada kehamilan pertama dan pada wanita yang memiliki riwayat kehamilan postterm sebelumnya. Faktor genetik juga mungkin memainkan peran. Satu penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko kehamilan postterm pada wanita yang lahir postterm.

    Kehamilan yang berlanjut melebihi 42 minggu memiliki risiko baik pada janin dan ibunya.
    Risiko bagi janin
    Kelahiran mati atau kematian neonatal - Insiden lahirn mati meningkat pada kehamilan yang berlanjut setelah 42 minggu. Namun, resiko relatif kecil, dengan hanya 4 sampai 7 kematian per 1000 kelahiran (di luar negri). Sebagai perbandingan, risiko kelahiran mati atau kematian bayi pada kehamilan antara 37 dan 42 minggu 2 sampai 3 per 1000 kelahiran.

    Ukuran bayi besar - Bayi2 postterm memiliki peluang lebih besar terkena komplikasi yang berkaitan dengan ukuran tubuh besar (bayi besar=makrosomia), yang didefinisikan sebagai berat lebih dari 4500 gram (sebelumnya 4000 gram). Komplikasi dapat berupa persalinan lama, persalinan macet dan sulit melewati vagina serta cedera pada bayi. (misalnya, patah tulang atau cedera saraf) yang berkaitan dengan kesulitan dalam melahirkan bahu (distosia bahu).

    Dismaturitas janin - Juga disebut "sindroma postmaturitas," ini mengacu pada janin yang mengalami gangguan pertumbuhan, biasanya karena masalah dengan pengiriman darah ke janin melalui plasenta. Plasenta janin yang sudah postterm biasanya sering mengalami penurunan fungsinya untuk memberikan oksigen dan makanan.

    Aspirasi Mekonium (Terhirup air ketuban) - kalau di kampung2 atau dikalangan masyarakat awam dikenal dengan terminum air ketuban (istilah yang salah, karena secara normal bayi minum air ketuban). Pada kehamilan postterm, akibat penurunan fungsi plasenta bayi sering ook didalam perut (mekonium) sehingga ketubannya bercampur mekonium (hijau) Jika sampai terhirup oleh bayi akan menyebabkan masalah pernapasan pada saat bayi lahir.

    Risiko untuk ibu - Risiko terhadap ibu terkait dengan ukuran bayi yang lebih besar pada kehamilan postterm, berupa kesulitan saat bersalin, peningkatan cedera pada kerampang (perineum) termasuk labia, vagina, dan rektum dan peningkatan persalinan dengan bedah Cesar.

    Perawatan
    Pemantauan janin antenatal - Pada umumnya, dokter akan merekomendasikan tes pada janin jika kehamilan melampaui taksiran persalinan. Tes ini memberikan informasi tentang kesehatan janin dan tentang risiko atau manfaat yang akan terjadi jika kehamilan dilanjutkan.

    American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG) menyatakan bahwa pemantauan janin hanya diperlukan setelah 42 minggu (294 hari) usia kehamilan, tetapi dokter kebidanan sudah memulai pengujian janin pada usia 41 minggu. Banyak ahli merekomendasikan pengujian dua kali seminggu, termasuk pengukuran volume cairan ketuban. Pemeriksaan berupa mengamati detak jantung janin 'menggunakan monitor janin (disebut nonstress-test =NST) atau mengamati aktivitas bayi dengan USG (disebut profil biofisik).

    Nonstress Tes (NST) - NST dilakukan dengan memantau detak jantung bayi dengan sebuah perangkat kecil yang diletakkan di perut ibu. Perangkat ini menggunakan gelombang suara (ultrasound) untuk mengukur denyut jantung bayi dari waktu ke waktu, biasanya untuk 20 sampai 30 menit. Frekuensi dasar (Baseline) detak jantung bayi harus antara 110 dan 160 denyut per menit dan harus meningkat minimal 15 denyut per menit selama 15 detik ketika bayi bergerak.

    Tes ini dianggap aman (disebut "reaktif") jika ditemukan dua atau lebih peningkatkan laju jantung janin (akselearsi) dalam jangka waktu 20 menit. Pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan jika kenaikan tidak ditemukan setelah pemantauan selama 40 menit.

    Profil biofisik (BPP) - Skor/nilai profil biofisik janin dihitung untuk menilai kesehatan janin. Terdiri dari lima komponen: Nonstress Tes dan 4 parameter pengukuran USG janin: gerakan tubuh janin, gerakan pernapasan, Gerakan anggota tubuh kaki, lengan, atau tulang belakang), dan volume cairan ketuban (AFI= Amniotic Fluid index). Setiap komponen dinilai , 2 poin jika normal dan 0 poin jika tidak normal. Total skor keseluruhannya10. Bayi dianggap sehat jika skor 8-10.

    Volume cairan ketuban merupakan variabel penting dalam BPP karena volume yang rendah (Oligo-hidramnion) dapat meningkatkan risiko terjadinya kompresi (penekanan) tali pusat. Jumlah air ketuban bisa berkurang dalam jangka waktu singkat (beberapa hari).

    Stress tes - Lengapnya stress tes kontraksi (CST) juga bisa dilakukan untuk menilai kesehatan janin. Caranya dilakukan melibatkan pemberian suatu obat (oksitosin) untuk ibu untuk merangsang kontraksi uterus, kemudian detak jantung janin dimonitor untuk melihat reaksinya terhadap kontraksi yang timbul. Jika denyut jantung janin melambat (deselearsi lambat dll memenuhi kriteria gawat janin) selama CST mungkin dibutuhkan persalinan dengan Cesar.

    Induksi persalinan - Dokter harus mempertimbangkan risiko dan manfaat untuk melanjutkan kehamilan, hasil tes (tesebut diatas), dan kondisi serviks (leher rahim). Biasanya, leher rahim mulai membesar (terbuka) dan mengalami penipisan menjelang akhir kehamilan. Induksi persalinan lebih cenderung gagal pada wanita yang serviks-nya tidak melebar atau menipis (serviks matang), sehingga akhirnya persalinan harus di akhiri dengan operasi.

    Tren sekarang, induksi sudah mulai dilakukan pada usia kehamilan 41-42 minggu jika tidak terjad persalinan secara spontan. Jika serviksnya belum matang, maka bisa dilakukan pematangan serviks dengan pemberian obat (prostglandin dll) atau dengan menggunakan metode mekanis dengan memasang kateter Foley di leher rahim. Pada wanita yang serviksnya sudah matang dapat dilakukan induksi langsung dengan pemberian obat (oksitosin), yang diberikan via cairan infus. Persalinan bisa dipilih secara Cesar jika janinnya besar, memiliki riwayat persalinan dengan Cesar sebelumnya, atau alasan pilihan pribadi (on demand).

    Bayi postterm sering memiliki penampilan yang khas. Lengan dan kaki yang panjang dan tipis. Kulit tampak kering dan mengelupas dan kadang-kadang terjadi pewarnaan pada kulit (kuning-kehiajuan). Kulit tampak longgar, terutama paha dan bokong, rambut lebih panjang atau lebih tebal, dan kuku yang panjang. Bayi terlihat "waspada" (mata terbuka, terbelalak) dan terlihat "tua".

    Beberapa penelitian telah dilakukan secara jangka panjang pada bayi-bayi postterm (misalnya, pertumbuhan, pola perkembangan dan kecerdasan) secara umum hasilnya tidak berbeda dengan bayi yang lahir dalam batas cukup bulan (atterm)

    Sabtu, 23 Januari 2010

    Serviks inkompetens

    Pada keadaan tertentu pemendekan dan penipisan leher rahim (serviks) terjadi secara dini pada kehamilan yang bukan disebabkan oleh proses persalinan, melainkan akibat lemahnya struktur serviks. Hal ini disebut serviks inkompeten.Lemahnya struktur serviks ini bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi, yang mana terbanyak akibat cedera (injury)sebelumnya pada serviks atau karena kelainan bawaan.

    Perhatikan gambar tengah...


    Akibat lemahnya struktur, maka serviks tidak mampu menahan bobot kehamilan. Akibatnya serviks membuka walaupun tanpa adanya kontraksi, kadang2 sampai membuka lengkap. Akibat terbuka maka selaput ketuban akan menonjol dan bahkan pecah jauh sebelum bayi bisa hidup di dunia luar (prematur).

    Faktor risiko serviks inkompeten adalah: riwayat serviks inkompeten pada kehamilan sebelumnya, pembedahan, cedera leher rahim, pemberian obat DES (dietilstilbestrol) , dan kelainan anatomi leher rahim. Penyebab lain termasuk kauterisasi serviks (untuk menghilangkan pertumbuhan atau menghentikan pendarahan) dan biopsi kerucut.

    Wanita dengan serviks tidak kompeten biasanya sering dengan gejala minimal saat terjadi dilatasi leher rahim antara 16 dan 28 minggu kehamilan. Awalnya pembukaan hanya 2 cm atau lebih. Ketika leher rahim mencapai 4 cm atau lebih, rahim berkontraksi atau pecah ketuban dapat terjadi.

    Diagnosis dibuat dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan USG. Setelah didiagnosis, kondisi ini dapat diobati melalui prosedur pembedahan yang disebut cerclage (jahitan menutup leher rahim). Satu atau lebih jahitan ditempatkan di sekitar atau melalui leher rahim agar tetap tertutup rapat.

    Hal ini biasanya dilakukan setelah minggu kedua belas kehamilan, tetapi tidak dilakukan jika ada pecahnya ketuban atau infeksi. Setelah operasi, sang ibu dipantau dengan hati-hati untuk memeriksa infeksi dan kontraksi, yang kadang-kadang disebabkan oleh prosedur ini. Setelah pulang dari rumah sakit, pasien dapat tetap aktif. Cerclage biasanya dibuka sebelum melahirkan sehingga pasien dapat melahirkan normal. Dalam beberapa kasus, cerclage dapat dibiarkan pada tempatnya, dan bayi ini kemudian dilahirkankan dengan operasi caesar.

    OPERASI CERCLAGE

    Sabtu, 02 Januari 2010

    Hamil di luar kandungan

    Hamil di luar kandungan (ektopik) terjadi jika hasil pembuahan menanamkan diri di tempat yang tidak biasanya. Tempat penanaman normal adalah di rongga rahim. Selain dari tempat ini disebut hamil ektopik. Hampir sebagian besar kasus hamil ektopik terjadi di saluran telur (tuba), sehingga dinamakan kehamilan tuba.

    Saluran tuba tidak dirancang untuk menahan embryo yang tumbuh, sehingga jika ditemukan kehamilan ektopik maka harus segera diobati. Jika hamil ektopik ini mengalami pecah dan berdarah maka hal ini disebut kehamilan ektopik terganggu (KET). Yang terakhir selalu membutuhkan tindakan operasi.

    Kehamilan ektopik (KE) dapat disebabkan oleh:
    • Infeksi atau peradangan inflamasi saluran tuba sehingga menyebabkan sumbatan sebagian atau permukaannya tidak mulus bagi lewatnya sel telur/hasil pembuahan.
    • Jaringan parut akibat infeksi sebelumnya.
    • Adanya riwayat pembedahan panggul sehingga terjadi perlengketan tuba.
    • Bentuk tuba yang tidak normal akibat bawaan lahir.
    Berikut ini adalah kondisi yang akan meningkatkan risiko KE:
    Usia antara 35-44 tahun
    Riwayat KE sebelumnya
    Riwayat pembedahan panggul atau perut
    Ada infeksi rongga panggul (PID)
    Abortus buatan (provokatus)sebelumnya
    Hamil setelah ligasi tuba atau hamil dengan IUD
    Pasien yang mengalami KE baru akan merasakan gejala setelah hamilnya pecah alias KET:

    Nyeri di seluruh perut akibat adanya darah dalam rongga abdomen. Nyeri bisa dirasakan sampai leher dan bahu.
    Perdarahan per-vagina bisa dikit atau banyak.
    Gejala2 saluran pencernaan seperti mula muntah.
    Lemah, pusing bahkan sampai pingsan.


    Pasien dicurigai KET jika didapatkan hami muda dengan nyeri perut. Namun kondisi ini bisa mirip dengan keguguran (abortus).

    Pemeriksaan yang dapat dilakukan selain pemeriksaan fislk adalah:
    Pemeriksaan kadar hormon HcG, didapatkan lebih rendah dari usia kehamilan.
    Kuldosentesis, yaitu dilakukan penusukan dengan jarum pada puncak vagina bagian belakang untuk mendeteksi adanya darah.
    Dan tentu saja pemeriksaan dengan USG.


    Jika KE ditemukan dalam pemeriksaan rutin (masih KE) maka diberikan Methotrexate (MTX) agar kehamilannya rusak dan diserap oleh tubuh dan tidak merusak tuba.
    Jika sudash terjadi KET maka jalan satu2nya adalh dengan tindakan operasi emergensi. Operasi bisa dengan laparotomi (emembuka perut) atau dengan Laparoskopi saja tergantung sarana atau tenaga yang ada.

    Sabtu, 19 Desember 2009

    Tes Toleransi Glukosa (GTT= Glucose Tolerance Test)

    Wanita hamil juga bisa mengalami diabetes yang dinamakan Diabetes Gestational (DMG = diabetes yang hanya muncul saat hamil). DMG bisa menimbulkan risiko pada ibu dan bayi. Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi kelainan ini. Yang pertama disebut Glucose Challenge Screening, pemeriksaan pendahuluan saat usia hamil 26-28 minggu.

    Jika hasil pemeriksaan ini positif, pemeriksaan kedua dilakukan yang disebut Glucose Tolerance Test. Pemeriksaan inil akan mentukan / mendiagnosis apakah ada diabetes atau tidak bersarkan efektifitas pemakaian gula oleh tubuh.

    Glucose Challenge Screening sekarang sudah menjadi standar pemeriksaan yang dilakukan pada awal trimester ke III. Pemeriksaan ini tidak membutuhkan persiapan. Saat pemeriksaan bumil hanya disuruh meminum minuman yang manis dan dilakukan pemeriksaan gula darah satu jam kemudian.

    Tes ini menilai bagaimana tubuh memproses gula. Kadar gula yang tinggi memperlihatkan bahwa tubuh tidak bisa memproses gula secara efektif dan tes dikatakan positif. Jika test ini positif, maka pada bumil dilakukan tes selanjutnya yaitu Glucose Tolerance Test (GTT). Karena tidak semua wanita yang tes Glucose Challenge Screening-nya positif akan menajdi DMG dengan pemeriksaan selanjutnya.

    Sebelum dilakukan Glucose Tolerance Test, bumil diminta untuk makan sekurang-kurangnya 150 mg karbohidrat selama 3 hari berturut-turut, selanjutnya berpuasa (hanya boleh minum) selama 14 jam menjelang pemeriksaan. Sehingga test biasanya dilakukan pagi hari.

    Kemudian akan diukur kadar gula darah puasa. Selanjutnya bumil disuruh mengkonsumsi glukosa. Kemudian kadar gula akan diukur setiap jam selama 3 jam berturut-turut. Berikut ini merupakan hasil GTT yang tidak normal berdasarkan American Diabetes Association :

    Interval

    Hasil Tidak Normal

    Puasa

    95 mg/dl atau lebih

    1 Jam

    180 mg/dl atau lebih

    2 Jam

    155 mg/dl atau lebih

    3 Jam

    140 mg/dl atau lebih


    Jika hanya satu hasil yang tidak normal, maka bumil dianjurkan merubah pola diet serta dilakukan ulangan pemeriksaan selanjutnya. Jika 2 atau 3 tidak normal, maka bumil akan didiagnosis dengan Diabetes Gestational dan pada bumil akan dilakukan tindakan pengobatan. Mengobati diabetes dalam kehamilan amat sangat penting untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya.

    Source: americanpregnancy.org

    Selasa, 10 November 2009

    Letak Muka

    Letak kepala yang biasa (terbanyak) saat persalinan adalah letak ubun-ubun kecil. Jika letak kepalanya tidak normal maka disebut malposisi. Salah satunya adalah letak muka. Pada letak muka, kepala dan leher janin hiperekstensi (tengadah) sehingga menyebabkan ubun-ubun kecil bayi mendekati/menyentuh punggungnya.

    Bagian terbawah janin adalah wajah antara dagu dan jidat bagian atas. Sebagai penunjuk letak muka adalah dagu. Sehingga saat dilakukan pemeriksaan dalam, pemeriksa akan mencari di mana posisi dagu (sesuai posisi angka jam).

    Letak muka terjadi 1 dalam setiap 250-690 kelahiran hidup, rata-rata 0.2% atau 1 dalam 500 kelahiran hidup secara keseluruhan. Faktor-faktor penyebab letak muka sama dengan penyebab kelainan letak secara umum serta hal-hal yang menyebabkan fleksi kepala (menunduk).

    Beberapa faktor yang bisa menyebabkan letak muka: panggul sempit dan disproporsi Kepala Panggul (DKP=CPD)berperan sekitar 10-40% kasus letak muka. Multiparitas (banyak anak) atau perut yang besar/longgar menurunkan tonus rahim, sehingga menyebabkan letak muka. Lilitan tali pusat yang banyak atau adanya pembesaran kelenjar gondok janin menyebabkan kepala janin ekstensi (tengadah). Anencefali (janin yang nggak punya batok kepala)ditemukan pada 30 kasus letak muka.

    Penentuan letak kepala bisa dibuat secara klinis dengan pemeriksaan perut Leopold manuver dan atau pemeriksaan dalam (VT) atau pemeriksaa USG atau rontgen.

    Saat dilakukan pemeriksaan dengan Leopold manuver, penonjolan kepala berada pada sisi yang sama dengan punggung janin serta adanya indentasi (cekung) diantara kedua bagian tersebut. Labih mudah lagi mendiagnosisnya saat persalinan dengan pemeriksaan dalam, teraba bagian2 muka seperti: mulut, hidung, tulang orbita.

    Tetapi bagi pemeriksa yang belum berpengalaman kadang bisa keliru dengan letak bokong (sungsang), karena mulut bisa mirip dengan anus serta tulang sekitar mata (orbita) bisa keliru dengan perabaan sakrum (tulang ekor). Untuk itu kadang diperlukan pemeriksaan USG.

    Gerakan persalinan pada letak muka tidak mirip sepenuhnya dengan persalinan letak belakang kepala. Janin letak muka memulai persalinan dengan posisi alis duluan. Saat turun ke rongga panggul, maka kepala bisa fleksi atau ekstensi. Gerakan selanjutnya mirip dengan persalinan normal.

    Untungnya janin dengan letak muka posisi dagunya 60-80% di bagian depan (posisi jam 9 - jam 3), dagu melintang 10-12% dan dagu di belakang (jam 3 - jam 9)hanya 20-25%. Janin dengan dagu melintang biasanya akan berputar ke arah depan dan sekitar 25-33% dagu di belakang akan berputar ke depan.

    Penanganan proses persalinan mengikuti pola seperti letak belakang kepala. lamanya proses persalinan biasanya juga mengikuti letak belakang kepala, tetapi terkadang ada juga persalinannya yang memanjang. Selagi tidak ditemukan bahaya pada janin dan atau ibu maka persalinan bisa diteruskan.

    SC dilakukan jika persalinan macet/terhenti atau pola denyut jantung bayi yang tidak baik. Angka kesuksesan letak muka lahir secara normal pervaginam sekitar 60-70%, sisanya dilahirkan dengan SC. jika persalinan macet dengan pembukaan lengkap, maka dapat dilakukan bantuan persalinan dengan cunam/forsep.(Kalau pakai vakum ntar kayak Tukul wajahnya he he he gelakguling)

    Trauma janin akibat persalinan normal letak muka berupa pembengkakan tenggorokan dan kerongkongan bayi akan segera hilang sesaat setelah lahir. Pada kasus dengan tumor di leher kadang diperlukan intubasi (memasukkan tube ke jalan nafas). Sehingga persalinan harus selalu di dampingi oleh dokter anak.

    Gambar letak muka (KLIK DISINI) dan letak muka sesat akan keluar dari liang vagina (KLIK DISINI)

    Sumber : Emedicine

    Minggu, 08 November 2009

    Tali Pusat Menumbung (TPM)

    Tali pusat menumbung (TPM) merupakan kondisi emergensi kehamilan yang lumayan jarang terjadi, di mana tali pusat keluar duluan atau bersamaan dengan bagian terbawah bayi di jalan lahir. Kondisi ini bersifat mengancam nyawa bayi, karena tali pusat yang membawa oksigen ke bayi tersebut akan terjepit diantara bagian bayi dan jalan lahir.

    Terdapat 2 jenis TPM, pertama TPM yang jelas-jelas (nyata) menumbung, merupakan bentuk TPM yang paling sering, di mana tali pusat menonjol keluar lewat leher rahim atau sudah berada di dalam vagina, bahkan terlihat di bagian luar vagina. Selaput ketuban biasanya sudah pecah. Kedua, ancaman menumbung, di mana tali pusat mendahului bagian terbawah janin di jalan lahir, tetapi belum keluar dari leher rahim (apalagi ke vagina), karena selaput ketuban masih ada. Istilah yang di pakai adalah tali pusat terkemuka.

    Penyebab terbanyak adalah kelainan letak bayi, terutama letak lintang. Berikut ini adalah faktor risiko untuk terjadinya TPM :
    • Multiparitas (Kehamilan yang banyak)
    • Prematuritas (bayi kurang bulan) atau berat badan lahir rendah (BBLR)
    • Kelainan letak (sungsang, serong, lintang)
    • Bayi dengan kelainan bawaaan
    • Disproprsi kepala dengan panggul (DKP
    • Tumor di rongga panggul
    • Plasenta letak rendah
    • Hydramnion (air ketuban banyak)
    • Makrosomia (bayi besar)
    • Persalinan kembar (bayi ke 2)
    • Tali pusat yang panjang
    Penanganan kasus TPM jika bayi masih (bisa) hidup yang pertama : jika janin masih hidup ibu segera di letakkan dalam posisi nungging (knee-chest position) (KLIK UNTUK MELIHAT GAMBAR) atau telentang dengan bokong ditinggikan/kepala di rendahkan (KLIK UNTUK MELIHAT GAMBAR). Kedua posisi ini dimaksudkan agar tali pusat tidak terjepit menjelang dipersiapkannya operasi. Jangan mencoba untuk memasukkan kembali secara manual. Dilakukan operasi cesar segera. Persalinan pervaginam bisa dilakukan jika pembukaan sudah lengkap dan tidak ada kontra indikasi persalinan normal. Persalinan dipercepat dengan bantuan vakum atau forsep.

    Angka kematian bayi akibat TPM berkisar 91 permil. Penyebabnya sering akibat terjadinya prematuritas dan kelainan bawaaan. Sedangkan jika bayinya normal maka kematian biasanya disebabkan oleh asfiksia (bayi lahir biru, sesak nafas).

    Untuk mencegahnya dianjurkan untuk dirawat pada usia hamil 37-38 minggu pada pasien dengan kelainan letak (lintang, serong). TPM yang terjadi di RS biasanya lebih berhasil cepat ditolong. Demikian juga untuk kasus pecah ketuban dengan posisi non-kepala agar segera di rujuk ke RS. Sedangkan jika menghadapi persalinan, jangan melakukan pemecahan ketuban sebelum bagian terbawah janin sudah masuk.

    Sumber: http://www.patient.co.uk/

    Sabtu, 07 November 2009

    Panggul sempit

    Ada 2 definisi panggul sempit, yaitu secara anatomi dan secara obstetri. Secara anatomi berarti panggul yang satu atau lebih ukuran diameternya berada di bawah angka normal sebanyak 1 cm atau lebih. Pengertian secara obstetri adalah panggul yang satu atau lebih diameternya kurang sehingga mengganggu mekanisme persalinan normal.

    Pengertian ini jangan dicampur-adukkan dengan disproporsi (ke-tidak-seimbangan) secara umum. Contohnya panggul ukuran normal tetapi bayi ukurannya besar sehingga tidak seimbang antara ukuran bayi dengan jalan lahir. Panggul sempit tetap bayinya kecil/prematur maka masih bisa bayinya lahir secara normal.

    Faktor yang mempengaruhi ukuran dan bentuk panggul
    * Perkembangan: bawaan lahir atau keturunan.
    * Suku bangsa.
    * Nutrisi: gangguan gizi (malnutrisi)
    * Faktor hormon: kelebihan androgen menyebabkan panggul jenis android.
    * Metabolisme: ricketsia dan osteomalasia.
    * Trauma, penyakit atau tumor tulang panggul, kaki dan tulang belakang.

    Wanita dengan tinggi kurang dari 1,5 meter dicurigai panggul sempit (ukuran barat). Pada pemeriksaan kehamilan, terutama kehamilan anak pertama, kepala janin belum masuk pintu atas panggul di 3-4 minggu terakhir kehamilan. Bisa juga ditemukan perutnya seperti pendulum serta ditemukan kelainan letak bayi.

    Pada kehamilan pertama, biasanya dilakukan pemeriksaan kapasitas rongga panggul pada usia kehamilan 38-39 minggu, baik secara klinis (dengan periksa dalam /VT) atau dengan alat seperti jangka ataupun radio diagnostik (X-ray, CT-scan atau Magnetic resonance imaging (MRI).

    Berikut ini adalah cara untuk menilai panggul sempit secara klinis (dengan pemeriksaan dokter tanpa alat) :

    Metode Pinard
    o Pasien mengosongkan kandung kemih dan rektum.
    o Pasien dalam posisi semi duduk.
    o Tangan kiri mendorong kepala bayi kearah bawah belakang panggul sementara jari tangan kanan di posisikan di tulang kemaluan (simfisis) untuk mendeteksi ketidak seimbangan kepala dengan jalan lahir (disproporsi).

    Metode Muller - Kerr
    o Metode ini lebih akurat dalam mendeteksi disproporsi kepala dengan jalan lahir.
    o Pasien mengosongkan kandung kemih dan rektum.
    o Posisi berbaring telentang.
    o Tangan kiri mendorong kepala ke dalam panggul dan jari tangan kanan dimasukkan ke dalam vagina (VT) dan jempol kanan diletakkan di tulang kemaluan (kalau jari asia rada susah karena pendek he he tanduktanduktanduk).

    Derajat panggul sempit ditentukan oleh ukuran/jarak antara bagian bawah tulang kemaluan (os pubis) dengan tonjolan tulang belakang (promontorium). Jarak ini dinamakan konjugata vera (garis merah pada gambar di bawah ini).
    Dikatakan sempit Ringan: jika ukurannya 9-10 cm, Sempit sedang: 8-9 cm, sempit berat: 6-8 cm dan sangat sempit jika kurang dari 6 cm.

    Photobucket

    Untuk panggul sempit ringan masih bisa dilakukan persalinan percobaan sedangkan mulai sempit sedang dan seterusnya dilakukan persalinan dengan operasi cesar.

    Sumber : El-Mowaffi

    Selasa, 16 Juni 2009

    Pengapuran/Kalsifikasi Plasenta

    Kalsifikasi plasenta merupakan tanda menuanya plasenta, yang biasanya mulai terlihat pada kehamilan trimester III. Kalsifikasi secara USG akan terlihat sebagai bintik putih. Semakin tua kehamilan, maka jumlahnya semakin banyak. Tetapi bisa juga terjadi kalsifikasi yang dini, yang akan menurunkan jumlah nutrisi dan oksigen pada bayi.

    Kalsifikasi Plasenta sebetulnya adalah deposit kalsium pada plasenta. Deposit ini menyebabkan bagian plasenta yang ditempatinya "mati". Deposit ini bisa menyebabkan jaringan plasenta yang ditempatinya menjadi jaringan ikat. Depsoit ini juga bisa menyumbat pembuluh darah di plasenta.

    Tetapi jangan panik dulu, ternyata plasenta memiliki permukaan yang luas. Dibutuhkan kalsifikasi yang luar biasa banyak sekali untuk bisa membahayakan bayi. Kalsifikasi plasenta sendiri secara USG dikategorikan menjadi 4 grade. Grade : 0 = tidak ditemukan kalsifikasi ; 1 = terlihat sedikit gambaran kalsifiaksi ; 2 = ditemukan dengan mudah kalsifikasi setengah lingkaran dan grade 3 = banyak ditemukan kalsifikasi berbetuk lingkaran.

    Jika terjadi kalsifiaksi plasenta Grade 3 terjadi pada trimester II, maka hal ini perlu mendapat perhatian. Biasanya untuk kasus seperti ini dilakukan pemantauan secara berkala pertumbuhan bayi untuk memastikan tidak adanya gangguan pertumbuhan.

    Penyebab pastinya belum diketahui, beberapa penelitian mendapatkan faktor penyebabnya adalah bumil yang merokok, sedangkan untuk menetralkan efeknya dengan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung antioksidan. (sayuran dan buah2an atau supelemen yang mengandung antioksidan).

    Jumat, 12 Juni 2009

    Air ketuban sedikit (=Oligohidramnion)

    Air ketuban memiliki beberapa peranan yang penting diantaranya melindungi bayi dari trauma, terjepitnya tali pusat, menjaga kestabilan suhu dalam rahim, melindungi dari infeksi, membuat bayi bisa bergerak sehingga otot2nya berkembang dengan baik serta membantu perkembangan saluran cerna dan paru janin.

    Ada beberapa definisi oligohidramnion yang dipakai diantaranya:
    * Berkurangnya volume air ketuban (VAK)
    * Volumenya kurang dari 500 cc saat usia 32-36 minggu
    * Ukuran satu kantong (kuadran) < 2 cm
    * Amniotic fluid index (AFI) < 5 cm atau < presentil kelima

    VAK tergantung dari usia kehamilan, sehingga definisi terbaik adalah < presentil kelima.

    VAK meningkat secara stabil saat kehamilan, volumenya sekitar 30 cc pada 10 minggu dan mencapai puncaknya 1 Liter pada 34-36 minggu, yang selanjutnya berkurang. Rata-rata sekitar 800 cc pada 40 minggu. Pengurangan volume maksimal bisa mencapai 150 cc/minggu pada usia hamil 38-43 minggu.

    Tiga hal utama yang berperan adalah VAK adalah(1) regulasi normal aliran air ketuban dari janin, (2) pergerakan air dan bahan2 yang larut didalamnya serta menembus membran (3) Efek ibu pada pergerakan cairan menembus plasenta.

    Sumber ketuban yang berperanan adalah pipis bayi yang merupakan sumber utama air ketuban dalam TM II. Sumber lain adalah cairan yan berasal dari paru janin serta rongga hidung janin.

    Oligohidramnion diakibatkan oleh banyaknya cairan yg hilang ataupun kurangnya produksi urin janin. Secara umum oligohidramnion berhubungan dengan salah satu kondisi dibawah ini:
    * Pecahnya selaput ketuban.
    * Kelainan bawaan pada saluran ginjal dan atau saluran kemih janin.
    * Produksi pipis janin yang kurang secara kronis.
    * Hamil lewat waktu (Postterm)

    Oligohidramnion lebih sering ditemukan pada kehamilan yang sudah cukup bulankarena VAK biasanya menurun sat hamil sdh cukup bulan. Ditemukan pada sekitar 12 % kehamilan yang mencapai 41 minggu.

    Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan USG yaitu dengan mengukur indeks caira ketuban (Amniotic Fluid Index= AFI). Tetapi secara klinis (dengan pemeriksaan fisik) bisa diduga dengan : pengukuran tinggi rahim dari luar serta bagian bayi yang mudah diraba dari luar (didinding perut ibu). Namun hal ini hanya berupa asumsi/dugaan saja, tetap haris dikonfirmasi dengan USG.

    USG juga bisa melihat anantomi janin untuk melihat kelainan seperti ginjal yang tidak tumbuh (dengan tidak terlihatnya pipis di kandung kemih janin). Serta untuk mengetahui adanya gangguan pertumbuhan janin. Pemeriksaan dengan spekulum dapat dilakukan guna mendeteksi adanya kebocoran air ketuban akibat pecahnya air ketuban.

    Oligohidramnion didefinisikan sebagai AFI yang kurang dari 5 cm. Karena VAK tergantung pada usia kehamilan maka definisi yang lebih tepat adalah AFI yang kurang dari presentil 5 ( lebih kurang AFI yang <6.8 cm saat hamil cukup bulan).

    VAK merupakan prediktor kemampuan janin menghadapi persalinan, karena kemungkinan tali pusat terjepit antara bagian bayi dan dinding rahim meningkat tatkala air ketuban sedikit. Hal ini akan menimbulkan gawat janin serta persalinan diakhiri dengan bedah cesar.

    Jika terjadi oligohidramnion sebeleum cukup bulan, dilakukan perawatan secara ekspektatif tergantung kondidi bayi dan ibu, sedangkan jika terjadi pada hamil cukup bulan, dilakukan pengakhiran kehamilan (terminasi) sesuai dengan kondisi kematangan leher rahim. Jika matang dilakukan induksi persalinan.

    Jumlah air ketuban bisa ditambah drai luar dengan melakukan amnioinfusion. Cairan NaCl hangat atau sesuai suhu ruangan dimasukkan lewat leher rahim. Sehingga akan menurunkan angka cesar pada kasus oligohidramnion.

    Jumat, 15 Mei 2009

    Penyakit Gondok dalam kehamilan

    Kelenjar gondok (thyroid) disebut juga Buah Apel Adam, berlokasi pada daerah leher bagian depan. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang juga sesuai dengan nama kelenjarnya, yang fungsinya mengatur metabolisme tubuh.
    Hormon thyroid penting dalam mengatur energi tubuh, penggunaan vitamin serta hormon lain dan pertumbuhan serta maturasi jaringan tubuh. Penyakit kelenjar gondok (PKG) bisa akibat dari kurangnya produksi hormon (hypothyroid) atau berlebihnya produksi hormon (hyperthyroid).

    Hypothyroid dalam kehamilan
    Diagnosisnya sulit karena wanita dengan hypothyroid biasanya susah hamil (gangguan kesuburan). Diagnosis berdasarkan klinis juga sulit dilakukan karena gejala2 klinis hipotyroid seperti kelelahan, penambahan berat badan, kesemutan dll juga ditemui pada wanita hamil normal lainnya.

    Hypothyroid dalam kehamilan yang tidak terdiagnosa, meningkatkan risiko terjadinya kematian janin (lahir mati) atau gangguan pertumbuhan janin. Juga meningkatkan risiko pada ibu berupa anemia (kurang darah), eklampsia (tensi tinggi plus kejang) dan lepasnya ari2 sebelum waktunya (solusio plasenta).

    Barangkali kelompok terbesar wanita yang akan mengalami hypothyroid dalam kehamilan adalah mereka yang sedang menjalani pengobatan/terapi sulih thyroid. Dosis thyroxine selama hamil idealnya dinaikkan 25-50% selama kehamilan. Untuk itu perlu dilakukan pengecekan rutin kadar T4 dan TSH selama kehamilan.

    Hyperthyroid dalam kehamilan.
    Diagnosis hyperthyroid dalam kehamilan terjadi 1 dalam 2000 kehamilan. Jika hyperthyroidnya ringan, maka gejala klinisnya tidak jelas, karena wanita hamil juga mengalami gejala yang sama. Namun demikian jika mengalami gejala penurunan berat yang signifikan, muntah2 dan peningkatan tekanan darah dan nadi (persisten), sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah akan adanya hyperthyroid. Hyperthyroid yang tidak diobati dapat menyebabkan penambahan berat badan yang kurang/rendah.

    Pengobatan hyperthyroid dalam kehamilan dipergunakan obat2an seperti Propylthiouracil (PTU) atau methimazole (Tapazole) yang merupakan obat lapis pertama (first line). Kedua obat ini sama efekifitasnya serta tidak meningkatkan risiko efek samping jika dikonsumsi saat hamil.

    Iodine dapat masuk lewat plasenta, sehingga penggunaannya untuk scan kelenjar ini dilarang saat kehamilan. Salah satu hal yang positif pada wanita hamil dengan hyperthyroid adalah membaiknya Grave's disease atau Hashimoto thyroiditis disaat kehamilan.

    Penyakit gondok paska persalinan.
    Beberapa wanita bisa mengalami peradangan thyroid yang terjadi dalam 3-6 bulan paska melahirkan. Juga bisa terjadi setelah keguguran. Gambaran awal klinik klasiknya berupa adanya gejala hypo terus hyper akhirnya normo-thyroid (normal). Wanita dengan diabetes type I memiliki risiko 25% terkena gangguan thyroid paska melahirkan.

    Penyebab Hypothyroid
    * Kehilangan jaringan thyroid : akibat operasi atau rusak akibat radiasi.
    * Antibodi Antithyroid: bisa terjadi pada penderita diabetes atau Lupus, rheumatoid arthritis, chronic hepatitis, atau Sjogren syndrome.
    * Bawaan lahir
    * Gangguan produksi: Hashimoto thyroiditis.
    * Obat-obatan: beberapa obat bisa menyebabkan hypothyroid misalnya lithium (Eskalith, Lithobid).

    Penyebab Hyperthyroid
    * Grave's disease: suatu kelainan thyroid yang bersifat auto-imun, artinya ada zat tertentu dalam darah (TSI) yang merangsang thyrod sehingga membesar dan menghasilkan hormon yang berlebihan.

    * Peradangan kelenjar thyroid (thyroiditis): misalnya Quervain thyroiditis atau Hashimoto thyroiditis. Peningkatan produksi hormon akibat reaksi peradangan (inflamasi).

    * Tumor kelenjar hipofise (Pituitary adenoma): tumor ini menyebabkan peningkatan TSH (Thyroid Stimulating Hormone)sehingga menyebabkan hyperstimulasi thyroid.

    * Hyperthyroid akibat obat2an (drug induced): sering disebabkan oleh obat jantung yang dinamakan amiodarone (Cordarone). Bisa dicegah dengan memantau ketat efek samping obat serta mempertimbangkan untung ruginya pemakaiaj obat ini.

    Gejala2 hypothyroid pada bayi:
    * Konstipasi (susah BAB)
    * Gak mau makan
    * Gangguan pertumbuhan
    * Kuning
    * Capek deh...(kelelahan yg berat)

    Gejala2 hypothyroid pada anak2:
    * Mirip gejala org dewasa
    * Capek
    * Gangguan pertumbuhan
    * Begok banget di sekolah

    Gejala hypothyroid pada orang dewasa:
    Awal
    * Mudah capek dan kelehlahan
    * Gak tahan dingin
    * Konstipasi
    * Nyeri di lengan (Carpal tunnel syndrome)

    Lanjut
    * Kurang nafsu makan
    * Penambahan BB
    * Kulit kering
    * Rambut rontok
    * Penurunan intelektual
    * Suara serak
    * Depresi
    * Gangguan haid atau haid menjadi kurang

    Gejala hyperthyroid pada anak2:
    * Mirip gejala orang dewasa
    * Kepandaian menurun
    * Gangguan tingkah laku

    Gejala hyperthyroid pada orang dewasa:
    * Susah tidur (Insomnia)
    * Tremor (Gemetaran)
    * Gugup (Nervous)
    * Merasa kepanasan pada suhu normal atau dingin
    * Gerakan usus meningkat
    * Penurunan berat badan
    * Keringat berlebihan
    * Gangguan haid (terhenti)
    * Nyeri sendi
    * Susah konsentrasi
    * Mata kelihatan melotot

    Pemeriksaan Lab
    * Thyroid-stimulating hormone (TSH): Jika hyper maka kadar TSH biasanya rendah.
    * Free (T4): T4 tinggi memperlihatkan adanya hyper.
    * Triiodothyronine (T3): T3 tinggi memperlihatkan adanya hyper.
    * TSH receptor antibody (TSI): antibodi ini ada pada Grave's disease.
    * Antithyroid antibodi: antibodi ini ada pada Hashimoto dan Grave's disease.

    Thyroid scanning: test ini gak boleh dilakukan pada wanita hamil. Sejumlah iodine disuntikkan ke dalam darah, alau dilakukan scanning kelenjar thyroid. Jika uptake-nya meningkat maka menunjukkan adanya hyperthyroid.

    USG thyroid: membantu membedakan type nodul pada kelenjar thyroid.

    Aspirasi jarum halus: jarum kecil ditusukkan pada kelenjar thyroid dengan tujuan memperoleh sampel pemeriksaan PA.

    Obat2an untuk hyperthyroid
    * Beta-blockers: mengurangi tremor, gugup dan agitasi. Juga menurunkan frekuensi detak jantung.

    * Propylthiouracil (PTU): obat ini mem-block pembentukan hormon thyroid.membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memperoleh efek terapi yang sempurna.

    * Methimazole (Tapazole): kerjanya juga mem-block pembentukan hormon thyroid.

    * Iodide (Larutan Lugol): obat ini bekerja menghambat lepasnya hormon dari kelenjar yg over-produksi.

    Obat2 untuk hypothyroid
    * L-thyroxine (Synthroid, Levoxyl, Levothroid, Unithroid): obat ioni merupakan terapi sulih hormon thyroid. Merupakan bentuk sintetik dari thyroxine.

    * L-triiodothyronine: jarang dipakai karena efeknya gak sebagus L-thyroxine.

    * Thyroid extract: kurang dianjurkan karena T3 nya lebih banyak serta kadar T3/T4 nya bervariasi.

    Pembedahan
    Pembedahan untuk hyperthyroid yaitu dengan mengangkat/membuang jaringan yang thyroid yang membesar. Risiko tindakan ini yaitu bisa merusak saraf pita suara dan kelenjar para thyroid (yang mengatur kadar kalsium tubuh). Hypothyroidism bisa juga terjadi akibat tindakan. Jika terjadi persisten hyperthyroid maka seluruh kelenjar harus diangkat. Namun di tangan seorang ahli bedah yang berpengalaman, komplikasi di atas jarang terjadi.

    Minggu, 26 April 2009

    Vanishing Twin

    Vanishing Twin kalau diterjemahkan artinya kurang lebih kembar yang hilang/lenyap. Hilangnya terjadi saat didalam perut. Dimana awalnya saat USG pertama janin dikatakan kembar, saat kontrol pada bulan-bulan berikutnya hanya tinggal satu saja.Vanishing twin bisa menimbulkan gejala-gejala pada ibunya, sehingga ada istilah Sindroma Vanishing Twin.

    Kelainan ini pertama kali diketahui pada tahun 1945. Hal ini terjadi akibat matinya/abortus salah satu kembar. Jaringan janin yang mati kemudian diserap oleh janin yang masih bertahan, plasenta atau ibu. Sehingga kesannya janinnya menghilang (vanish)

    Dahulu sebelum ada USG, diagnosa Vanishing Twin dapat diketahui dengan cara pemeriksaan plasenta bayi yang dilahirkan (patolog). Sekarang dapat dengan mudah diketahui sat USG di awal kehamilan terdiagosis dua janin (kembar) dan pada saat kontrol selanjutnya ternyata janinnya tinggal satu.

    Diagnosisnya semakin sering, karena adanya penggunaan USg di awal kehamilan. Angka kejadiannya diperkirakan sekitar 21-30% dari kehamilan kembar. Penyebabnya sering tidak diketahui. HAsil analisa plasenta dan jaringan janin sering memperlihatkan adanya kelainan/abnormalitas kromosom, sementara janin yang bertahan biasanya normal. Implantasi tali pusat yang tidak normal, juga bisa jadi penyebab.

    Jika kejadiannya di TM I,baik ibu maupun janin yang tinggal/hidup biasanya tidak memperlihatkan gejala/tanda2 klinis. Prognosis janin yang tinggal biasanya sempurna, tetapi tergantung pada faktor2 yang menyebabkan matinya janin yang satunya. Jika kejadian nya pada TM II atau III, terjadi peningkatan risiko janin yang tinggal. Hal ini berupa risiko Cerebral Palsy dan ancaman terhadap kelangsungan kehamian.

    Jika kematian janin terjadi Setelah periode embryonik (8 minggu), air dalam jaringan kembaran, cairan ketuabn, dan jaringan plasentanya akan diserap. Hal ini akan menyebabkan gepengnya (flattening)kembar yang matiakibat tekanan dari janin yang hidup. Saat kelahiran, janin yang tertekan ini dikenal dengan istilah fetus compressus atau fetus papyraceous

    Gejalanya seperti gejala abortus bisa ditemukan berupa perdarahan, kontrkasi, nyeri rongga panggul. Jika kejadiannya di TM I maka ibu dan janin yang hidup, maka tidak diperlukan pengobatan. Jika kematian janin terjadi pada TM II dan III, Kehamilan harus ditangani sebagai kehamilan risiko tinggi.

    Jika fetus papyraceus tetap ada, kehamilan harus dipantau secara seksama dengan melakukan USG serialguna menilai keadaan janin yang satunya lagi. Risiko yang terjadi berupa kelhiran prematur, persalinan yang macet, atau matinya janin yang masih bertahan akibat lepasnya plasenta atau infeksi. Janin yang hidup juga berisiko mengalami berat badan lahir rendah. Juga diawasi kemungkinan gangguan pembekuan darah pada ibu (consumptive coagulopathy. Vanishing Twin yang tidak ada komplikasi tidak memerlukan penanganan apa2.

    Dilatasi dan kuretasu (D&C) dapat dilakukan jika konfirmasi dengan USG mendapatkan tidak ada lagi janin yang hidup.

    Selasa, 10 Februari 2009

    HELLP Syndrome

    HELLP nya sedikit plesetan dari HELP biggrin, karena memang jika mengalami kondisi ini sangat mebutuhkan pertolongan/pengobatan segera. Sesuai dengan namanya sindroma merupakan kumpulan dari gejala/tanda. HELLP merupakan singkatan dari Hemolisis (pecahnya sel darah merah), Elevated Liver enyme (meningkatnya enzim2 di hati akibat kerusakannya) dan Low Platelet count (menurunnya kadar sel trombosit, mudah berdarah dan sulit membeku).

    Kondisi ini merupakan komplikasi dari preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan disertai bengkak pada kaki serta bocornya protein lewat pipis)/eklampsia (preeklampsia plus kejang). Kondisi ini sering timbul pada trimester III kehamilan.

    Diklasifikasikan ringan-beratnya berdasarkan kadar trombositnya. Derajat satu jika kadar trombosit masih diatas 100, Derajat II : 50 - 100 ribu dan derajat III : kurang dari 50 ribu. Untuk informasi, perdarahan spontan (mimisan, perdarahan gusi, bercak2 dikulit, perdarahan via anus dll) baru timbul jika kadar trombosit kurang dari 20 ribu. Derajat ini gunanya untuk memprediksi prognosa (baik/buruknya) perjalan penyakit.

    Pengobatan yang terbaik adalah mengakhiri kehamilan sesegera mungkin setelah diagnosa ditegakkan, selambat2nya dalam 48 jam pertama, sering bayi harus dilahirkan kurang bulan. Dapat diberikan kortikosteroid dosis tinggi berupa dexametason 2 kali 10 mg. Transfusi jika terjadi anemia dan perdarahan. Kondisi penyakitnya akan membaik setelah 2-3 hari paska melahirkan.

    Tidak ada cara pencegahannya, jika ibu sudah mulai mengalami kenaikan tekanan darah, maka harus rajin memeriksakan diri, serta segera menemui dokter jika merasakan adanya kelainan (sakit kepala) , mata kabur atau nyeri ulu hati.

    Rabu, 10 Desember 2008

    Hepatits B dan Kehamilan

    Infeksi virus hepatitis B dapat menyebabkan masalah kesehatan. Seseorang yang terinfeksi virus ini mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda terinfeksi, namun dapat menularkannya pada kepada orang lain.

    Infeksi virus hepatitis B merupakan masalah khusus pada wanita hamil. Tidak hanya wanita hamil sendiri yang menghadapi infeksinya, juga dapat menularkan virus ke bayinya kira2 1 dalam 500-1000. Wanita hamil lebih mungkin terinfeksi tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.

    Virus hepatitis B adalah salah satu dari sejumlah virus yang menyerang dan merusak hati. (Jenis lain termasuk hepatitis A, hepatitis C, dan hepatitis D). Hepatitis B Virus ini menularkan dari orang ke orang dengan cara yang terinfeksi cairan tubuh. Cairan tubuh termasuk: darah, semen, cairan vaginal dan air ludah.

    Virus dapat menyebar melalui hubungan seks. Virus juga dapat menular kepada seseorang yang terkontak dengan darah dari orang yang terkena. Hal ini dapat terjadi dalam berbagai cara, misalnya dengan berbagi jarum dengan seseorang yang terinfeksi virus. Virusnya juga dapat tertular selama proses pertolongan persalinan.

    Penyakit ini dapat bersifat kronis (jangka panjang). Hepatitis kronis dapat mengancam kehidupan. Orang dengan hepatitis kronis bisa mengalami komplikasi , seperti sirosis dan kanker hati.

    Gejala-gejala hepatitis dapat berupa

    * Kelelahan
    * Kehilangan nafsu
    * Mual
    * Penyakit kuning (kulit dan mata)
    * Pipis jadi berawarna gelap
    * Rasa nyeri di hati
    * Nyeri2 otot

    Sering setelah terkena hepatitis ini seseorang menjadi kebal (imunitas alami) tetapi ada juga yang tidak menjadi kebal, tetapi tidak menunjukkan tanda infeksi. Orang ini disebut carrier (pembawa). Carrier dapat menularkan ke orang lain. Seorang wanita yang carrier dapat menularkn virus ke bayi saat lahir.

    Ketika wanita hamil yang terinfeksi virus hepatitis B, ada kesempatan akan tertularnya janin. Apakah bayi akan mendapatkan virus tergantung pada saat terjadinya infeksi. Jika terjadi di awal kehamilan, kesempatannya kurang dari 10% akan tertular virus. Jika terjadinya infeksi ibu diakhir kehamilan , maka 90% kesempatan bayi akan terinfeksi.

    Hepatitis dapat parah pada bayi. Hal ini dapat mengancam kehidupan mereka. Bayi baru lahir yang terinfeksi memiliki risiko tinggi (hingga 90%) menjadi carrier dan dapat menularkan ke orang lain. Ketika mereka menjadi dewasa, bayi carrier memiliki 25% risiko mati akibat sirosis hati atau kanker hati.

    Ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terinfeksi hepatitis B virus. Salah satunya adalah seks yang aman. Penggunaan kondom saat berhubungan seks dapat membantu mencegah infeksi virus hepatitis B dan penyakit menular seksual (STD) lainnya, seperti HIV/AIDS.

    Siapa yang harus menjalani pemeriksaan ?
  • Semua wanita hamil saat ANC pertama kali harus di cek HBsAg.
  • Setiap wanita yg akan melahirkan yang tidak menjalani pmeriksaan HBsAg saat kunjungan ANC-nya.
  • Lebih dari 90% dari perempuan ditemukan HBsAg positif pada rutin pemutaran film akan
  • Semua rentan kontak (termasuk semua anggota keluarga) dengan panel hepatitis B (HBsAg, antiHBc, antiHBs).
  • Skrining dan vaksinasi yang rawan kontak harus dilakukan

  • Interpretasi hasil panel HBV :
    tabel interprestasi hbv
    Source: CDC

    Perlakuan pada pasien infeksi HBV akut adalah terapi supportive. Dapat diberikan interferon-alpha atau lamivudine. Interferon tidak berdampak negatif pada janin. Lamivudine bersifat teratogenic pada TM I. Boleh digunakan mulai TM II untuk mencegah penularan perinatal.(ACOG)

    Selasa, 09 Desember 2008

    Mioma uteri dan kehamilan

    Ada sebagian kecil wanita hamil yang mengidap mioma/fibroid, mioma ini sebetulnya nggak menimbulkan masalah terhadap bayi yang dikandung. Selama kehamilan ukurannya memang bisa membesar, akibat meningkatnya aliran darah ke uterus/rahim. Karena pertumbuhannya membutuhkan tempat, maka desakannya menimbulkan gejala berupa nyeri, rasa tidak nyaman dan rasa ada yg menekan. Pada umumnya fibroid akan mengecil kembali paska melahirkan.

    Fibroid bisa meningkatkan risiko keguguran, persalinan kurang bulan dan kelainan letak bayi (sungsang atau lintang). Kadang kalau ukurannya sangat besar bisa menghalangi pembukaan rahim serta menghalangi penurunan bayi, maka dibutuhkan operasi cesar. Perdarahan paska persalinan harus juga di antisipasi.

    Sering tidak dibutuhkan terapi apa2 mioma dalam kehamilan. Jika timbul nyeri atau rasa tidak nyaman paling dokter hanya menganjurkan istirahat saja. Sangat jarang dilakukan operasi pengangkatan mioma (miomektomi) saat kehamilan. Jika sampai terjadi maka persalinan harus dilakukan cesar.

    Rabu, 03 Desember 2008

    Diabetes Dalam kehamilan

    Pengertian: kehamilan yang menginduksi (mencetuskan) diabetes (= Gestational Diabetes Melitus = GDM). Kadar gula darah 140-200 mg % pada saat dilakukan test pembebanan glukosa (Glucose Tolerance Test = GTT) pada saat kehamilan 24-30 mg. Sedangkan diabetes dengan kehamilan adalah dijumpainya kadar gula darah > 200 mg% didalam dan diluar kehamilan (Diabetesnya sudah ada sebelum hamil)

    Kadar gula darah yang melebihi batas normal dapat menyebabkan bayi menjadi besar, bisa juga menyebabkan gangguan pertumbuhan akibat rusaknya sel-sel pembuluh darah dan kelainan bawaan akibat gula yang berlebihan meracuni sel bibit bayi (germinal).

    Kematian janin bisa terjadi akibat adanya keadaan yang disebut ketoasidosis akibat pemecahan lemak. Kadar gula yang terkontrol bisa memberikan hasil yang sama dengan hamil normal umumnya. Kadar gula yng tinggi harus segera di kontrol dengan diet dan atau pemakaian insulin.

    Wanita yang berisiko terkena gestasional diabetes adalah: Hamil diatas usia 30 tahun, gemuk, ada riwayat diabetes dalam keluarga, mengalami diabetes pada kehamilan sebelumnya, memiliki riwayat keguguran berulang, memiliki riwayat resistensi insulin sebelum hamil, pernah melahirkan bayi diatas 4 kg, pernah mengalami pre-eklampsia, pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau meninggal dengan secara tidak jelas.

    Penataan berupa pengontrolan kadar gula darah antara 80 -120 mg % baik dengan atau tanpa insulin, serta pengobatan standar berupa diet dan olah raga ringan. Bayi diusahakan dilahirkan pada kehamilan 38 minggu kecuali terdapat penyulit berupa: preeklampsia, ketoasidosis, kelainan kongenital, maka kehamilan sesuai indikasi kelainan tersebut.

    Persalinan pervaginam atau pun perabdominam tergantung kondisi ibu dan bayi.

    Senin, 01 Desember 2008

    Air Ketuban Banyak (Hydramnion= polyhidramnion = Kembar Air)

    Polyhidramnion atau disingkat hidramnion saja didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana jumlah air ketuban melebihi 2 liter. Sedangkan secara klinik adalah penumpukan cairan ketuban yang berlebihan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Sedangkan secara USG jika Amniotic Fluid Index (AFI)>20 atau lebih.

    Kasusnya berkisar 0.5 - 1 % dari kehamilan. Multigravida (hamil >1) lebih sering daripada primigravida (hamil pertama). Penyebabnya (1) Adanya kelainan pada bayi seperti anencefali, spina bifida, Sumbatan saluran makanan bayi, tumor dileher bayi dll (2) Kelainan plasenta: adanya tumor pada plasenta (3) Kehamilan kembar (4) Penyakit ibu seperti: Diabetes, kelainan ginjal atau jantung.

    Berdasarkan waktu terjadinya hydramnion terbagi 2 yaitu akut (sangat jarang sekali) dan kronis (ini yang lebih sering, ini yang akan dibahas duluan)

    Gejala yg dirasakan ibu adalah: susah bernafas, berdebar2 dan bengkak pada kaki. Saat diperiksa perut ibu tampak tegang dan mengkilat. Tinggi rahim melebihi usia kehamilan serta bagian2 janin sulit diraba dari luar. Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti USG untuk menilai AFI, jumlah bayi, letak bayi dan deteksi kelainan kongenital bayi.

    Kompliaksi yang bisa tejadi adalah: Pre-eklampsia, KPD, Persalinan kurang bulan, perdarahan pra-persalinan.

    Penataan bedasarkan berat ringannya penyakit. Untuk yang ringan hanya dilakukan bedest, dan diharapkan kelebihan air ketuban akan segera menghilang seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

    Untuk yang berat ada 3 prinsip utama : 1. Hilangkan gejala 2. Cari penyebab 3. Atasi/hindari komplikasi. Penataan berupa bedrest, diet rendah garam, serta obati penyakit dasar jika ada seperti diabetes atau preekalmpsia. Cari kelainan bawaan janin. Jika ada kelainan bawaan biasanya dilakukan terminasi kehamilan (di Indonesia kayaknya nggak boleh). Sedangkan jika bayinya tanpa cacat bawaan selanjutnya dinilai respon terhadap pengobatan. Jika respon baik lanjutkan kehamilan dan obati komplikasi. Tetapi jika tidak respon dan ada stress janin, hamil kurang dai 37 minggu dilakukan penyedotan cairan (amniosentesis), sedangkan jika hamil sudah 38 mingguan dilakukan amniosentesis dan induksi persalinan (terminasi).

    Sabtu, 08 November 2008

    Blighted Ovum (BO)

    Blighted Ovum (BO) adalah kehamilan tanpa janin (anembryonic pregancy), jadi cuma ada kantong gestasi (kantong kehamilan) dan air ketuban saja (lihat gambar).

    Kejadiannya pada trimester I kehamilan. Penyebabnya adalah kelainan kromosom (kualitas sel telur yang tidak bagus.) Tubuh wanita secara otomatis bisa mendeteksi adanya kelainan ini sehingga tidak meneruskan pertumbuhan kehamilannya, yang tetap tumbuh cuma kantong kehamilan saja.

    Akibat tidak adanya janin, maka tubuh juga secara otomatis akan berusaha mengeluarkannya secara alami sehingga timbul kontraksi dan perdarahan layaknya gejala abortus iminens (keguguran mengancam), makanya kudu di USG dulu sebelum diberikan obat2an penahan atau penguat. Kalau BO jelas saja nggak perlu diberikan obat apa2.

    Penanganannya ada dua aliran. Yang pertama ada yang membiarkan saja untuk keluar sendiri atau aliran lain yaitu dilakukan D&C (Dilatation and Curretage). DC dilakukan bisa dengan memasang laminaria 12-24 jam dilanjutkan dengan kuret atau langsung dikuret dengan memakai dilatator (bougie) sebelumnya.

    Prosdur D & C